Buku dan kopi di Melek Huruf. (IDN Times/Paulus Risang)
Sebagai "ruang tamu", Nina berharap Melek Huruf bisa menjadi sebagai titik temu inklusif bagi orang-orang untuk saling mengenal, berdialog, dan bertukar wawasan dalam suasana yang nyaman.
"Semoga lewat pertemuan itu ada pertukaran wawasan, enggak cuman lewat buku, tapi bisa lewat medium lain, lewat film, lewat perbincangan. Kita berharap ini jadi safe space untuk ngomongin hal-hal yang penting buat kehidupan kita," kata dia.
Nina juga berpesan agar anak muda yang belum memiliki kegemaran membaca untuk tidak terintimidasi dengan taman baca seperti Melek Huruf.
"Aku rasa enggak perlu takut kalau misalnya, 'Aduh, aku enggak suka baca.' Sebenarnya enggak perlu terintimidasi, kalau enggak suka baca juga enggak apa-apa, tetap boleh datang ke sini. Kita berharap yang datang ke sini punya pikiran yang terbuka aja untuk untuk ngobrol, untuk melihat apa sih yang ada di sekitar kita, lebih besar dari diri kita sendiri," tutupnya.
Sementara, salah satu pengunjung, Muhammad Zaidan (16), mengaku rutin mengunjungi Melek Huruf setidaknya dua minggu sekali. Sebagai orang yang senang membaca, ia mengaku sangat terbantu dengan keberadaan Melek Huruf.
"Bisa gratis membaca, kebetulan saya belum punya buku-bukunya, jadi ke sini bisa sekalian ngopi," ujarnya.
Nah, buat kamu yang tertarik mampir ke Melek Huruf, tempat ini buka setiap Jumat hingga Senin pukul 10.00-18.00 WIB. Lokasinya bisa ditempuh sekitar satu jam dari Yogyakarta dengan kendaraan pribadi. Warungnya menyediakan kopi, teh artisan, serta makanan yang menonjolkan bahan-bahan lokal.