Pertemuan Pemkab Sleman dan Pemkab Banyuwangi. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Melihat potensi yang ada, Sekda Banyuwangi, Mujiono, menyebut Pemkab Banyuwangi memilih membangun pariwisata berbasis alam dan budaya sebagai lokomotif dan strategi utama pembangunan serta sebagai sarana konsolidasi semua potensi yang ada. "Kami kembangkan pariwisata dengan konsep ecotourism, yang menekankan aspek partisipasi warga setempat, community-based tourism, sehingga bisa berkelanjutan," ujar Mujiono.
Mujiono mengungkapkan dengan konsep yang ada, masyarakat tidak hanya menjadi objek pariwisata, tapi juga harus menjadi subjek. "Kami melarang pembangunan hotel di bawah bintang 3 di Banyuwangi, sebagai salah satu upaya untuk menggerakkan masyarakat, memberikan akses kepada rakyat untuk mengembangkan homestay," kata Mujiono.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga meluncurkan program "Hotel Asuh Homestay." Dalam program ini, hotel-hotel besar di Banyuwangi memberikan pendampingan kepada homestay milik masyarakat lokal, membantu mereka meningkatkan kualitas layanan dan mencapai standar tinggi. Program ini berhasil meningkatkan jumlah tamu yang menginap di homestay dan meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.
Budaya lokal juga menjadi perhatian utama Pemkab Banyuwangi sebagai daya tarik wisata. Mereka mengintegrasikan budaya lokal dalam arsitektur bangunan di Banyuwangi. Hotel-hotel, bangunan swasta berskala besar, dan kantor-kantor pemerintah diwajibkan memasukkan unsur ornamen arsitektur khas Banyuwangi. Tidak hanya itu, destinasi wisata dan ruang publik juga diperindah, termasuk aksesibilitas menuju Banyuwangi dan tempat-tempat wisata yang ada. Selain itu, Pemkab Banyuwangi menggelar berbagai event untuk menarik wisatawan. Pada tahun 2024 saja, ada 79 event yang direncanakan.