Seorang warga yang tidak mengenakan masker melintas, di depan mural yang berisi pesan waspada penyebaran virus Corona di kawasan Tebet, Jakarta, Selasa (8/9/2020). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Meski pemerintah dan penyelenggara pemilu akan mengetatkan protokol kesehatan, sejumlah pihak sangsi itu akan berhasil saat pelaksanaan pllkada. Alasannya,, dengan situasi tahapan pilkada serentak yang menimbulkan kerumunan massa, sangat mustahil bagi masyarakat bisa mematuhi standar protokol kesehatan COVID-19.
"Kita sudah berulang kali sarankan supaya pemerintah menunda Pilkada tahun 2020. Sebab, situasinya memang gak menguntungkan. Apalagi selama pandemik, angka penularan virus corona justru semakin tambah banyak, grafiknya makin hari terus meningkat," kata Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Tafsir saat berbincang dengan IDN Times via sambungan telepon, Kamis (24/9/2020).
Ia mengaku pesimistis Pilkada 2020 bisa digelar dengan mematuhi protokol kesehatan dengan standar COVID-19. Yang ada, kata Tafsir, justru akan banyak masyarakat yang akan mengabaikan protokol kesehatan virus corona.
"Kemungkinan kecil warga akan patuhi protokol kesehatan (COVID-19). Kita lihat mustahil dengan tahapan Pilkada yang sering mengundang banyak massa, mereka akan mentaati aturan protokol kesehatan. Pasti akan dilanggar soalnya mengatur orang sebanyak itu gak akan mungkin bisa," ungkapnya.
Pihaknya menyatakan salah satu perilaku warga yang tak bisa dikendalikan selama pandemik yaitu ketika warga ikut tahapan coblosan di lokasi tempat pemungutan suara (TPS).
Lebih lanjut, ia menyampaikan jika Pilkada 2020 tetap dipaksakan digelar saat pandemik virus corona, sebaiknya Presiden Jokowi mengambil alih komando penanganan COVID-19 di Indonesia. Menurutnya hal tersebut dilakukan supaya proses penanganan kasus virus corona di tiap daerah bisa jelas dan terukur.
"Kita hanya bisa beri saran dan masukan. Kalau toh pemerintah tetap ngotot gelar pilkada, kita minta biar pengendalian kasus COVID-19 diserahkan saja kepada pak presiden. Sehingga nantinya bisa diatur supaya penanganan protokol kesehatan diterapkan dengan ekstra ketat," bebernya.
Ketua Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah, Sholahudin Aly menyatakan mestinya pemerintah menunda kontestasi Pilkada serentak 2020 karena harus ada kajian ulang untuk mengatur penerapan protokol kesehatan COVID-19 bagi peserta Pemilu.
"Kita telah meminta pemerintah mempertimbangkan untuk ditunda. Mengingat Jateng ini kan termasuk daerah dengan angka COVID-19 tertinggi. Apalagi, ada penyelenggara pemilu di Boyolali terpapar COVID-19," ujar Gus Sholah, sapaan akrabnya saat dikontak IDN Times, Kamis (24/9/2020).
Pendapat berbeda justru dilontarkan Wakil Rais PWNU Jateng, KH Abu Hafsin. Ia menilai menyelenggarakan Pilkada 2020 dengan protokol kesehatan bukanlah hal yang rumit.
Pihaknya menyampaikan Pilkada serentak tetap harus digelar tahun ini agar masyarkat mendapat legalitas birokrasi yang jelas.
"Kalau kita biarkan masalah COVID-19 berlarut-larut, nanti kondisinya jadi menggantung. Gak baik buat keputusan yang mempengaruhi kepentingan orang banyak. Saya beda pandangan dengan PBNU bahwa kontestasi Pilkada 2020 jangan ditunda. Tetap dilanjutkan tapi harus memakai protokol kesehatan COVID-19 yang ekstra ketat," katanya.