Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Nugas di Kafe Lebih Fokus? Ini Fakta Ilmiah Coffee Shop Effect

Kenapa Nugas di Kafe Lebih Fokus? Ini Fakta Ilmiah Coffee Shop Effect
ilustrasi nugas sambil nongkrong di kafe (freepik.com/benzoix)
Intinya Sih
  • Penelitian menunjukkan kebisingan sedang sekitar 70 desibel di kafe dapat memicu otak berpikir lebih kreatif dibanding suasana terlalu sepi atau terlalu bising.
  • Kafe berfungsi sebagai 'tempat ketiga' yang netral dan membantu otak beralih ke mode kerja tanpa beban psikologis seperti di kamar kos.
  • Otak mengasosiasikan kamar kos sebagai zona istirahat, sehingga sulit fokus bekerja di sana; lingkungan baru seperti kafe membantu memicu sinyal fokus.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Coba perhatikan isi kafe langganan kamu jam 8 malam. Hampir pasti separuh mejanya diisi mahasiswa dengan laptop terbuka, earphone sebelah nyantol, dan kertas revisi berserakan di samping gelas kopi yang sudah setengah dingin. Anehnya, kamar kos yang sepi, ber-AC, wifi kencang, justru jadi tempat paling susah buat mulai ngerjain tugas. Baru lima menit buka laptop, pikiran sudah lari ke kasur atau ke timeline media sosial.

Kalau kamu merasa relate, ini bukan cuma soal gengsi ikut tren nugas di kafe ala anak Jogja. Ada penjelasan di balik kebiasaan ini, dan sebagian bahkan sudah diuji lewat riset ilmiah. Fenomena ini dikenal dengan sebutan coffee shop effect, kondisi saat otak justru bekerja lebih baik di tengah keramaian kafe ketimbang di ruangan yang benar-benar sunyi. Berikut penjelasan ilmiahnya kenapa nugas di kafe lebih fokus.

1. Suara bising level sedang justru memicu otak berpikir lebih kreatif

ilustrasi mahasiswa sedang buat tugas di kafe (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)
ilustrasi mahasiswa sedang buat tugas di kafe (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)

Tim peneliti dari University of Illinois Urbana-Champaign yang dipimpin Ravi Mehta menguji pengaruh ambient noise atau kebisingan latar terhadap kemampuan berpikir kreatif lewat lima eksperimen berbeda. Hasilnya dimuat di Journal of Consumer Research pada 2012. Partisipan dibagi ke beberapa kelompok dengan tingkat kebisingan berbeda, mulai dari 50 desibel yang setara ruangan sepi, 70 desibel yang setara suasana kafe ramai, sampai 85 desibel yang setara suara blender atau lalu lintas padat.

Hasilnya, kelompok yang bekerja dengan kebisingan 70 desibel justru unggul di tes berpikir kreatif dibanding kelompok yang bekerja di ruangan sepi maupun yang kelewat berisik. Menurut Mehta, kebisingan level sedang membuat otak sedikit kesulitan memproses informasi di sekitarnya, dan kesulitan kecil ini justru mendorong otak berpikir lebih abstrak, bukan cuma terpaku pada detail. Efek inilah yang jadi alasan aplikasi seperti Coffitivity, yang isinya cuma rekaman suara obrolan dan denting cangkir kafe, tetap punya banyak peminat sampai sekarang.

Jadi kalau ide buat argumen esai atau sudut pandang baru buat skripsi lebih gampang keluar pas kamu duduk nugas di kafe yang rame, itu bukan sekadar perasaan. Itulah inti dari coffee shop effect.

2. Kafe berperan sebagai "tempat ketiga" yang bikin otak pindah ke mode kerja

ilustrasi nugas di kafe. https://pixabay.com/users/anhvanyds-19721150/
ilustrasi nugas di kafe. https://pixabay.com/users/anhvanyds-19721150/

Konsep ini datang dari sosiolog Ray Oldenburg lewat bukunya, The Great Good Place, yang terbit tahun 1989. Oldenburg membagi ruang hidup manusia jadi tiga: Rumah sebagai tempat pertama, kantor atau kampus sebagai tempat kedua, dan "tempat ketiga" yang sifatnya netral, santai, dan tidak terikat pada peran tertentu. Kafe jadi salah satu contoh paling umum dari tempat ketiga ini, sejajar dengan perpustakaan atau taman kota.

Karena statusnya netral, kafe tidak membawa beban psikologis seperti kamar kos yang penuh kasur dan zona nyaman buat rebahan. Begitu masuk kafe, otak langsung paham kalau kamu ada di sana untuk melakukan sesuatu, entah kerja, ngobrol, atau nugas, bukan buat tidur siang. Ini juga bagian dari kenapa nugas di kafe terasa lebih fokus dibanding di kamar sendiri.

3. Kamar kos dilabeli otak sebagai tempat istirahat, bukan tempat kerja

Tidur di kos.
ilustrasi tidur di kos (pexels.com/Ron Lach)

Ini bagian yang sering terjadi tapi jarang disadari. Manusia belajar mengaitkan satu ruang dengan aktivitas tertentu lewat proses belajar asosiatif. Karena kamar kos setiap hari dipakai buat tidur, rebahan, dan nonton series, lama-lama otak "mematok" ruangan itu sebagai zona istirahat. Begitu kamu coba nugas di kasur yang sama, sinyal yang keluar dari otak malah sinyal buat santai, bukan buat fokus.

Konsep ini berakar dari riset klasik context-dependent memory milik Godden dan Baddeley tahun 1975. Waktu itu, penyelam yang menghafal daftar kata di darat lebih gampang mengingatnya kalau diuji ulang di darat juga, sementara penyelam yang menghafal di bawah laut justru lebih gampang mengingat kalau diuji di bawah laut. Lingkungan tempat kita belajar ikut menempel pada proses berpikir, sehingga pindah ke ruang yang memang dikhususkan untuk kerja bisa membantu otak lebih cepat masuk mode fokus dibanding di ruang yang sudah penuh sinyal istirahat.

Perlu dicatat, sejumlah studi replikasi terhadap eksperimen Godden dan Baddeley menunjukkan hasil yang tidak selalu konsisten, jadi konsep ini bukan hukum pasti yang berlaku ke semua orang. Tapi sebagai penjelasan kenapa banyak orang susah fokus di kamar sendiri, argumen ini cukup masuk akal.

Jadi, kenapa nugas di kafe lebih fokus? Ini kesimpulannya

Nah, jika lain kali da yang bertanya kenapa kamu lebih memilih ngerjain revisi bab 3 di kafe daripada di kos, sekarang ada jawaban yang lebih meyakinkan dari sekadar "biar gak bosen". Ada kombinasi suara ambient yang pas, status kafe sebagai ruang netral, dan otak yang belum sempat mengasosiasikan meja kafe dengan rebahan. Itu semua yang bikin coffee shop effect terasa nyata buat banyak mahasiswa.

Meski begitu, efek ini ada batasnya. Kafe yang kelewat ramai, apalagi yang volumenya sudah menyaingi bunyi knalpot motor, justru bisa bikin fokus buyar, bukan bertambah. Jadi kalau dompet buat nugas di kafe lagi menipis, ada opsi lebih murah: putar rekaman suara ambient kafe lewat earphone, atau siapin satu sudut khusus di kamar kos yang beneran cuma dipakai buat kerja, jauh dari kasur.

Share Article
Editorial Team

Latest News Jogja

See More