Harga Telur Anjlok, Peternak Bagikan Ribuan Ekor Ayam di Malioboro

- Sekitar 1.600 ayam dibagikan gratis di depan DPRD DIY, Malioboro, sebagai protes peternak telur terhadap harga jual yang anjlok dan biaya produksi yang meningkat.
- Harga telur Rp12 ribu-Rp15 ribu per kilogram, di bawah kisaran normal Rp24 ribu-Rp25 ribu, sementara harga pakan naik 30-40 persen hingga sekitar Rp8 ribu per kilogram.
- Peternak menuntut harga pakan turun, tata niaga diperbaiki, jagung terjangkau, populasi ayam dikendalikan, serta penguatan kelembagaan; aksi berlangsung kondusif dengan pengamanan 167 personel.
Yogyakarta, IDN Times - Sekitar 1.600 ekor ayam dibagikan secara gratis kepada masyarakat kawasan Malioboro, tepatnya di depan kantor DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin (10/8/2026).
Aksi tersebut menjadi bentuk protes peternak ayam petelur DIY atas tingginya biaya produksi dan anjloknya harga jual telur.
Harga telur anjlok, biaya produksi melonjak
Koordinator Peternak Ayam Petelur DIY, Andry Patra, mengatakan Malioboro dipilih karena merupakan pusat keramaian sekaligus berada dekat dengan gedung wakil rakyat.
"Ini juga sebagai bentuk kritik," kata Andri.
Andry menjelaskan, persoalan yang dihadapi peternak bukan hanya penurunan harga telur, tetapi juga tingginya biaya produksi. Saat ini, harga telur berada di kisaran Rp12 ribu-Rp15 ribu per kilogram, jauh di bawah harga yang dianggap normal oleh peternak, yakni Rp24 ribu-Rp25 ribu per kilogram.
Akibat selisih tersebut, peternak menanggung kerugian sekitar Rp4 ribu-Rp5 ribu untuk setiap kilogram telur yang dihasilkan.
"(Rugi) bisa jutaan bahkan bisa ratusan juta rupiah, tergantung populasi masing-masing peternak," beber Andry.
Menurut Andry, kondisi tersebut telah berlangsung sekitar tiga bulan. Di sisi lain, harga pakan ayam juga meningkat 30-40 persen hingga mencapai sekitar Rp8 ribu per kilogram.
Daripada dibuang, ayam dibagikan cuma-cuma ke warga

Peternak bagikan 1.600 ekor ayam di kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta, Senin (10/8/2026). (IDN Times/Tunggul Damarjati) Tekanan tersebut membuat ayam semakin sulit terserap pasar. Karena itu, peternak membawa ayam ke Malioboro untuk dibagikan kepada masyarakat daripada membiarkannya terbuang.
Harga ayam hidup saat ini hanya sekitar Rp13 ribu per kilogram atau Rp26 ribu-Rp27 ribu per ekor. Padahal, harga ayam di pasaran mencapai lebih dari Rp30 ribu per kilogram.
"Daripada ayamnya dibuang, kami bagikan kepada masyarakat," ujarnya.
Andry menegaskan, pembagian ayam tersebut hanya simbolis untuk menunjukkan kondisi yang dihadapi peternak.
Tuntutan para peternak ayam petelur
Mereka juga menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah, antara lain penurunan harga pakan, harga telur yang adil dan berkelanjutan, perbaikan tata niaga bahan baku, serta jaminan ketersediaan jagung dengan harga wajar sesuai HAP pemerintah.
Peternak juga meminta pemerintah memperhatikan tingginya populasi ayam akibat impor grand parent (GP). Menurut Andry, pengendalian populasi diperlukan agar pasokan tidak berlebihan dan harga telur lebih stabil.
"Untuk menstabilkan harga telur, populasi perlu dikendalikan," imbuhnya.
Selain itu, peternak mendesak pemerintah memperkuat kelembagaan sektor peternakan dan meningkatkan perhatian terhadap peternak rakyat. "Kami minta pemerintah dan wakil rakyat melihat ada persoalan serius di sektor peternakan rakyat," tandasnya.
Aksi tersebut turut mendapat sambutan dari masyarakat. Tak sedikit warga yang mendapatkan lebih dari satu ekor ayam.
Sementara itu, Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Ari Setyawan Wibowo mengatakan 167 personel dikerahkan untuk mengamankan aksi peternak dari seluruh DIY.
Pengamanan dilakukan agar penyampaian aspirasi berlangsung aman dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat. Ia menyebut aksi para peternak berlangsung secara kondusif.


















