Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti. (Dok. Istimewa)
Sementara itu, Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti mengatakan, pertumbuhan ekonomi DIY pada triwulan IV tahun 2025 tercatat sebesar 5,49 persen (C-to-C). Ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi triwulan IV tahun 2024 yang hanya sebesar 5,03 persen (C-to-C).
Perekonomian DIY utamanya didukung oleh lima sektor utama yang menyumbang sekitar 52,29 persen terhadap total ekonomi, yaitu industri pengolahan, akomodasi dan makan minum, pertanian, kehutanan, perikanan, konstruksi, serta informasi dan komunikasi, termasuk jasa pendidikan.
“Laju inflasi DIY sampai dengan Maret 2026 yakni 4,08 persen (y-on-y), dan masih dalam kondisi terkendali. Namun demikian, perlu diwaspadai potensi tekanan inflasi ke depan dipengaruhi oleh faktor musiman, seperti hari besar keagamaan, serta kondisi cuaca yang dapat berdampak pada harga komoditas,” katanya.
Terkait dengan investasi berkelanjutan di kawasan selatan DIY, Made mengatakan, kebijakan ini berpijak pada UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional yang terkait integrasi SDGs, serta Permendagri Nomor 86 Tahun 2017 yang berkaitan dengan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS). Selain itu, ada pula Perda DIY Nomor 10 Tahun 2024 terkait blue economy dan hilirisasi perikanan, serta Pergub DIY Nomor 19 Tahun 2025 terkait rencana aksi ekonomi hijau.
Made menjelaskan, ketimpangan investasi utara-selatan di DIY bukanlah sebuah kebetulan geografis, melainkan hasil interaksi kompleks antara faktor historis, keterbatasan bio-geofisik, dan keunikan sistem agraria. Wilayah utara (Sleman dan Kota Yogyakarta) telah mengunci keuntungan aglomerasi melalui keunggulan modal manusia dan infrastruktur pendidikan yang mapan, sementara wilayah selatan (Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul) harus berhadapan dengan biaya operasional tinggi akibat pemenuhan izin dasar di sisi lingkungan dan keruangan, masalah air bersih di kawasan karst dan risiko bencana pesisir
“Karenanya, investasi di masa depan harus diarahkan pada sektor-sektor yang selaras dengan karakteristik lokal wilayah selatan, seperti pariwisata berkelanjutan di kawasan Geopark, industri pengolahan hasil laut atau pertanian modern di selatan. Perluasan mindset investasi kepada semua OPD pun perlu dilakukan, karena investasi merupakan tanggung jawab bersama semua pihak,” ujarnya.