Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ekonomi Kreatif Jadi Peluang Hadapi Ketidakpastian Global
Event IDE.IND di Plaza Malioboro Yogyakarta, Sabtu (13/6/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

  • Menteri Ekraf RI menilai pelemahan rupiah jadi momentum memperkuat ekonomi kreatif lokal, mendorong masyarakat beralih ke produk dalam negeri dan memperluas pasar domestik.
  • Kementerian Ekraf meluncurkan program IDE.IND di Yogyakarta sebagai langkah awal memperkuat jejaring pelaku ekonomi kreatif nasional melalui pameran, diskusi, dan kolaborasi lintas sektor.
  • Wali Kota Yogyakarta menegaskan ekonomi kreatif menjadi andalan daerah tanpa sumber daya alam, dengan potensi besar dari kreativitas warga untuk meningkatkan pendapatan dan kunjungan wisata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times – Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) RI, Teuku Riefky Harsya, menilai sektor ekonomi kreatif berpeluang memperkuat perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Menurut Riefky, pelemahan rupiah dapat menyebabkan harga produk impor semakin mahal. Kondisi tersebut, kata dia, dapat menjadi momentum untuk mendorong masyarakat beralih menggunakan produk lokal, terutama dari sektor ekonomi kreatif.

“Kami melihat peluang sektor ekonomi kreatif bisa dikembangkan di tengah situasi saat ini. Produk luar negeri yang semakin mahal bisa menjadi momentum untuk mengampanyekan distribusi dan penggunaan produk lokal,” kata Riefky dalam event IDE.IND di Plaza Malioboro Yogyakarta, Sabtu (13/6/2026).

1. Produk ekraf lokal bisa berjaya

Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) RI, Teuku Riefky Harsya. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Riefky mengatakan berbagai subsektor ekonomi kreatif berpeluang mengisi pasar domestik yang selama ini didominasi produk asing. “Yang tadinya menggunakan fesyen asing bisa beralih ke fesyen lokal, film asing yang selama ini ramai bisa digantikan film lokal, begitu juga gim, musik, dan berbagai produk kreativitas anak bangsa lainnya,” ujarnya.

Menurut Riefky, pemerintah juga mendorong hilirisasi di sektor ekonomi kreatif untuk menciptakan nilai tambah dan memperkuat pasar domestik. “Karena hilirisasi tidak hanya dari sektor tambang, tetapi juga ekonomi kreatif. Dalam hal memperkuat pasar lokal ini menjadi peluang yang sangat besar,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Riefky menyebut Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai salah satu daerah yang menjadi rujukan pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. “Bagaimana daerah dengan budayanya yang kuat itu sebagai hulunya, kemudian turunannya dengan sentuhan inovasi, kreativitas, dan teknologi, di situlah ekonomi kreatif hadir,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), DIY termasuk satu dari 15 provinsi yang ditetapkan sebagai pusat pengembangan ekonomi kreatif nasional. Karena itu, Kementerian Ekraf fokus mendorong pelaku usaha kreatif lokal agar naik kelas dan mampu menembus pasar nasional maupun internasional sehingga berdampak pada peningkatan investasi, ekspor, dan penciptaan lapangan kerja.

“Selama ini ekonomi kreatif di Yogyakarta berkembang luar biasa, bahkan mampu dihilirisasi menjadi nilai ekonomi yang nyata,” kata Riefky.

2. IDE.IND jadi penguat jejaring ekonomi kreatif

Event IDE.IND di Plaza Malioboro Yogyakarta, Sabtu (13/6/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Sebagai upaya memperkuat sektor ekonomi kreatif, Kementerian Ekraf meluncurkan program IDE.IND di Yogyakarta. Program tersebut menjadi titik awal pelaksanaan IDE.IND sebelum diperluas ke berbagai daerah di Indonesia pada semester II 2026.

“IDE.IND merupakan kegiatan untuk mendukung merek lokal. Yogyakarta menjadi lokasi kick-off dan setelah ini akan kami lakukan di berbagai daerah lainnya,” ujar Menteri Ekraf RI, Teuku Riefky Harsya.

Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekraf RI, Yuke Sri Rahayu, mengatakan Yogyakarta dipilih sebagai kota pertama penyelenggaraan IDE.IND 2026 karena memiliki ekosistem ekonomi kreatif yang kuat. Kegiatan ini menghadirkan pameran produk ekonomi kreatif, talkshow, diskusi inspiratif, kuis, dan permainan interaktif yang melibatkan pelaku usaha, komunitas, perguruan tinggi, pemerintah daerah, media, serta masyarakat.

“Ada empat sesi diskusi yang mewakili masing-masing kedeputian di Kementerian Ekonomi Kreatif dengan total sekitar 120 peserta,” kata Yuke.

Ia berharap IDE.IND dapat menjadi langkah awal dalam memperkuat jejaring ekonomi kreatif nasional dan diterapkan di berbagai daerah lainnya di Indonesia.

3. Kota Yogyakarta andalkan ekonomi kreatif

Event IDE.IND di Plaza Malioboro Yogyakarta, Sabtu (13/6/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo mengatakan ekonomi kreatif menjadi sektor strategis bagi Kota Yogyakarta yang tidak memiliki sumber daya alam melimpah. “Kota Yogyakarta tidak punya sumber daya alam, tetapi punya sumber daya manusia. Karena itu kami harus mengandalkan ekonomi kreatif untuk meningkatkan pendapatan daerah,” ujar Hasto.

Menurutnya, kreativitas masyarakat Yogyakarta tercermin dari banyaknya seniman, budayawan, serta berbagai event kreatif yang tumbuh dan berkembang di kota tersebut, seperti Custom Fest dan Wayang Jogja Night Carnival (WJNC).

Hasto berharap pengembangan ekonomi kreatif ke depan juga mampu memberdayakan perempuan dan kelompok lanjut usia (lansia), sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara.

“Melalui event-event kreatif itu, kami berharap kunjungan wisatawan, terutama wisatawan asing, terus meningkat karena itu juga menjadi indikator berkembangnya ekonomi kreatif di Yogyakarta,” katanya.

Editorial Team

Related Article