Mie Lethek Balungan Mbah Sur (google.com/maps/Elida 'A.Z.)
Mie lethek merupakan kuliner khas Bantul yang umumnya disajikan pada malam hari, baik dengan cara digoreng maupun direbus. Bentuknya seperti mi pada umumnya, tetapi memiliki warna cokelat kusam. Ciri khas itulah yang melatarbelakangi nama "lethek", yang dalam bahasa Jawa berarti kusam. Meski demikian, mi yang dibuat dari campuran gaplek dan tepung tapioka ini tidak menggunakan bahan pewarna maupun pengawet.
Produksi mie lethek di Bantul telah berlangsung sejak 1940-an dalam skala industri rumah tangga. Sentra produksinya berada di Dusun Bendo, Kalurahan Trimurti, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul. Proses pembuatannya masih mempertahankan cara tradisional, termasuk memanfaatkan tenaga sapi untuk menggerakkan alat pengaduk adonan.
Mie lethek biasanya dijual dalam bentuk mentah dengan harga sekitar Rp5 ribu per bungkus. Produk ini mudah ditemukan di pasar tradisional.
Saat ini, mie lethek menjadi menu andalan di sejumlah warung makan di Bantul. Beberapa yang dikenal antara lain Mie Lethek Pak Sur atau Mie Lung, yang juga dikenal sebagai mi balungan Mbah Sur di Tegallayang 10, Caturharjo, Pandak, serta Warung Mie Lethek Kang Sum di Jalan Makam Imogiri, Bantul, yang berdiri sejak 1999.