Gunung Merapi kembali melontarkan awan panas guguran pada Minggu (28/6/2026) malam. (Dok. Badan Geologi)
Status Gunung Merapi berada pada Level III atau Siaga sejak 5 November 2020, yang berarti status tersebut telah bertahan hampir enam tahun tanpa pernah diturunkan. Sejak 4 Januari 2021, Merapi resmi memasuki fase erupsi efusif, ditandai dengan keluarnya magma secara perlahan yang membentuk kubah lava, bukan melalui letusan eksplosif.
Hingga saat ini, Merapi memiliki dua kubah lava aktif, yaitu di kubah tengah kawah dan kubah barat daya, yang volumenya terus mengalami pertumbuhan meski dengan laju yang fluktuatif. Guguran lava dan awan panas guguran menjadi aktivitas rutin yang tercatat BPPTKG, dengan jarak luncur yang pada awal September 2026 tercatat mencapai lebih dari dua kilometer.
Meski berlangsung secara efusif, BPPTKG menegaskan kondisi tersebut tidak mengurangi tingkat ancaman. Radius bahaya tetap dipertahankan hingga tujuh kilometer pada sektor tertentu karena suplai magma dari dalam masih berlangsung dan berpotensi memicu awan panas susulan sewaktu-waktu. Masyarakat di sekitar lereng Merapi maupun wisatawan diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari BPPTKG sebelum beraktivitas di kawasan tersebut.
Demikian karakteristik, sejarah letusan, hingga sejumlah fakta terkait erupsi efusif Gunung Merapi yang masih berlangsung hingga saat ini, di tengah rangkaian aktivitas enam gunung api lain yang turut erupsi dalam waktu berdekatan. Meski karakter letusannya berbeda dan tidak menimbulkan ledakan besar, status Siaga yang bertahan hampir enam tahun ini tetap memerlukan kewaspadaan. Masyarakat diimbau untuk terus mengikuti informasi resmi dari BPPTKG maupun BPBD DIY guna mendapatkan pembaruan terkini seputar aktivitas Gunung Merapi.