Pameran Uwuhmu Tekan Ndi Angkat Gerakan Warga Yogyakarta Olah Sampah

- Pameran "Uwuhmu Tekan Ndi" di Kedai Kebun Forum menjadi tempat dokumentasi perjalanan warga dalam mengelola sisa konsumsi sehari-hari
- Pameran menampilkan berbagai karya berbasis limbah dan peserta seperti Wuri Rahmawati dari Koperasi Makaryo Adi Kat
Yogyakarta, IDN Times – Penutupan TPA Piyungan yang selama ini menjadi lokasi pembuangan akhir bagi Kota Yogyakarta dan sekitarnya beberapa waktu lalu menimbulkan persoalan sampah hingga saat ini.
Masyarakat dan pihak lainnya juga diminta untuk membantu pemerintah dalam menangani permasalahan sampah di Kota Yogyakarta. Hal itu ditegaskan Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, saat membuka pameran “Uwuhmu Tekan Ndi” di Kedai Kebun Forum pada Senin (25/8/2025).
1. Dorong warga ikut memilah sampah

Wawan mengungkapkan sampah yang masuk setiap hari meningkat dari 180 ton menjadi lebih dari 250 ton, sementara kapasitas pengolahan hanya sekitar 180 ton.
Saat ini Pemkot Yogyakarta mengandalkan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Nitikan dengan kapasitas 65 ton per hari serta TPS di Terminal Giwangan. Keterbatasan lahan membuat pemerintah mendorong program Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas Jos) untuk memperkuat partisipasi warga dari rumah.
“Kami butuh masyarakat ikut memilah, bahkan mengolah sampah organik sendiri. Kalau hanya mengandalkan incinerator atau alat besar, sulit karena karakter sampah kota kita 80 persen basah. Jadi partisipasi warga itu kunci,” ujarnya dikutip lama resmi Pemkot Yogyakarta, Selasa (26/8/2025).
2. Pameran jadi ruang edukasi dan gerakan nyata

Direktur Kedai Kebun Forum, Yustina Neni, memaparkan pameran ini berfokus pada dokumentasi perjalanan warga dalam mengelola sisa konsumsi sehari-hari. Peserta yang terlibat berasal dari seluruh DIY, mulai individu, keluarga, kelompok, hingga komunitas.
“Kesulitan mengelola limbah itu nyata. Tapi justru kesulitan itulah yang memotivasi kami untuk menghadirkan pameran ini. Supaya kita saling menguatkan, tidak cepat putus asa, dan terus mencari cara kreatif mengurangi sisa konsumsi,” jelas Neni.
3. Warga berbagi pengalaman kelola sampah

Pameran menampilkan berbagai karya berbasis limbah, mulai dari foto, video, ecobrick, kerajinan plastik, kompos organik, hingga pertunjukan teater bertema sampah.
Salah satu peserta, Wuri Rahmawati dari Koperasi Makaryo Adi Katon, membagikan pengalamannya dalam mengolah sampah rumah tangga yang diangkut langsung dari rumah warga. Namun, ia menyebut masih ada kendala dalam mengatasi dominasi sampah organik dan residu.
“Setiap usaha pantas diapresiasi, sekecil apa pun. Karena dengan usaha bersama, kota ini bisa terhindar dari darurat sampah. Jika diperlukan untuk adanya kolaborasi kami siap bekerjasama dengan Pemerintah Kota Yogyakarta untuk menuntaskan permasalahan sampah di Kota Yogyakarta,” katanya.