Peneliti UGM Pakai Lempung Olah Kotoran Sapi Jadi Energi Alternatif

Sleman, IDN Times - Mineral lempung bisa digunakan sebagai katalis untuk mengolah kotoran sapi menjadi bio oil sebagai sumber energi alternatif. Temuan itu didasarkan pada riset yang dilakukan
Peneliti sekaligus dosen Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Hanifrahmawan Sudibyo. Hanifrahmawan melakukan riset bersama dengan Budhijanto PhD (Departemen Teknik Kimia, FT UGM) dan Dr Eng Adhika Widyaparaga (Departemen Teknik Mesin dan Industri, FT UGM).
Menurut Hanifrahmawan, riset mendalam pengembangan katalis berbasis mineral lempung untuk mengolah limbah biomassa, khususnya kotoran sapi, dilakukan mengingat jumlahnya cukup besar di Indonesia.
"Harapannya penelitian ini nantinya bisa menghasilkan terobosan yang bermanfaat bagi industri-industri terkait," kata Hanifrahmawan, Jumat (13/10/2023).
1. Jumlah sapi potong capai 19 juta ekor

Hanifrahmawan mengatakan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah sapi potong di Indonesia lebih dari 19 juta ekor pada tahun 2022.
"Jika diasumsikan bahwa setiap ekor sapi menghasilkan sekitar 87 kilogram (kg) kotoran basah setiap hari dengan kadar air 90 persen, maka secara keseluruhan terdapat sebanyak 570 juta ton kotoran sapi (wet basis) per tahun di Indonesia," katanya.
2. Anaerobic digestion bisa mengolah kotoran sapi menjadi biogas

Hanifrahmawan menambahkan salah satu teknologi untuk mengolah kotoran sapi menjadi biogas yang kaya gas metan adalah dengan anaerobic digestion. Biogas yang dihasilkan, kata dia, selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan bakar, sumber panas, dan sumber energi pembangkit listrik, serta dapat disuntikkan ke jaringan gas alam setelah dimurnikan.
Namun, kata Hanifrahmawan, anaerobic digestion masih menghasilkan residu yakni digestate berupa campuran basah matriks organik dan anorganik yang kaya serat lignoselulosa yang tidak dapat dicerna dan nutrisi yang komposisinya sangat bergantung pada karakteristik substrat yang diproses. “Digestate itu biasanya dimanfaatkan sebagai pupuk dengan cara disebar langsung atau dikomposkan terlebih dahulu sebelum disebar di lahan pertanian dan padang rumput,” jelasnya.
3. Tim peneliti UGM berencana meneliti lebih dalam

Proses HTL pada penelitian ini, kata Hanifrahmawan, menggunakan sejumlah mineral lempung sebagai katalis.
Menurut dia, mineral lempung yang diuji merepresentasikan berbagai kelas filosilikat yaitui kaolinite, montmorillonite, talc, vermiculite, phlogopite, meixnerite, attapulgite, dan alumina. "Evaluasi yang komprehensif pun telah dilakukan terhadap berbagai mineral lempung yang tersedia secara alami dan komersial," ucapnya.
Tim peneliti UGM berencana untuk meneliti lebih dalam lagi mengenai pengembangan katalis berbasis mineral lempung ini untuk valorisasi berbagai limbah biomassa basah yang jumlahnya signifikan di Indonesia.

















