Jadi Ketum Kadin DIY, GKR Mangkubumi Dorong Investasi Ramah Lingkungan

- Kadin DIY mengusung tiga filosofi utama Yogyakarta
- Pertumbuhan ekonomi inklusif dengan modal manusia dan ekonomi kreatif
- Peran strategis Kadin sebagai simpul antara pengusaha kecil dan besar
Sleman, IDN Times – Pengurus Kamar Dagang dan Industri Daerah Istimewa Yogyakarta (Kadin DIY) periode 2025–2030, resmi dilantik dan dikukuhkan di The Alana Yogyakarta, Sabtu (31/1/2026). Seusai dilantik, Ketua Umum Kadin DIY, GKR Mangkubumi menyebut DIY membutuhkan investasi yang ramah lingkungan.
“DIY memerlukan investor, memerlukan investasi masuk, tapi juga kita harus memilih dan memilah untuk investor yang masuk ke Jogja. Kita berpesan kepada para investor yang akan masuk untuk maju bersama untuk ekonomi, juga tentunya kita harus bersama-sama juga cinta akan lingkungan,” ucap GKR Mangkubumi.
GKR Mangkubumi menegaskan bahwa investor yang masuk tidak boleh membuat polusi. “Jadi investor yang masuk no pollution. Kami ingin Jogja itu green concept. Masyarakat Jogja juga ingin tumbuh bersama dengan para investor,” kata GKR Mangkubumi.
Selain mendorong masuknya investor yang peduli lingkungan, GKR Mangkubumi menyebut Kadin DIY akan mendukung tumbuhnya UMKM. “Kita sudah ada kurang lebih 200-300an UMKM yang bersama-sama dengan Kadin. Kita ingin ada pelatihan-pelatihan buat mereka,” ungkapnya.
1. Tiga filosofi diusung Kadin DIY

Dalam sambutannya, GKR Mangkubumi menjelaskan Kadin DIY dalam menjalankan peran mengusung tiga filosofi utama Yogyakarta sebagai landasan nilai, etika dan arah kebijakan organisasi. Selaras dengan moto Kadin yaitu tabah, jujur, dan setia.
“Filosofi yang pertama hamemayu hayuning bawana. Mengajarkan kewajiban untuk merawat, menjaga dan memperindah tatanan kehidupan dunia. Dalam konteks pembangunan ekonomi, filosofi ini selaras dengan kerangka Sustainable Development Goals, yang menekankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan keadilan sosial,” kata GKR Mangkubumi.
Ia melanjutkan filosofi kedua yaitu sangkan paraning dumadi, yang mengajarkan kesadaran akan asal-usul dan tujuan akhir setiap tindakan. Menuntun manusia untuk senantiasa bertindak dan memiliki tanggung jawab moral. “Nilai ini menjadi dasar penguatan integritas dan penerapan prinsip Good Corporate Governance dalam dunia usaha,” ucap GKR Mangkubumi.
Filosofi ketiga yaitu manunggaling kawula gusti, yang mencerminkan kesatuan antara pemimpin dan rakyat, antara kebijakan dan aspirasi masyarakat. Filosofi ini selaras dengan nilai demokrasi, partisipasi, dan juga dialog. “Dalam konteks Kadin DIY nilai ini diwujudkan melalui kepemimpinan yang inklusif. Pengambilan keputusan yang partisipatif serta kolaborasi erat antara dunia usaha, pemerintah, akademisi, masyarakat,” ungkap GKR Mangkubumi.
2. Pertumbuhan ekonomi yang inklusif

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, turut mengapresiasi langkah DIY yang mendorong perekonomian tidak hanya sekedar tumbuh, namun juga bisa tumbuh dengan inklusif. “Bisa membumi, juga bisa melibatkan banyak sekali masyarakat yang membutuhkan pertumbuhan ini,” ungkap Anindya.
Anindya melihat ada tiga keunikan yang dimiliki DIY dan menjadi resep untuk pertumbuhan yang berkelanjutan. Pertama, DIY memiliki modal manusia dan ekonomi kreatif. “Kalau ingin mendapatkan kreativitas datanglah ke Jogja. Di sini ada gudangnya. Lebih dari 60 persen PDRB DIY ditopang sektor jasa dengan kontribusi besar dari pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM,” ujarnya.
Kedua, UMKM dan heritage ekonomi yang ada di DIY menjadi keunikan. UMKM tumbuh subur di DIY dan memberi banyak manfaat. “Ketiga dan ini menjadi suatu identik dengan Jogja adalah stabilitas ekonomi daerah,” kata Anindya.
Anindya pun berharap Kadin DIY dapat mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Tidak hanya untuk sekelompok orang tapi bisa inklusif. “Harapannya tentu akan semakin tumbuh, mengarungi segala macam tantangan dan peluang yang ada di depan kita,” ungkapnya.
3. Peran strategis kadin

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengatakan bahwa Kadin memiliki peran yang strategis. Kadin menjadi simpul antara pengusaha kecil dan besar. Simpul antara kebijakan dan pelaku usaha. Simpul antara lokal dan global.
“Dari simpul inilah lahir kolaborasi, kepercayaan, dan gotong royong. Melalui Kadin, kita berharap semakin banyak local champion tumbuh. Pengusaha pangan, yang menembus pasar nasional. Perajin yang menembus ekspor. Pelaku kreatif yang mendunia. Industri kecil yang naik kelas menjadi tulang punggung ekonomi,” ungkap Sri Sultan HB X.
Sri Sultan HB X juga mengajak menjaga DIY, bukan hanya sebagai entitas budaya, tetapi juga sebagai pusat kewirausahaan. Bukan hanya tempat berwisata, tetapi tempat bertumbuhnya gagasan dan usaha. Bukan hanya ruang nostalgia, tetapi ruang masa depan.
“Bila demikian adanya, ketika dunia usaha tumbuh bersama nilai kemanusiaan, ketika kemajuan berjalan seiring kelestarian, dan ketika kesejahteraan dirasakan bersama, maka kita sejatinya sedang menapaki satu laku besar, memperindah dan menyejahterakan dunia,” tutup Sri Sultan HB X.

















