Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Debat Guru Besar UGM Vs Pigai, Uceng: Banyak Ditawari TV Nasional dan Pusat Studi
Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Zainal Arifin Mochtar alias Uceng, (IDNTimes/Tunggul Damarjati)
  • Guru Besar UGM Zainal Arifin Mochtar alias Uceng menyatakan siap berdebat dengan Menteri HAM Natalius Pigai untuk menagih pertanggungjawaban kinerja selama menjabat.
  • Debat terbuka ini bermula dari saling balas di media sosial X, dan kini banyak stasiun TV nasional serta pusat studi menawarkan diri sebagai fasilitator acara tersebut.
  • Uceng menegaskan debat bukan sekadar adu argumen, tapi bentuk akuntabilitas publik agar masyarakat tahu capaian konkret pejabat negara dalam penegakan HAM.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sleman, IDN Times - Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Zainal Arifin Mochtar alias Uceng, mengaku siap berdebat dengan Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai. Debat itu, kata Uceng sapaan akrabnya sebagai bentuk menagih pertanggungjawaban kinerja sejak dilantik.

"Saya mewakafkan diri saya untuk nagih itu. Saya sih nggak suka debat, tapi kalau menurut saya ya saya mau pengin mewakafkan waktu saya untuk nagih (kinerja menteri). Capek juga sih debat di Twitter (X), jadi mending sekalian langsung saja," kata Uceng ditemui di FH UGM, Sleman, Jumat (27/2/2026).

Sebelumnya, Pigai menantang Uceng untuk debat terbuka soal isu HAM di Indonesia secara live di TV nasional. Tantangan ini bermula dari saling balas di media sosial X, ketika Uceng menyatakan ingin belajar dan berdiskusi secara ilmiah tentang kasus-kasus HAM yang disebut telah dipahami Pigai.

Pigai menyetujui format debat di TV nasional dan meminta Uceng menyiapkan forum tersebut. Ia juga menyarankan Uceng menonton tayangan YouTube dirinya bersama Fadli Zon sebagai tambahan referensi. Uceng kemudian menyatakan tidak memiliki kewenangan mengatur stasiun TV dan berharap ada pihak televisi yang memfasilitasi.

Uceng turut menyampaikan latar belakangnya sebagai peneliti di Pusat Studi HAM UII Yogyakarta selama tiga tahun dan lulusan S2 Hukum HAM di Amerika Serikat, serta menyatakan kesiapan untuk belajar.

Sebelumnya, Pigai mengunggah cuitan panjang tentang pengalamannya hidup sejak kecil di tengah konflik bersenjata di Papua, yang menurutnya membentuk pemahamannya tentang esensi HAM. Ia juga menegaskan rekam jejaknya sebagai pembela kaum tertindas hingga menjabat sebagai Menteri HAM, serta mengkritik Uceng sebagai guru besar yang “dibesar-besarkan.”

1. Publik berhak tahu kinerja pejabat negara selama ini

Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai dalam acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) HAM di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (8/12/2025) (IDN Times/Lia Hutasoit)

Uceng mengakui dirinya bukan tipe yang gemar berdebat. Ia bahkan pernah menolak undangan debat acara televisi yang dipandu Aiman Witjaksono maupun Karni Ilyas. Namun kali ini, menurutnya, publik berhak mengetahui secara konkret apa yang telah dikerjakan pejabat publik dalam masa jabatannya.

"Tidak menjawab dengan apa ya... seakan-akan 'Tenang lah, pokoknya saya sudah kuasai ini ilmunya, pokoknya saya bisa', nggak, nggak bisa begitu. Jadi 'Pokoknya negara pasti melakukan yang terbaik untuk warga', nggak, nggak bisa begitu. Demokrasi tidak bicara begitu lagi," jelasnya.

"Itu masa kampanye tuh yang gitu-gitu tuh. 'Kami akan melakukan ini, kami akan berbuat baik, kami sudah memahami persoalan', itu kan di masa kampanye. Masa dua tahun kerja ini, apa yang dilakukan? Itu yang paling penting sebenarnya," lanjutnya.

Sebagai Guru Besar Bidang Hukum Kelembagaan Negara, Uceng menilai catatannya terhadap penegakan HAM dalam dua tahun terakhir tergolong berantakan. Karena itu, kehadiran Pigai dalam forum debat dinilainya penting sebagai bentuk pertanggungjawaban langsung kepada publik.

"Saya sih berharap ini bukan... kalau debat teoritik sih ngapain? Itu urusan debat teoritik biarkan di kampus aja," jelas Uceng.

2. Sudah banyak TV nasional menawari

Menteri Ham Natalius Pigai terima debat terbuka Guru Besar UGM Zainal Arifin Mochtar. (X.com/NataliusPigai2)

Menurut Uceng, sejumlah stasiun televisi nasional hingga platform media milik BEM telah menawarkan diri untuk memfasilitasi debat tersebut. Selain itu, berbagai pusat studi dan pusat kajian juga disebut siap menjadi penyelenggara.

Uceng bahkan telah menyampaikan tantangan debat itu melalui akun X miliknya dengan menandai akun Pigai. Namun, hingga Jumat (27/2/2026) sore, ia belum mengetahui apakah cuitannya sudah mendapat respons.

"Banyak banget yang kontak. Kompas, iNews, ada Mojok juga ngajak, si Bocor Alus Tempo, Tempo TV juga ngajak. Yang paling banyak malah pusat studi, pusat kajian," kata Uceng.

Bagi Uceng, debat terbuka ini bukan sekadar adu argumen, melainkan forum akuntabilitas publik. Ia berharap formatnya bisa disiarkan secara multi-platform agar dapat diakses seluas mungkin oleh masyarakat.

"Saya bilang ya nggak apa-apa, silakan. Tapi kalau paling bagus sih kalau terbuka, jadi multi-platform ya," ujarnya.

3. Respons Uceng soal video Pigai

Menteri Ham Natalius Pigai terima debat terbuka Guru Besar UGM Zainal Arifin Mochtar. (facebook.com/zainalarifin.mochtardua)

Sebelumnya, dalam perdebatan di media sosial, Pigai meminta Uceng menonton video wawancaranya di kanal YouTube Fadli Zon sebelum berdebat. Video berjudul “Natalius Pigai: Menurut Saya Itu Pelanggaran HAM Berat” tersebut tayang pertama kali lima tahun lalu.

Uceng mengaku telah menonton video itu. Namun ia enggan mengulas isinya lebih jauh saat ini.

"Udah, saya udah nonton. Ya masa saya harus singgung di sini sih? Saya pikir bagus aja," kata Uceng sembari tersenyum.

Editorial Team