Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mie Lethek Khas Bantul Kini Bisa Dinikmati di Mana Saja, Sudah Coba?
Kemasan Mie lethek Yu Murti dari Bantul. (Dok. Pemkab Bantul)
  • Mie lethek, kuliner khas Bantul yang telah jadi Warisan Budaya Takbenda sejak 2019, kini hadir dalam versi kemasan siap masak dengan berbagai varian rasa.
  • Inovasi mie lethek instan digagas oleh Desa Preneur Trimurti di bawah pimpinan Sulastri, meski sempat ditolak toko-toko pada awal pemasaran tahun 2024.
  • Saat ini Mie Lethek Yu Murti sudah dipasarkan di 50 toko oleh-oleh Yogyakarta dengan harga Rp15–17 ribu per bungkus dan masa simpan hingga sepuluh bulan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mie lethek telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2019. Produsen mi tradisional ini banyak ditemui di Kapanewon Srandakan, terutama di Kalurahan Trimurti. Selain dijual dalam bentuk mentah, olahan mie lethek juga banyak dijajakan di berbagai wilayah Kabupaten Bantul.

Berangkat dari keinginan agar mie lethek dapat dinikmati masyarakat di berbagai daerah, Desa Preneur Trimurti yang diketuai Sulastri menghadirkan inovasi berupa mie lethek kemasan eceran siap masak. Produk tersebut dikemas dengan berbagai varian rasa dan telah dipasarkan melalui marketplace serta sejumlah gerai oleh-oleh di Yogyakarta.

Sempat alami penolakan saat dipasarkan

Sulastri, mengatakan pemasaran mie lethek kemasan sempat menghadapi tantangan pada awal produksi pada 2024. Sejumlah toko menolak menjual produk tersebut karena belum mengenal mie lethek instan.

“Pada awal produksi, kita sempat ditolak saat menawarkan produk kita di beberapa toko, mungkin karena mereka belum kenal dengan mie lethek instan ini. Namun kami terus mencoba dan pantang menyerah, sehingga saat ini produk kita sudah dipasarkan di 50 toko oleh-oleh di wilayah Yogyakarta,” ungkap Sulastri.

Harga mie lethek instan

Mie Lethek Yu Murti dijual dengan harga Rp15 ribu hingga Rp17 ribu per bungkus, bergantung pada varian rasanya. Setiap hari, produksinya mencapai 100–200 bungkus dan meningkat saat musim liburan.

Bahan baku mie lethek masih dipasok dari produsen di Padukuhan Bendo, kemudian dikemas ulang dengan tambahan bumbu dalam beberapa varian, yakni mie goreng, mie rebus original, mie rebus rasa soto, mie rebus rasa kari, dan mie rebus plencing. Meski tanpa bahan pengawet, Mie Lethek Yu Murti memiliki masa simpan sekitar enam hingga 10 bulan.

Fakta kuliner mie lethek

Mie Lethek Balungan Mbah Sur (google.com/maps/Elida 'A.Z.)

Mie lethek merupakan kuliner khas Bantul yang umumnya disajikan pada malam hari, baik dengan cara digoreng maupun direbus. Bentuknya seperti mi pada umumnya, tetapi memiliki warna cokelat kusam. Ciri khas itulah yang melatarbelakangi nama "lethek", yang dalam bahasa Jawa berarti kusam. Meski demikian, mi yang dibuat dari campuran gaplek dan tepung tapioka ini tidak menggunakan bahan pewarna maupun pengawet.

Produksi mie lethek di Bantul telah berlangsung sejak 1940-an dalam skala industri rumah tangga. Sentra produksinya berada di Dusun Bendo, Kalurahan Trimurti, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul. Proses pembuatannya masih mempertahankan cara tradisional, termasuk memanfaatkan tenaga sapi untuk menggerakkan alat pengaduk adonan.

Mie lethek biasanya dijual dalam bentuk mentah dengan harga sekitar Rp5 ribu per bungkus. Produk ini mudah ditemukan di pasar tradisional.

Saat ini, mie lethek menjadi menu andalan di sejumlah warung makan di Bantul. Beberapa yang dikenal antara lain Mie Lethek Pak Sur atau Mie Lung, yang juga dikenal sebagai mi balungan Mbah Sur di Tegallayang 10, Caturharjo, Pandak, serta Warung Mie Lethek Kang Sum di Jalan Makam Imogiri, Bantul, yang berdiri sejak 1999.

Editorial Team

Related Article