Dirut BEI Mundur, Anindya Bakrie: Bagian dari Reformasi Pasar Modal

- Anindya Bakrie melihat mundurnya Dirut BEI sebagai bagian dari reformasi pasar modal
- Pasar modal merupakan indikator penting dan sarana untuk mendapatkan modal, momentum perbaikan setelah tekanan berat
- BEI memberlakukan trading halt untuk melindungi investor lokal, jumlah investor pasar modal Indonesia tumbuh menjadi 21,04 juta orang
Yogyakarta, IDN Times – Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, angkat bicara soal mundurnya Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) beberapa waktu lalu, seusai pasar saham bergejolak. Anindya Bakrie menilai mundurnya Dirut BEI sebagai bagian dari reformasi pasar modal.
“Saya melihat ini bagian daripada reformasi pasar modal,” ujar Anindya Bakrie saat ditemui usai melantik Pengurus Kamar Dagang dan Industri Daerah Istimewa Yogyakarta (Kadin DIY) periode 2025–2030, di The Alana Yogyakarta, Sabtu (31/1/2026) malam.
1. Pasar modal indikator yang penting

Anindya Bakrie tidak berkomentar banyak saat disinggung mundurnya Dirut BEI. Meski demikian, ia mengatakan bahwa pasar modal merupakan indikator yang sangat penting dan sarana untuk mendapatkan modal.
“Tapi kami melihat positifnya ini adalah bagian dari reformasi untuk bisa menuju kepada kompetitif secara global. Ini saya ngomongin itu dulu,” ungkap Anindya singkat.
2. Momentum perbaikan

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan BEI DIY, Irfan Noor Riza, menjelaskan beberapa hari lalu pasar modal memang mengalami tekanan cukup berat. Penyebabnya adalah kekhawatiran dari lembaga pemeringkat global bernama MSCI terkait transparansi kepemilikan saham di Indonesia. Hal ini memicu aksi jual dari investor asing. Itu sebabnya IHSG sempat turun tajam, bahkan sampai perlu trading halt untuk menjaga ketertiban pasar.
“Namun, yang penting untuk dipahami, situasi ini sebenarnya adalah momentum perbaikan, bukan sinyal krisis jangka panjang. Direktur Utama kami (Dirut BEI) yang kemudian juga beberapa petinggi OJK mengundurkan diri itu adalah murni sebagai bentuk tanggung jawab moral dan komitmen untuk pemulihan pasar modal,” ujar Irfan.
Menurut Irfan, ini bukan kelemahan, tapi adalah integritas dan profesionalisme. Langkah ini menunjukkan kepada investor global bahwa pihak BEI serius dalam memperbaiki tata kelola. Di pasar modal, kepercayaan adalah segalanya. Pengunduran diri ini justru memulihkan kepercayaan tersebut.
“Buktinya, tepat pada hari keputusan tersebut diumumkan, IHSG langsung naik 1,18% menjadi 8.329,61 poin. Ini menunjukkan bahwa pasar merespons positif. Kami memantau investor lokal di DIY juga tidak terdampak. Kami optimis investor DIY masih akan tetap bertumbuh,” kata Irfan.
3. Penjelasan BEI terkait kondisi terkini

Irfan mengungkapkan yang sebenarnya perlu diketahui oleh masyarakat, pertama trading halt adalah pelindung investor. BEI memberlakukan pembekuan perdagangan sementara ketika IHSG turun lebih dari 8%. Ini dirancang untuk melindungi investor lokal dari kerugian mendadak. Investor punya waktu untuk berpikir jernih tanpa panik jual.
Kedua, investor domestik tetap kuat. Hingga akhir Januari 2026, jumlah investor pasar modal Indonesia tumbuh menjadi 21,04 juta orang, dengan hampir 9 juta investor saham. “Artinya, masyarakat Indonesia tetap percaya pada pasar modal kita, meski sedang bergejolak,” kata Irfan.
Ketiga, Irfan menegaskan momentum ini adalah kesempatan, bukan musibah. Ketika harga saham berkualitas turun drastis karena kepanikan, justru ini adalah momentum yang sangat baik bagi investor untuk membeli saham fundamental kuat dengan harga lebih murah (terjangkau). “Investor asing justru sedang membeli di tingkat ini juga,” ungkapnya.

















