Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kemenag DIY Siapkan Pemantauan Hilal di 4 Lokasi Berbeda

Kemenag DIY Siapkan Pemantauan Hilal di 4 Lokasi Berbeda
Ilustrasi pengamatan hilal. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Share Article

Yogyakarta, IDN Times - Pemantauan hilal (rukyatul hilal) awal Ramadhan 1445 Hijriah/2024 Masehi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Rencananya pemantauan hilal dilakukan di empat lokasi berbeda pada 10 Maret 2024.

Kepala Bidang Urusan Agama Islam (Urais) Kantor Wilayah Kemenag DIY Jauhar Mustofa menuturkan jika sebelumnya rukyatul hilal hanya digelar oleh Kanwil Kemenag DIY, tahun ini kemenag kabupaten/kota diminta turut berpartisipasi dengan peralatan yang dimiliki.

"Tahun ini kami diminta oleh pusat untuk memperbanyak titik lokasi rukyatul hilal sehingga direkomendasikan kabupaten/kota juga melakukan pemantauan," kata Jauhar, Rabu (28/2/2024).

 

1. Di Kulon Progo pantauan dilakukan di YIA

Tampilan Hai Dudu di Bandara YIA (Dok.Infia)
Tampilan Hai Dudu di Bandara YIA (Dok.Infia)

Menurut Jauhar, rukyatul hilal yang digelar Kemenag Kabupaten Kulonprogo akan berlangsung di lantai tiga Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) menggunakan sebuah teropong jenis theodolite.

"Izinnya sudah diperoleh sehingga Kemenag Kulon Progo dengan instansi dan lembaga terkait akan melakukan rukyatul hilal di sana," ujarnya dikutip Antara.

Selain itu, di Kabupaten Gunungkidul, rukyatul hilal bakal berlangsung di objek wisata HeHa Sky View dengan menggunakan satu theodolite dan satu teleskop. Kemenag Kota Yogyakarta akan menggelar pemantauan hilal bersama Kemenag Sleman di rooftop Hotel Grand Keisha Yogyakarta menggunakan satu theodolite. Pasalnya, Kemenag Kota Yogyakarta tidak memiliki tempat representatif.

Adapun Kemenag Bantul akan bergabung dengan Kanwil Kemenag DIY melakukan rukyatul hilal di Pos Observasi Bulan (POB) Syekh Bela Belu Parangtritis. "Kabupaten Bantul menggunakan tiga teleskop milik BHR Kanwil Kemenag DIY dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta," ungkapnya.

 

2. Peluang melihat hilal lebih besar

Ilustrasi pengamatan hilal. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Ilustrasi pengamatan hilal. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Jauhar menambahkan semakin banyak titik lokasi pemantauan diharapkan peluang melihat hilal dari DIY lebih besar dibandingkan sebelumnya.

"Situasi dan kondisi lokasi rukyatul hilal memengaruhi pengamatan posisi hilal atau ufuk baratnya. Cuaca seperti di POB yang selalu terbias dengan uap air juga memengaruhi pengamatan," jelas Jauhar.

Berdasarkan data astronomis Badan Hisab Rukyat (BHR) DIY untuk 10 Maret 2024, kata Jauhar, ketinggian hilal saat matahari terbenam diperkirakan pada posisi 0 derajat, 11 menit, 25 detik.

Data tersebut menunjukkan bahwa hilal masih di bawah standar "imkanur" rukyat yang disepakati oleh Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) untuk penetapan awal Ramadhan yang mensyaratkan tinggi minimal tiga derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat.

3. Perbedaan penetapan Ramadhan sangat besar

Ilustrasi Ramadan (IDN Times/Sukma Shakti)
Ilustrasi Ramadan (IDN Times/Sukma Shakti)

Jauhar menyebut peluang perbedaan antara Muhammadiyah dengan pemerintah dalam penetapan awal Ramadhan 2024 sangat besar.

Meski demikian, lanjut dia, keputusan penetapan awal Ramadhan tetap menunggu hasil sidang isbat oleh Kemenag RI.

"Masyarakat tentu sudah dewasa dengan perbedaan awal Ramadhan sehingga kami berharap semua menyikapi dengan biasa saja," ungkapnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari

Latest News Jogja

See More

Api Misterius di Sleman Terus Muncul, Pemilik Rumah Gelar Doa Bersama

12 Jun 2026, 11:10 WIBNews