Suwarno (70), warga Jogoyudan, Gowongan, Jetis, Kota Yogyakarta, mempertanyakan statusnya yang tercatat dalam desil 10 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). (IDNTimes/Tunggul Damarjati)
Ia pun mempertanyakan bagaimana kondisi ekonominya bisa dinilai masuk kelompok kesejahteraan tertinggi. Padahal, Suwarno kini hidup seorang diri di rumah warisan kakek. Istrinya meninggal pada 2010, sedangkan dua anaknya telah tinggal di luar kota.
Suwarno merupakan pensiunan pustakawan Universitas Islam Indonesia (UII) yang telah bekerja selama 25 tahun. Sejak pensiun pada 2011, ia mengandalkan uang pensiun sekitar Rp900 ribu per bulan.
Dengan penghasilan tersebut, Suwarno harus berhemat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Termasuk buat makan, listrik dan air.
"Bisa mengkalkulasi sendirilah. Jadi apa gitu," imbuh dia.
Rumah yang ditempatinya pun adalah bangunan warisan kakek yang sudah ditempati secara turun-temurun. Dia adalah generasi ketiga penghuni rumah tersebut. Lantai rumah bukan keramik, tapi masih menggunakan tegel. Bagian atap tampak telah menguning. Perabot elektronik di dalam rumah juga sangat terbatas. Hanya terlihat televisi dan sebuah kulkas rusak yang sudah berubah fungsi jadi tempat menyimpan piring.
Ia juga tidak memiliki kendaraan pribadi. Sepeda motor yang berada di depan rumahnya merupakan milik adiknya. Semasa bekerja, Suwarno terbiasa naik bus dan berjalan kaki.