Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Masuk Desil 1, Suwarno Pensiunan di Jogja Tak Lagi Peroleh Bansos
Suwarno (70), warga Jogoyudan, Gowongan, Jetis, Kota Yogyakarta, mempertanyakan statusnya yang tercatat dalam desil 10 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). (IDNTimes/Tunggul Damarjati)

  • Suwarno, lansia warga Yogyakarta, kehilangan bansos PKH sejak April 2025 dan baru mengetahui dirinya tercatat pada desil 10 DTSEN saat mencari penjelasan ke kelurahan.
  • Pensiunan pustakawan UII ini hidup sendiri dengan pensiun sekitar Rp900 ribu per bulan, menghadapi kelainan tulang belakang, serta tidak memiliki kendaraan pribadi maupun aset mencolok.
  • Suwarno menilai data kesejahteraan tidak akurat karena warga yang membutuhkan juga tak menerima bantuan, lalu meminta pemerintah melakukan verifikasi kondisi ekonomi secara faktual di lapangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Yogyakarta, IDN Times - Suwarno (70), warga Jogoyudan, Gowongan, Jetis, Kota Yogyakarta, mempertanyakan statusnya yang tercatat dalam desil 10 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).

Selain itu, bantuan sosial (bansos) Program Keluarga H arapan (PKH) yang selama ini diterimanya juga terhenti sejak April 2025. Hingga kini, belum ada kejelasan alasan bantuan tersebut tidak lagi cair.

Lansia yang menderita kelainan tulang belakang itu pun kini harus hidup dengan mengencangkan ikat pinggang.

1. Setahun lebih tak terima bansos, cek tiba-tiba desil 10

Ilustrasi Pemutahiran DTSEN dan Desil/ IDN Times Dini Suciatiningrum

Suwarno bercerita, bantuan PKH sebesar Rp600 ribu per tiga bulan itu terakhir diterima untuk periode Januari-Maret 2025. Memasuki April, bantuan tersebut tak lagi cair tanpa penjelasan yang ia ketahui.

"2025 bulan Januari sampai Maret. Dan Aprilnya itu sudah langsung dicut. Enggak, enggak tahu alasannya," kata Suwarno ditemui di rumahnya, Jumat (28/8/2026).

Setelahnya, Suwarno baru mengetahui dirinya masuk desil 10 setelah mendatangi kelurahan untuk mencari tahu penyebab bansosnya terhenti. Namun, pihak kelurahan, kecamatan maupun pendamping PKH tak dapat menjelaskan dasar penetapan tersebut.

"Katanya petugas gitu. Wah, berarti saya kaya dong. Harusnya saya punya mobil, punya motor, punya segalanya. Tapi faktanya kan tidak," ungkapnya.

2. Cuma andalkan pensiunan Rp900 ribu per bulan

Suwarno (70), warga Jogoyudan, Gowongan, Jetis, Kota Yogyakarta, mempertanyakan statusnya yang tercatat dalam desil 10 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). (IDNTimes/Tunggul Damarjati)

Ia pun mempertanyakan bagaimana kondisi ekonominya bisa dinilai masuk kelompok kesejahteraan tertinggi. Padahal, Suwarno kini hidup seorang diri di rumah warisan kakek. Istrinya meninggal pada 2010, sedangkan dua anaknya telah tinggal di luar kota.

Suwarno merupakan pensiunan pustakawan Universitas Islam Indonesia (UII) yang telah bekerja selama 25 tahun. Sejak pensiun pada 2011, ia mengandalkan uang pensiun sekitar Rp900 ribu per bulan.

Dengan penghasilan tersebut, Suwarno harus berhemat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Termasuk buat makan, listrik dan air.

"Bisa mengkalkulasi sendirilah. Jadi apa gitu," imbuh dia.

Rumah yang ditempatinya pun adalah bangunan warisan kakek yang sudah ditempati secara turun-temurun. Dia adalah generasi ketiga penghuni rumah tersebut. Lantai rumah bukan keramik, tapi masih menggunakan tegel. Bagian atap tampak telah menguning. Perabot elektronik di dalam rumah juga sangat terbatas. Hanya terlihat televisi dan sebuah kulkas rusak yang sudah berubah fungsi jadi tempat menyimpan piring.

Ia juga tidak memiliki kendaraan pribadi. Sepeda motor yang berada di depan rumahnya merupakan milik adiknya. Semasa bekerja, Suwarno terbiasa naik bus dan berjalan kaki.

3. Warga dirugikan ketidakakuratan data

Menurut Suwarno, ketidakakuratan data bukan hanya merugikan dirinya. Ia mengetahui warga lain yang kondisinya lebih membutuhkan bantuan justru tidak mendapatkannya.

"Di bawah saya itu banyak yang seperti itu dan tidak pernah dapat," bebernya.

Karena itu, dia berharap pemerintah melakukan verifikasi ulang secara faktual di lapangan. Dengan demkian, masyarakat dengan kondisi ekonomi memprihatinkan bisa kembali mengakses bantuan sosial.

"Saya sendiri aja yang kena itu tidak tahu. Desil itu dasarnya apa dan desil itu mulai dari mana," kata Suwarno.

Curated For You

Editorial Team

Related Article