Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Fakta Unik Nasi Kucing, Makanan Khas Jogja dan Jawa Tengah

5 Fakta Unik Nasi Kucing, Makanan Khas Jogja dan Jawa Tengah
Ilustrasi Angkringan di Jogja. (IDNTimes/Febriana Sinta)
Intinya Sih
  • Nasi kucing berasal dari Yogyakarta dan Jawa Tengah, disajikan dalam porsi kecil di angkringan dengan lauk sederhana seperti teri, tempe, atau ayam suwir.
  • Makanan ini pertama kali diperkenalkan oleh Mbah Pairo di sekitar Stasiun Tugu Yogyakarta pada tahun 1950-an dan kini populer di seluruh Indonesia.
  • Nasi kucing dikenal murah meriah, menjadi pilihan favorit mahasiswa sejak era reformasi karena bisa mengenyangkan tanpa menguras kantong.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Nasi kucing adalah makanan asal khas Yogyakarta dan Jawa Tengah. Saat ini popularitasnya sudah dikenal di seluruh Indonesia. Umumnya disajikan dalam porsi kecil di angkringan. Biasa dinikmati dengan aneka sate dan lauk bacem.

Di bawah ini bakal diulas tentang asal mula dan alasan dinamakan nasi kucing.

1. Makanan murah meriah penyelamat akhir bulan

Penjual angkringan di daerah Ambarukmo, Sleman.(IDNTimes/Febriana Sinta)
Penjual angkringan di daerah Ambarukmo, Sleman.(IDNTimes/Febriana Sinta)

Nasi kucing adalah salah satu menu andalan yang ada di angkringan. Biasanya menjadi penyelamat bagi yang ingin makan kenyang tapi kanting tipis.

Nasi kucing terdiri dari nasi porsi kecil, irisan teri, dan sediki sambal. Ada juga yang menyajikan versi tidak pedas, yaitu nasi dan oseng tempe lombok ijo. Sajian nasi kucing pun berkembang tak lagi sesederhana dulu, tak hanya teri saja sekarang ada bandeng sebagai lauk, ayam suwir, serta irisan telur dadar goreng. 

2. Dari Stasiun Tugu ke berbagai daerah di Indonesia

foto angkringan kopi joss Lik Man (jogja.idntimes.com)
foto angkringan kopi joss Lik Man (jogja.idntimes.com)

Angkringan sudah ada sejak tahun 1950. Konon, nasi kucing diperkenalkan pertama kali di angkringan oleh Mbah Pairo yang berjualan di sekitar Stasiun Tugu Yogyakarta. Mbah Pairo berasal dari Klaten, yang menjajakan dagangannya dengan cara dipukul dan menetap di suatu tempat.

3. Dinamakan nasi kucing karena porsinya yang mungil

Penjual angkringan di daerah Ambarukmo, Sleman.(IDNTimes/Febriana Sinta)
Penjual angkringan di daerah Ambarukmo, Sleman.(IDNTimes/Febriana Sinta)

Nasi kucing dibuat untuk menyesuaikan daya beli masyarakat zaman dulu. Menjual makanan dengan harga mahal susah untuk dilakukan, sehingga orang mencari cara agar dapat menjual dengan harga murah. Dinamakan nasi kucing karena porsinya yang kecil seperti makanan kucing dengan lauk teri dan tempe serta secuil sambal.

4. Nasi Kucing populer pada era reformasi di kalangan mahasiswa

Ilustrasi Angkringan di Jogja. (IDNTimes/Febriana Sinta)
Ilustrasi Angkringan di Jogja. (IDNTimes/Febriana Sinta)

Nasi kucing menjadi salah satu santapan makanan yang terkenal pada zaman reformasi tahun 1998. Hal tersebut terjadi karena adanya krisis moneter, harga pangan melambung. Para mahasiswa agak kesusahan untuk membeli makanan sehari-hari karena semua serba mahal. Dan, nasi kucing inilah yang menjadi solusinya. Nasi kucing bisa membuat perut kenyang tanpa menguras kantong.

Fenomena tersebut tetap bertahan hingga saat ini, namun dengan sajian dan suasana yang sedikit berbeda. Tak hanya mahasiswa saja yang memanfaatkan angkringan dan menyantap nasi kucing, pada wisatawan ramai-ramai menyantap nasi kucing yang terdapat di kawasan Stasiun Tugu Yogyakarta.  

5. Nasi kucing dibanderol dengan harga murah meriah

Ilustrasi angkringan BOC (pexels.com/Min An)
Ilustrasi angkringan BOC (pexels.com/Min An)

Nasi kucing bisa dibeli di berbagai angkringan, yang menjadi andalan di angkringan. Dengan porsi yang mini, nasi kucing dibanderol dengan harga yang murah meriah mulai Rp2.500 rupiah. Harga tergantung lauk yang ada di dalam kemasan nasi kucing.

Tak hanya di angkringan, saat ini terdapat banyak tempat yang menjual nasi kucing. Bahkan variasi menu dan harganya juga beragam. Namun makanan ini membuat kangen siapa saja yang datang ke Jogja, kamu salah satunya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari
Follow Us

Latest Food Jogja

See More