Muhammad Ahnaf Ramadhan Kurnia (tengah). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Perjalanan Ahnaf menuju panggung nasional tidak instan. Ia mulai mengenal Free Fire sejak 2018, saat belum memiliki ponsel pribadi. Kala itu, ia hanya bisa bermain menggunakan telepon genggam milik ayahnya sepulang bekerja.
"Dulu masih pakai HP ayah saya. Kalau ayah pulang kerja, biasanya baru pinjam HP-nya untuk main Free Fire. Syaratnya suruh pijitin dulu," kenang Ahnaf, saat konferensi di sela Grand Final FFNS, di Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada (GSP UGM), Minggu (12/7/2026).
Meski hobi bermain gim, kedua orang tuanya tetap memberikan batasan. Hal itu pun dibuktikan Ahnaf tetap bisa berprestasi di dunia akademik. Sebisa mungkin Ahnaf membagi waktu antara belajar dan bermain gim.
“Di sekolah masuk rangking 10 besar. Bagi waktunya di sekolah harus serius belajarnya, karena di rumah sudah fokus main gimnya,” ucap Ahnaf yang tergabung dalam tim Borneo Hilang Arah.
Wonderkid itu merasa senang bisa lolos hingga grand final FFNS 2026. Ia mengaku cukup percaya diri dan telah siap menghadapi grand final ini. Dukungan langsung dari keluarga, teman-teman sekolah, serta komunitas Free Fire Yogyakarta diyakini jadi energi ekstra di atas panggung FFNS 2026 Fall.
"Tentu jadi booster tambahan, karena kita sekarang bermain di Yogyakarta, aku siap menang, dan memberikan penampilan terbaik," pungkasnya optimis.