Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Abu Vulkanik Anak Krakatau ke Barat, BMKG: Potensi Sampai Jogja Minim
Visualisasi bahwa riwayat tsunami 2018 membuat Anak Krakatau tetap harus terus dipantau.(IDN Times/Foto : Ilustrasi)
  • Citra satelit BMKG pukul 13.00 WIB menunjukkan abu Anak Krakatau bergerak ke barat; potensi mencapai Jawa Tengah dan DIY sangat kecil serta belum terdeteksi.
  • Sebaran abu masih berpotensi di sejumlah wilayah Sumatra, terutama Lampung Barat, sementara Jakarta dan sekitarnya mulai tidak masuk area sebaran.
  • BMKG mengimbau warga memantau kanal resmi BMKG atau PVMBG; partikel abu dapat menjadi inti kondensasi pembentuk awan jika uap air mencukupi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Yogyakarta, IDN Times - Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau terus bergerak ke arah barat. Kondisi ini berpotensi abu vulkanik mencapai wilayah Jawa Tengah hingga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sangat minim.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Bhakti Wira Kusumah mengatakan, pergerakan sebaran abu vulkanik tersebut terpantau melalui citra satelit BMKG pada pukul 13.00 WIB. Sejumlah wilayah di Pulau Jawa tidak masuk area sebaran. Namun sisa partikel abu vulkanik masih perlu diwaspadai di wilayah yang sebelumnya terdampak, termasuk Jakarta dan sekitarnya.

"Hanya sebagian Jawa Barat di bagian barat, lalu sebagian Banten, bahkan di sekitaran Jakarta ini sudah mulai tidak masuk wilayah sebaran ya untuk adanya debu vulkanik Gunung Krakatau," kata Bhakti saat dihubungi, Senin (7/9/2026).

Sementara potensi sebaran debu vulkanik masih terdapat di sejumlah wilayah Sumatra, khususnya Lampung Barat. Namun, kondisi tersebut tidak terlihat di Jawa Tengah maupun DIY.

1. Potensi sebaran abu vulkanik ke DIY sangat kecil

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau sampai Bekasi. (IDN Times/Imam Faishal)

Bhakti mengatakan hingga pemantauan terbaru belum terdeteksi pengaruh debu vulkanik di Jawa Tengah dan DIY. Masyarakat di kedua wilayah tersebut memiliki potensi yang sangat kecil terdampak sebaran abu vulkanik.

"Wilayah Jateng bahkan hingga DIY memang sampai saat ini belum terdeteksi dipengaruhi adanya debu vulkanik atau potensinya sangat kecil," katanya.

Dengan arah pergerakan sebaran yang cenderung ke barat, masyarakat DIY tetap diminta tidak mengabaikan informasi terbaru. Pemantauan secara berkala diperlukan karena kondisi sebaran abu vulkanik dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer.

2. Cek informasi dari sumber resmi

Warga DIY juga diimbau tidak mudah percaya terhadap informasi mengenai sebaran abu vulkanik yang beredar. Informasi terbaru sebaiknya diperoleh dari kanal resmi BMKG maupun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

"Nah, di situ memang pihak masyarakat atau stakeholder lainnya bisa memantau citra sebaran abu vulkanik sehingga tidak termakan atau tidak mendapat informasi yang tidak valid dari debu vulkanik yang disebabkan oleh erupsi Gunung Anak Krakatau," imbaunya.

Berdasarkan pantauan citra satelit pukul 13.00 WIB, Jakarta sudah tidak terdeteksi berada dalam wilayah sebaran debu vulkanik.

3. Abu vulkanik bisa picu pembentukan awan

Selain keberadaannya mengganggu jarak pandang dan kualitas udara, abu vulkanik dapat berpengaruh terhadap kondisi atmosfer. Bhakti menjelaskan, partikel abu vulkanik dapat berperan sebagai inti kondensasi.

"Untuk cuaca sendiri, memang abu atau debu vulkanik ini kan bisa menjadi inti kondensasi atau menjadi salah satu pendorong terbentuknya awan, meskipun tergantung dari uap-uap air yang ada di sekitar debu vulkanik tersebut," jelas Bhakti.

Jika kandungan uap air di atmosfer mencukupi, keberadaan partikel tersebut dapat mendukung terbentuknya awan atau hujan. Namun pengaruhnya terhadap cuaca tidak selalu signifikan.

Editorial Team

Related Article