Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
JBBA 2026 Apresiasi Bisnis Berkelanjutan di Yogyakarta
Jogja Brand and Business Awards (JBBA) 2026 digelar di Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, Rabu (15/7/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Ajang JBBA 2026 di Yogyakarta memberi apresiasi bagi institusi yang mengembangkan bisnis berkelanjutan dengan filosofi Jawa Hamemayu Hayuning Bawana sebagai dasar keseimbangan ekonomi, budaya, dan lingkungan.
  • Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan pentingnya membangun bisnis berbasis kepercayaan dan inklusivitas melalui penguatan UMKM serta pemanfaatan inovasi digital untuk menjaga keberlanjutan ekonomi lokal.
  • Proses penilaian JBBA 2026 dilakukan secara independen dan berbasis riset, menilai aspek pendidikan, kebudayaan, serta ekonomi berkelanjutan guna memastikan kredibilitas penghargaan dan dampak positif bagi masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times – Ajang Jogja Brand and Business Awards (JBBA) 2026 digelar di Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, Rabu (15/7/2026). Penghargaan yang diinisiasi Harian Jogja ini menjadi ajang apresiasi bagi perusahaan, institusi, dan organisasi yang dinilai mampu mengembangkan bisnis secara berkelanjutan sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Mengusung tema "Smartly Cultured, Sustainably Driven", penyelenggaraan JBBA 2026 mengangkat falsafah Jawa Hamemayu Hayuning Bawana sebagai landasan dalam menilai keberhasilan sebuah institusi. Filosofi tersebut menekankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian budaya, serta tanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial.

1. Sultan: Bisnis harus dibangun dengan kepercayaan

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengatakan filosofi Jawa Tunâ Satak, Bathi Sanak masih relevan diterapkan di tengah perkembangan ekonomi digital. Menurutnya, keberhasilan bisnis tidak hanya diukur dari keuntungan finansial, tetapi juga dari kepercayaan yang dibangun dengan masyarakat.

"Rugi sedikit materi, untung mendapat saudara. Bukan kalkulasi akuntansi biasa, melainkan filosofi bisnis yang menempatkan hubungan di atas transaksi," ujar Sultan.

Ia menjelaskan, para pedagang Jawa sejak dahulu menanamkan kepercayaan kepada pelanggan agar pasar tetap hidup dan berkelanjutan. Filosofi tersebut, menurutnya, kini dapat diterapkan melalui berbagai inovasi digital, mulai dari aplikasi pembayaran hingga pemanfaatan QRIS yang memperluas akses pasar bagi pelaku usaha.

Sultan juga menilai inklusi keuangan harus diikuti dengan penguatan UMKM agar pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat. Ia menyebut DIY telah mengembangkan paradigma Local Value for Money, yakni mendorong belanja pemerintah agar lebih banyak menggunakan produk lokal.

Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui platform SiBakul DIY yang menghubungkan pelaku UMKM dengan pasar, termasuk pasar pengadaan pemerintah. "Negara berinvestasi pada produk lokal, dan yang dituai adalah keberlanjutan ekonomi rakyat," katanya.

Melalui mekanisme tersebut, produk batik, kerajinan, hingga kuliner tradisional memiliki peluang memperoleh pasar yang lebih stabil sehingga mampu menjaga keberlangsungan para perajin di daerah.

Di hadapan para pelaku usaha dan pemimpin korporasi yang hadir, Sultan juga menitipkan pesan agar membangun bisnis dengan hati. "Keuntungan yang sejati bukan hanya yang tercatat di neraca, tetapi yang tertanam dalam kepercayaan rakyat, dan yang mengalir kembali ke desa-desa penghasil produk lokal," ujarnya.

Pada kesempatan tersebut Sri Sultan Hamengku Buwono X mendapat penghargaan Maestro Penggerak Inklusivitas. Selain Sultan, sejumlah pemimpin daerah, institusi pendidikan dan Perusahaan mendapat apresiasi atas kiprah mereka.

2. JBBA diharapkan menjadi panduan moral dunia usaha

Jogja Brand and Business Awards (JBBA) 2026 digelar di Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, Rabu (15/7/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Sementara itu, Presiden Direktur Harian Jogja, Arif Budisusilo, mengatakan JBBA 2026 merupakan forum kolaborasi pertama yang diselenggarakan Harian Jogja. Menurutnya, tema Smartly Cultured, Sustainably Driven dipilih bukan sekadar slogan, melainkan upaya membumikan filosofi Hamemayu Hayuning Bawana dalam praktik bisnis dan tata kelola organisasi.

Ia menilai setiap kebijakan pemerintah maupun strategi perusahaan seharusnya bermuara pada kesejahteraan masyarakat tanpa mengorbankan budaya dan lingkungan. "Modernisasi dan kemajuan ekonomi tidak boleh ditebus dengan runtuhnya sendi kebudayaan yang selama ini mengikat rasa persaudaraan kita," kata Arif.

Arif berharap JBBA tidak hanya menjadi ajang penghargaan, tetapi juga menjadi panduan moral dan alat akuntabilitas publik dalam mengukur keberhasilan sebuah institusi. Menurutnya, kesuksesan tidak lagi hanya diukur dari besarnya laba perusahaan atau pembangunan fisik, melainkan juga dari komitmen menjaga etika, melestarikan lingkungan, memperkuat budaya, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ia menambahkan, seluruh proses penilaian JBBA dilakukan melalui riset berbasis data, verifikasi lapangan oleh jaringan jurnalis Harian Jogja, serta penilaian panel independen guna menjaga integritas penghargaan.

"Harapan kami, JBBA 2026 menjadi pemantik semangat dan pengingat bagi seluruh institusi untuk terus menjalankan kebijakan yang selaras dengan semangat Hamemayu Hayuning Bawana," tutupnya.

3. Penerima penghargaan melalui proses riset independen

Jogja Brand and Business Awards (JBBA) 2026 digelar di Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, Rabu (15/7/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Seluruh penerima penghargaan JBBA 2026 dipilih melalui proses riset independen yang dilakukan secara komprehensif dan objektif. Penilaian tidak hanya didasarkan pada capaian bisnis, tetapi juga mempertimbangkan rekam jejak, tata kelola organisasi, inovasi, kontribusi sosial, hingga persepsi publik terhadap masing-masing institusi.

Proses evaluasi memanfaatkan berbagai sumber data, mulai dari pemantauan media digital, pemberitaan, hingga tingkat kepatuhan terhadap regulasi. Pendekatan tersebut dilakukan untuk memastikan hasil penilaian memiliki kredibilitas tinggi dan dapat dipertanggungjawabkan.

Adapun penilaian JBBA 2026 mengacu pada tiga klaster utama, yakni pendidikan, kebudayaan, dan ekonomi berkelanjutan. Ketiga aspek tersebut dipilih karena dinilai sejalan dengan arah pembangunan Daerah Istimewa Yogyakarta yang menitikberatkan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian budaya, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article