Peneliti Senior Pusat Studi dan Logistik (Pustral) UGM, Arif Wismadi.(IDN Times/Herlambang Jati)
Jika melihat di daerah seperti Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Arif mengungkapkan DIY kondisinya relatif baik, namun adanya pothole (lubang), masih sering ditemui pada bulan-bulan tertentu. Di awal tahun umumnya jalan mulus lebih banyak karena kontrak pemeliharaan baru saja berakhir. Pothole terjadi diawali kerusakan kecil yang sebenarnya bisa langsung ditangani, namun karena kontrak per tahun, maka lubang kecil menjadi besar akibat tergerus hujan dan dilintasi kendaraan berat. "Biaya pemeliharaan akan menjadi lebih besar, atau tidak mencukupi dengan kebutuhan yang semestinya," terang Arif.
Arif menyebut DIY juga terdampak sistem pemeliharaan kontrak tahunan, meski tidak sama dengan kondisi daerah lain yang kondisi fiskalnya terbatas. Solusi yang ditawarkan Arif adalah penerapan kontrak tahun jamak dengan berbasis kinerja (perfomance based contract) untuk menjamin kemantapan jalan sepanjang tahun.
"Hal ini bisa dilaksanakan dengan pemberdayaan masyarakat. Misalnya melibatkan 1 warga sekitar setiap 1 km untuk menjaga drainase, tanaman dan melaporkan jika ditemukan kerusakan kecil ataupun besar. Di setiap 5 km, disediakan satu orang yang dapat memperbaiki secara langsung setiap kerusakan kecil. Untuk kerusakan besar, pemerintah bisa menyiapkan layanan pemeliharaan yang bisa dimobilisasi tiap saat. Tidak usah menunggu kerusakan kecil menjadi membesar," kata Arif.