Kemenkes Antisipasi Leptospirosis-Diare Imbas Banjir Sumatra

- Tim reaksi cepat Kemenkes sudah di lokasi untuk mencegah penyebaran penyakit leptospirosis dan diare akibat banjir Sumatra.
- Pemerintah pusat telah menggelontorkan bantuan obat-obatan, mendirikan posko kesehatan, dan rumah sakit darurat di daerah terdampak.
- Belum diperlukan pasokan tenaga medis tambahan dari Jawa berdasarkan hasil koordinasi dinas kesehatan dan antarrumah sakit di daerah-daerah terdampak bencana.
Yogyakarta, IDN Times - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengantisipasi kemunculan beragam penyakit yang bisa timbul akibat bencana banjir yang menerpa beberapa daerah di Sumatra. Kemenkes telah mengerahkan tim guna mencegah penyebaran penyakit leptospirosis hingga diare pada wilayah-wilayah terdampak bencana.
1. Tim reaksi cepat Kemenkes sudah di lokasi

Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus menuturkan, dirinya baru akan meninjau kondisi Aceh juga Sumatera Utara pada 1-2 Desember 2025. Sedangkan Menkes Budi Gunadi Sadikin telah mengecek situasi di Padang, Sumatera Barat.
Namun, Benjamin menekankan jika tim reaksi cepat Kemenkes telah berada di daerah terdampak semenjak hari-hari pertama kemunculan bencana. Tim selain memberikan bantuan dari sisi medis, juga akan bekerja mengantisipasi beragam penyakit yang berpotensi muncul nantinya.
"Besok ini ke sana kan sudah mulai bakal ada penyakit-penyakit akibat banjir, nah kita mulai strategi. Nanti mungkin leptospirosis mulai muncul, mulai muncul diare. Kami datang akan mengatur strategi supaya pemerintah daerah akan disupport oleh pemerintah pusat," kata Benjamin di Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta, Sabtu (29/11/2025).
2. Bantuan obat-obatan, posko hingga rumah sakit darurat

Menurut Benjamin, pemerintah pusat sudah menggelontorkan bantuan suplai obat-obatan ke daerah terdampak. Kemudian, kementerian turut mendirikan fasilitas posko kesehatan hingga rumah sakit darurat untuk menggantikan faskes-faskes yang lumpuh operasinalnya akibat bencana.
"Sudah, otomatis (fasilitas kedaruratan). Tempat posko-posko sudah dibuat. Sudah, otomatis. Jadi, sekarang yang penting nyawa dulu diselamatkan. Setelah nyawa diselamatkan, mencari korban, baru biasanya, setelah ini kan sekarang sarana prasarana hancur nih. Maka, kita akan lakukan sesuai dengan bidangnya. Kami kesehatan ya pasti fokus untuk bagaimana pelayanan kesehatan yang sebaik-baiknya," imbuh Benjamin.
3. Belum perlu pasokan tenaga medis dari Jawa

Adapun mengenai tenaga medis, kata Benjamin, belum diperlukan personel tambahan. Keputusan ini berdasarkan hasil koordinasi dinas kesehatan serta antarrumah sakit di daerah-daerah terdampak bencana.
"Kita punya pusat krisis (crisis center) ada di berbagai provinsi, jadi udah saling tektok rumah sakit, berapa kurang dokter, ternyata jumlah dokter aman, perawat aman. Kita nggak ada masalah di sana, tenaga medis nggak usah kirim dari Jawa, mereka di sana masih cukup," tutupnya.



















