Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) RI, Teuku Riefky Harsya. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Riefky mengatakan berbagai subsektor ekonomi kreatif berpeluang mengisi pasar domestik yang selama ini didominasi produk asing. “Yang tadinya menggunakan fesyen asing bisa beralih ke fesyen lokal, film asing yang selama ini ramai bisa digantikan film lokal, begitu juga gim, musik, dan berbagai produk kreativitas anak bangsa lainnya,” ujarnya.
Menurut Riefky, pemerintah juga mendorong hilirisasi di sektor ekonomi kreatif untuk menciptakan nilai tambah dan memperkuat pasar domestik. “Karena hilirisasi tidak hanya dari sektor tambang, tetapi juga ekonomi kreatif. Dalam hal memperkuat pasar lokal ini menjadi peluang yang sangat besar,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Riefky menyebut Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai salah satu daerah yang menjadi rujukan pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. “Bagaimana daerah dengan budayanya yang kuat itu sebagai hulunya, kemudian turunannya dengan sentuhan inovasi, kreativitas, dan teknologi, di situlah ekonomi kreatif hadir,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), DIY termasuk satu dari 15 provinsi yang ditetapkan sebagai pusat pengembangan ekonomi kreatif nasional. Karena itu, Kementerian Ekraf fokus mendorong pelaku usaha kreatif lokal agar naik kelas dan mampu menembus pasar nasional maupun internasional sehingga berdampak pada peningkatan investasi, ekspor, dan penciptaan lapangan kerja.
“Selama ini ekonomi kreatif di Yogyakarta berkembang luar biasa, bahkan mampu dihilirisasi menjadi nilai ekonomi yang nyata,” kata Riefky.