Ilustrasi kegiatan posyandu. (ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas)
Siti menjelaskan, stunting merupakan kondisi tinggi atau panjang badan anak yang kurang dari dua standar deviasi dari rerata tinggi atau panjang badan kelompok usianya. Stunting dapat berdampak pada penurunan kemampuan kognitif, sistem imun yang lemah, dan perkembangan emosional yang kurang.
“Apabila seorang anak stunting tidak segera dilakukan upaya perbaikan status gizi, maka di masa dewasa tidak akan menjadi orang yang produktif, mudah sakit, dan menjadi beban baik bagi dirinya sendiri, keluarga, dan negara,” terangnya.
Kunci utama mengatasi stunting, menurut Siti adalah kecepatan deteksi dini, yang umumnya dilakukan oleh kader Posyandu. Namun, upaya deteksi dini stunting, hingga kini masih menghadapi sejumlah kendala.
"Banyak alat ukur panjang badan yang digunakan dibuat sendiri secara swadaya oleh masyarakat dan belum teruji validitasnya. Pada masa pandemik, kondisi ini semakin parah karena banyak posyandu harus ditutup untuk mencegah penularan sehingga sejumlah kader posyandu harus mendatangi rumah-rumah balita untuk melakukan pengukuran," katanya.