Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Karakter Erupsi Efusif Gunung Merapi, Status Siaga Sejak 2020
Gunung Merapi (unsplash.com/Fadhila Nurhakim)
  • Gunung Merapi mengalami erupsi efusif sejak Januari 2021 dan berstatus Siaga Level III sejak November 2020, dengan magma perlahan membentuk dua kubah lava aktif.
  • Kubah lava yang tidak stabil dapat memicu guguran lava dan awan panas tipe Merapi, atau wedhus gembel, yang meluncur di lereng dengan kecepatan 60-100 kilometer per jam.
  • Meski tanpa ledakan besar, ancaman tetap tinggi; radius bahaya hingga tujuh kilometer dipertahankan karena suplai magma berlanjut dan awan panas susulan berpotensi terjadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Enam gunung berapi di Indonesia tercatat mengalami erupsi dalam waktu berdekatan sepanjang akhir Agustus hingga awal September 2026. Mereka adalah Gunung Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, Anak Krakatau, dan Sinabung. Di tengah rangkaian aktivitas vulkanik tersebut, Gunung Merapi turut tercatat mengalami erupsi pada 5 September 2026, meski dengan karakter letusan yang lain dari gunung-gunung lain.

Berbeda dari sejumlah gunung yang meletus disertai ledakan dan kolom abu tinggi, Merapi berada dalam fase erupsi efusif sejak awal 2021. Berikut karakteristik, sejarah letusan, dan fakta-fakta terkait erupsi efusif Merapi sejak status Siaga ditetapkan pada 2020.

Merapi termasuk gunung api strato dengan kubah lava aktif

potret gunung merapi (unsplash.com/@fdlnkm)

Gunung Merapi merupakan gunung api bertipe strato yang terbentuk dari akumulasi lava dan material vulkanik selama ribuan tahun. Magma Merapi bertipe andesit basaltik dengan kandungan silika berkisar 52 hingga 56 persen, karakteristik yang membedakannya dari sejumlah gunung api lain di Indonesia.

Ciri khas Merapi terletak pada kubah lava yang tumbuh di tengah kawah berbentuk tapal kuda di puncaknya. Ketika kubah tersebut tidak stabil dan mengalami longsoran, terbentuklah awan panas guguran yang meluncur di lereng gunung dengan kecepatan 60 hingga 100 kilometer per jam. Fenomena ini dikenal sebagai awan panas tipe Merapi karena menjadi karakteristik khusus gunung tersebut dibandingkan gunung api lain di dunia. Warga lokal sendiri menyebutnya sebagai wedhus gembel.

Berdasarkan indeks kekuatan letusan atau Volcano Explosivity Index (VEI), letusan Merapi umumnya berada pada skala 1-3 atau tergolong sedang. Menurut catatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Merapi memiliki periode letusan pendek setiap 4-5 tahun dan periode letusan panjang setiap 10-15 tahun.

Sejarah letusan Merapi, dari 1930 sampai erupsi dahsyat 2010

Rumah yang rusak di Desa Cangkringan, Sleman, akibat awan panas Gunung Merapi pada 2010. (commons.wikimedia.org/Crisco 1492)

Dalam catatan sejarah, letusan Merapi pada 1930 tergolong salah satu yang paling mematikan sepanjang sejarah gunung tersebut. Sejak periode itu, karakter letusan Merapi cenderung berubah menjadi lebih efusif, ditandai dengan aliran lava dan awan panas piroklastik yang oleh masyarakat sekitar kerap disebut "wedhus gembel".

Letusan yang paling banyak diingat publik adalah erupsi Oktober hingga November 2010. Berbeda dari karakter letusannya yang umum, erupsi tersebut tercatat sebagai yang terbesar sejak 1872 dengan VEI mencapai skala 4, jauh di atas rata-rata letusan Merapi. Awan panas erupsi ini bahkan meluncur sejauh 15 kilometer dari puncak, jarak terjauh yang pernah tercatat dalam sejarah letusan Merapi.

Erupsi 2010 memicu dampak yang signifikan. Ratusan ribu warga mengungsi, ribuan rumah mengalami kerusakan, dan ratusan orang meninggal dunia, termasuk juru kunci Merapi, Mbah Maridjan, yang memilih bertahan di kediamannya di Kinahrejo meski telah diimbau untuk mengungsi. Peristiwa tersebut menjadi salah satu rujukan penting dalam evaluasi mitigasi bencana gunung api di Indonesia.

Fakta-fakta erupsi efusif Merapi sejak status Siaga ditetapkan 2020

Gunung Merapi kembali melontarkan awan panas guguran pada Minggu (28/6/2026) malam. (Dok. Badan Geologi)

Status Gunung Merapi berada pada Level III atau Siaga sejak 5 November 2020, yang berarti status tersebut telah bertahan hampir enam tahun tanpa pernah diturunkan. Sejak 4 Januari 2021, Merapi resmi memasuki fase erupsi efusif, ditandai dengan keluarnya magma secara perlahan yang membentuk kubah lava, bukan melalui letusan eksplosif.

Hingga saat ini, Merapi memiliki dua kubah lava aktif, yaitu di kubah tengah kawah dan kubah barat daya, yang volumenya terus mengalami pertumbuhan meski dengan laju yang fluktuatif. Guguran lava dan awan panas guguran menjadi aktivitas rutin yang tercatat BPPTKG, dengan jarak luncur yang pada awal September 2026 tercatat mencapai lebih dari dua kilometer.

Meski berlangsung secara efusif, BPPTKG menegaskan kondisi tersebut tidak mengurangi tingkat ancaman. Radius bahaya tetap dipertahankan hingga tujuh kilometer pada sektor tertentu karena suplai magma dari dalam masih berlangsung dan berpotensi memicu awan panas susulan sewaktu-waktu. Masyarakat di sekitar lereng Merapi maupun wisatawan diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari BPPTKG sebelum beraktivitas di kawasan tersebut.

Demikian karakteristik, sejarah letusan, hingga sejumlah fakta terkait erupsi efusif Gunung Merapi yang masih berlangsung hingga saat ini, di tengah rangkaian aktivitas enam gunung api lain yang turut erupsi dalam waktu berdekatan. Meski karakter letusannya berbeda dan tidak menimbulkan ledakan besar, status Siaga yang bertahan hampir enam tahun ini tetap memerlukan kewaspadaan. Masyarakat diimbau untuk terus mengikuti informasi resmi dari BPPTKG maupun BPBD DIY guna mendapatkan pembaruan terkini seputar aktivitas Gunung Merapi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article