Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Musik dan Seni Visual Melebur di Pameran Post Naissance karya Marsmolys
Pameran seni rupa bertajuk Post Naissance di Galeri RJ Katamsi, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Band psychedelic rock Yogyakarta, Marsmolys, menggelar pameran Post Naissance di Galeri RJ Katamsi ISI Yogyakarta, memadukan musik, seni visual, dan pengalaman personal selama proses kreatif album The Progeny of Holy Moly.
  • Pameran ini melibatkan sekitar 16–18 seniman yang menafsirkan musik Marsmolys ke karya visual beragam, menampilkan instalasi perjalanan band serta artwork simbolik terinspirasi energi dan suasana produksi album.
  • Kurator menilai langkah Marsmolys menunjukkan keberanian menembus batas antara musik dan seni rupa, menghadirkan tema kebangkitan manusia melalui medium dua dimensi, tiga dimensi, hingga instalasi interaktif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bantul, IDN Times – Psychedelic rock band asal Yogyakarta, Marsmolys, menghadirkan pameran seni rupa bertajuk Post Naissance di Galeri RJ Katamsi, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Senin (1/6/2026)–Sabtu (13/6/2026). Pameran ini menjadi ruang pertemuan antara musik, seni visual, hingga pengalaman personal para personel band selama proses kreatif album mereka, The Progeny of Holy Moly.

Backing Vocal & Guitar Marsmolys, Yoga Bhakti, mengatakan ide pameran bermula dari respons publik terhadap artwork album mereka yang justru lebih ramai dibanding musiknya. Artwork tersebut awalnya dibuat dalam bentuk lukisan manual, kemudian didigitalisasi untuk kebutuhan album.

“Setelah album rilis akhir tahun kemarin, ternyata banyak teman-teman yang lebih merespons artwork-nya. Dari situ muncul obrolan, kenapa nggak bikin pameran sekalian,” ujar Yoga, Senin (1/6/2026).

Kolaborasi belasan seniman dan hadirkan karya perjalanan band

Pameran seni rupa bertajuk Post Naissance di Galeri RJ Katamsi, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Menurut Yoga, proses penggarapan pameran dimulai sejak awal tahun 2026. Sejumlah seniman kemudian ikut terlibat merespons album Marsmolys melalui karya visual masing-masing. Sekitar 16 hingga 18 seniman turut bergabung dalam pameran tersebut.

Dalam salah satu ruang pamer, Marsmolys menampilkan instalasi khusus yang memuat perjalanan band, mulai dari alat musik yang biasa dipakai manggung hingga artwork album berukuran besar. Selain itu, para seniman lain juga diberi kebebasan untuk menerjemahkan musik Marsmolys ke dalam karya visual mereka.

“Misalnya ada seniman yang mendengarkan lagu kami lalu punya interpretasi sendiri dan dituangkan dalam karya. Jadi memang responsnya sangat beragam,” katanya.

Yoga menjelaskan artwork album Marsmolys terinspirasi dari energi, suasana, dan pengalaman yang mereka alami selama proses produksi album. Vokalis Marsmolys yang juga berlatar belakang seni rupa membuat konsep visual bergaya kolase dengan ornamen-ornamen simbolik seperti mata dan bentuk surealis lainnya.

“Artwork itu lahir dari mood dan energi di lirik maupun musik. Jadi ada bentuk mata, ornamen-ornamen, dan simbol lain yang muncul dari pengalaman kami,” ujar Yoga.

Meski demikian, menggabungkan musik dan seni rupa bukan perkara mudah. Sebagai pameran pertama yang diinisiasi band, Marsmolys sempat mendapat respons skeptis dari sebagian orang.

“Ada yang bilang, ‘band kok bikin pameran? Band harusnya manggung.’ Tapi justru pameran ini jadi jawaban kalau musik dan seni visual ternyata bisa dipadukan,” ucapnya.

Karya yang diangkat dari sebuah album

Pameran seni rupa bertajuk Post Naissance di Galeri RJ Katamsi, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Sementara itu, Vocal & Guitar Marsmolys, Antino Restu Aji, mengatakan album The Progeny of Holy Moly tidak dibuat dengan konsep cerita tertentu sejak awal. Lagu-lagu mereka justru lahir dari pengalaman sehari-hari yang dialami selama proses produksi album.

“Kami nggak merencanakan album ini mau bercerita apa. Yang kami rekam justru pengalaman kami selama menuju album itu selesai. Lagi penat, nggak punya uang, perjalanan ke studio, semuanya jadi bagian dari lagu,” kata Antino.

Ia menambahkan, proses kreatif Marsmolys selalu dimulai dari musik terlebih dahulu, sementara lirik menyusul kemudian sesuai emosi yang muncul dari komposisi lagu.

Marsmolys juga mengaku terinspirasi dari visual album Dangerous milik Michael Jackson yang dibuat seniman Mark Ryden. Mereka mencoba merekam pengalaman nyata dan kejadian-kejadian spontan selama proses rekaman ke dalam artwork album.

“Ada kejadian kami nabrak mobil waktu menuju studio, itu juga kami masukkan ke dalam artwork. Jadi album ini dibuat senatural mungkin,” ujar Antino.

Kolaborasi musik dan visual

Pameran seni rupa bertajuk Post Naissance di Galeri RJ Katamsi, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Penulis pameran Post Naissance, Tomi Firdaus, mengatakan pameran ini menarik karena memperlihatkan kesadaran para musisi untuk masuk ke ranah seni rupa secara lebih serius. Ia menilai langkah Marsmolys menghadirkan pameran menjadi sesuatu yang jarang dilakukan band musik.

“Mereka sadar bahwa musik tidak terlepas dari seni visual. Biasanya visual hadir di cover album, poster, atau ilustrasi. Tapi di sini mereka membawa itu menjadi sebuah pameran utuh,” kata Tomi.

Menurut Tomi, gagasan Post Naissance secara sederhana berbicara tentang “apa yang dilakukan manusia setelah terlahir kembali”. Tema tersebut kemudian ditafsirkan bebas oleh para seniman melalui berbagai medium, mulai karya dua dimensi, tiga dimensi, hingga instalasi.

“Seniman diberi kebebasan untuk merespons album Marsmolys dengan pendekatan masing-masing. Jadi hasilnya sangat beragam,” ujarnya.

Dalam pembukaan pameran, Dosen Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, Suwarno Wisetrotomo menilai langkah Marsmolys menjadi bentuk keberanian menembus batas antara musik dan seni visual. Menurutnya, seni hari ini tidak lagi terkotak-kotak dalam medium tertentu, melainkan saling melebur menjadi satu ekspresi.

“Musik hari ini tidak hanya didengar, tetapi juga bisa dilihat dan disentuh. Yang dilakukan Marsmolys menunjukkan bagaimana batas antara musik dan seni visual mulai runtuh,” katanya.

Editorial Team

Related Article