ilustrasi lihat ponsel (unsplash.com/Creative Christians)
Ia mengatakan kondisi tersebut terjadi hampir di seluruh lapisan masyarakat, baik di desa maupun di kota. Menurutnya, kebiasaan berkumpul sambil bercengkerama kini mulai tergantikan dengan aktivitas masing-masing di depan layar ponsel.
"Zaman dulu orang apa-apa belum ada handphone. Ngobrol sambil makan mie ayam, nge-hik (nongkrong), ngobrol. Sekarang bareng bapak ibunya anak ini makan bareng tapi pegang handphone sendiri-sendiri," katanya.
Di sisi lain, Wihaji mengingatkan orangtua tidak menyalahkan anak ketika komunikasi di dalam keluarga semakin sulit terjalin. Menurutnya, kesibukan orangtua juga menjadi faktor yang memengaruhi hubungan dengan anak.
Wihaji mengajak orangtua meluangkan waktu untuk berbincang dengan anak setiap hari. Ia menegaskan tidak menolak penggunaan telepon genggam, tapi meminta agar penggunaannya diimbangi dengan komunikasi yang lebih intens di keluarga.
"Saya berharap ayo sempatkan ngobrol sama anak. Ya handphone tetap lah. Wihaji tidak anti handphone tetapi sempatkan. Letakkan handphone sebentar," pesannya.
Wihaji mengungkap alasan Jogja menjadi salah satu lokasi kampanye kesehatan mental melalui Harganas. Yakni, karakteristiknya sebagai miniatur Indonesia yang sangat plural dan memiliki tantangan sosial yang beragam. Harapannya, dari Kota Gudeg lahir gerakan bersama untuk memperkuat ketahanan keluarga dan kesehatan mental generasi muda.
"Karena itu terus kita kampanyekan dan Yogyakarta menurut saya titik nol untuk kembali mengampanyekan tentang bagaimana kesehatan mental itu sangat penting dan tentu kita tidak kapok, tidak lelah untuk terus mengedukasi bahwa anak-anak kita ayo diajak ngobrol, ayo diajak diskusi," pungkasnya.