Comscore Tracker

Rumah Dongeng Mentari: Giat Memupuk Imajinasi Meski di Tengah Pandemik

Dongeng berpengaruh besar bagi perkembangan anak 

Sleman, IDN Times - Pandemik COVID-19 telah mengubah banyak hal dan bentuk kegiatan masyarakat. Salah satunya, budaya mendongeng yang biasanya dilakukan secara offline dengan melibatkan banyak pihak, sekarang harus berganti daring.

Hal tersebutlah yang dilakukan oleh Rumah Dongeng Mentari (RDM), sebuah komunitas mendongeng yang bermarkas di Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman. Mau tidak mau, adanya pandemik memaksa para pendongeng serta relawan untuk memanfaatkan media daring dan melakukan aktivitas mendongeng secara jarak jauh.

"Sama seperti dilakukan pihak secara umum, kami mulai merambah via daring, mau tidak mau kita harus mengikuti juga seperti apa kondisinya," ungkap Nisa Azkiya, Koordinator Program RDM pada Jumat (19/3/2021).

Baca Juga: Suka Duka Perawat Kala Pandemik: Orang Dekat Saya, Sudah Parno Duluan

1. Fokus ke konten media

Rumah Dongeng Mentari: Giat Memupuk Imajinasi Meski di Tengah PandemikKegiatan RDM sebelum pandemik COVID-19. Dok: istimewa

Nisa mengungkapkan, di masa sebelum pandemik, biasanya secara berkala pihaknya melakukan kegiatan kelas tatap muka rutin setiap sebulan sekali, dan acara yang menyedot banyak orang setahun sekali. Namun, hal tersebut harus beralih ke media daring, di mana pihaknya lebih fokus ke pembuatan konten dan kegiatan daring lainnya.

"Kemarin akhir 2020 kami mengadakan tamasya virtual ke Jepang dan Australia via daring. Yang tetap ada nilai yang ingin kami sampaikan beserta dongengnya juga, mungkin lebih fokus ke konten media," katanya.

Nisa mengungkapkan, ada sejumlah kendala yang harus dihadapi ketika berkegiatan secara daring, salah satunya yakni tidak bisa melihat ekspresi dari audien saat mendongeng. Meski demikian, pihaknya tetap berusaha untuk terus menyebarkan konten.

"Paling umum kendala tidak bisa one to one, tidak bisa tatap muka, ekspresinya gimana. Padahal dongeng itu paling enak bisa saling melihat ekspresi. Tapi secara umum cara kami mengatasinya adalah dengan tetap aja mendongeng, bercerita dan menyebarkan konten tentang dongeng itu sendiri," terangnya.

2. Berawal dari tiga bersaudara

Rumah Dongeng Mentari: Giat Memupuk Imajinasi Meski di Tengah PandemikKegiatan RDM sebelum pandemik COVID-19. Dok: istimewa

Menurut Nisa, awal mula berdirinya RDM pada 2010 lalu. Saat itu, tiga bersaudara Arum, Rona, serta Ayu memiliki hobi mendongeng dan senang dengan anak-anak, di mana rumahnya sering digunakan untuk kegiatan anak-anak.

"Awalnya RDM itu rumah, karena kebetulan mbak-mbak ini bisa mendongeng dan seneng anak-anak. Jadi awalnya hanya dibuat untuk anak-anak main, baca buku, cerita," katanya.

Lalu, pada 2016, RDM mulai aktif mengajak volunteer, baik kegiatan offline maupun online. Hingga pada perkembangan, RDM sudah cukup dikenal orang-orang dan memiliki relawan kurang lebih 150-200 relawan yang tersebar di seluruh Indonesia.

3. Dongeng bisa tumbuhkan kreativitas anak

Rumah Dongeng Mentari: Giat Memupuk Imajinasi Meski di Tengah PandemikKegiatan RDM sebelum pandemik COVID-19. Dok: istimewa

Sama seperti makan, menurut Nisa, dongeng juga merupakan suatu kebutuhan. Pengaruh dongeng, utamanya bagi perkembangan anak-anak sangatlah besar. Di mana dongeng bisa merangsang imajinasi, daya berpikir, kreativitas, rasa penasaran maupun critical thinking anak-anak.

"Hanya mungkin beberapa orang itu masih terblok dengan kata-kata dongeng kalau di KBBI dongeng itu kegiatan cerita fantasi ya, imajinatif padahal sebenarnya luas sekali arti dongeng itu sendiri," jelasnya.

4. Harapkan dongeng bisa terus lestari

Rumah Dongeng Mentari: Giat Memupuk Imajinasi Meski di Tengah PandemikKegiatan RDM sebelum pandemik COVID-19. Dok: istimewa

Di Hari Dongeng Internasional yang jatuh setiap 20 Maret, Nisa berharap agar dongeng di Indonesia bisa terus lestari. Di mana banyak pelajaran yang bisa diambil dari kegiatan mendongeng.

Selain itu, dia juga berharap agar banyak orangtua, saudara, maupun orang-orang terdekat untuk orang-orang terdekatnya. Karena, pendongeng terbaik adalah orang-orang terdekat.

"Pendongeng terbaik bagi anak itu adalah orangtuanya sendiri. Semoga semakin banyak orang-orang di sekitar kita yang mau bercerita buat orang terdekatnya. Mau saling bicara dan bercerita, biar semakin banyak hal-hal baik yang terus kita bagikan dan kita serap sama-sama," pungkasnya.

Baca Juga: Gigih menjadi Petani Organik, Dedy Ajak Anak Muda Belajar Menanam 

Topic:

  • Paulus Risang

Berita Terkini Lainnya