Fenomena api misterius di rumah warga Seyegan, Sleman, sebabkan barang-barang di dalam rumah hangus terbakar. (IDN Times/Tunggul Damarjati)
Dua tim akademisi sempat menunjuk "tersangka" berbeda, yaitu gas metana dan hidrogen. Keduanya bisa saling berkaitan, dan memahami sifat masing-masing gas membantu menjelaskan mengapa fenomena di Seyegan bisa sepanas dan setiba-tiba itu.
Metana (CH4)
Metana adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau, dan sangat mudah terbakar, yang terdiri dari satu atom karbon dan empat atom hidrogen. Sebagai gas, metana hanya mudah terbakar bila konsentrasinya mencapai 5 hingga 15 persen di udara. Di luar rentang itu, campurannya terlalu tipis atau terlalu pekat untuk terbakar.
Metana diproduksi oleh alam dalam proses yang disebut metanogenesis. Lahan basah adalah penyumbang alami terbesar emisi metana, dan gas ini juga bisa muncul melalui kebocoran gunung lumpur, rawa, lahan persawahan, dan serangga seperti rayap. Ini cocok dengan temuan tim UPN, yang menduga area Seyegan dulunya adalah bekas rawa, dan gas metana tersimpan di dalam batuan lanau di bawah permukaan. Solar Industri
Hidrogen (H2)
Hidrogen memiliki perbedaan yang signifikan dari metana, dan cenderung lebih "agresif" sebagai bahan bakar. Hidrogen memiliki rentang ledakan antara 4 persen hingga 75 persen di udara. Artinya, sedikit saja kebocoran dapat dengan cepat mencapai titik ledak.
Mengutip WestAir Gases, Energi minimum untuk menyalakan hidrogen hanya sekitar 0,017 milijoule. Sebagai perbandingan, percikan statis kecil dari gesekan kaki di karpet bisa menghasilkan sekitar 10 milijoule, lebih dari 500 kali energi yang dibutuhkan untuk membakar hidrogen. Ini penjelasan kenapa gas hidrogen bisa terbakar bahkan dari percikan yang tidak akan mampu menyulut gas lain.
Satu hal lagi yang perlu diperhatikan: hidrogen terbakar dengan nyala yang hampir tidak terlihat di siang hari. Warna biru pucatnya baru kelihatan dalam kondisi gelap atau kalau ada kontaminan lain. Ini bisa menjelaskan kenapa sebagian kejadian di Seyegan tampak seperti barang "tiba-tiba gosong" tanpa ada nyala api yang jelas sebelumnya.
Dalam kasus Seyegan, tim UGM kini mengarah pada sumber yang lebih spesifik: limbah organik usaha pemotongan ayam di samping rumah Fia. Proses fermentasinya menghasilkan gas hidrogen, sementara material kaya fosfat seperti tulang dan bulu ayam menghasilkan gas fosfin yang sangat reaktif. Fosfin inilah yang diduga menjadi "penyulut alami" bagi hidrogen yang terakumulasi di ruangan. Sementara itu, temuan gas metana dari sungai sekitar 300 meter oleh tim UPN masih dalam kajian geofisika lebih lanjut, dan belum bisa dipastikan apakah berkontribusi langsung pada kejadian di dalam rumah.
*Artikel telah diperbarui pada 7 Juni 2026 berdasarkan hasil temuan terbaru.