Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Vokalis Efek Rumah Kaca Ikut Aksi Gejayan Memanggil, Ini Keprihatinannya
Vokalis grup musik Efek Rumah Kaca (ERK), Cholil Mahmud. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

  • Cholil Mahmud, vokalis Efek Rumah Kaca, hadir di aksi Gejayan Memanggil sebagai bentuk solidaritas terhadap mahasiswa dan masyarakat yang menyuarakan kritik kepada pemerintah.
  • Ia menyoroti isu korupsi, kebijakan tidak responsif, konflik agraria, serta dampak lingkungan yang memicu kemarahan publik dan menyerukan pentingnya merawat gerakan masyarakat sipil.
  • Cholil mengingatkan potensi krisis ekonomi dan konflik horizontal akibat polarisasi serta menyoroti upaya pelemahan gerakan mahasiswa agar publik tetap kritis terhadap situasi sosial politik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sleman, IDN Times – Vokalis grup musik Efek Rumah Kaca (ERK), Cholil Mahmud, turut hadir dalam aksi Rakyat Memanggil yang digelar di Pertigaan Gejayan, Kabupaten Sleman, Sabtu (13/6/2026). Kehadirannya disebut sebagai bentuk solidaritas kepada mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat yang turun ke jalan menyuarakan kritik terhadap pemerintah.

Cholil mengaku sengaja datang karena tidak sempat mengikuti aksi serupa yang digelar di Jakarta. Momen berada di Jogja dimanfaatkannya untuk bergabung bersama massa aksi.

“Gejayan Memanggil 2019, kalau enggak salah punya dampak yang signifikan buat teman-teman di berbagai daerah juga. Kemarin di Jakarta enggak bisa ikut, terus pas lagi di Jogja ada ini, pengin hadir dan memberikan solidaritas untuk kawan-kawan yang sedang berjuang,” ujarnya.

Menurut Cholil, gerakan masyarakat sipil seperti yang berlangsung di Gejayan perlu dijaga agar tidak kehilangan momentum. Ia menilai aksi tersebut merupakan awal dari gerakan yang lebih terorganisasi dalam merespons berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Gerakan yang harus dirawat, diasah agar enggak mengempis di tengah jalan. Ini saya pikir permulaan dari sebuah gerakan masyarakat yang lebih terkoordinasi,” katanya.

1. Soroti korupsi hingga konflik agraria

Aksi Rakyat Memanggil yang digelar di Pertigaan Gejayan, Kabupaten Sleman, Sabtu (13/6/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Dalam pandangannya, berbagai persoalan yang terjadi saat ini telah menumpuk dan memicu kemarahan publik. Mulai korupsi, kebijakan pemerintah yang dinilai kurang responsif terhadap kritik masyarakat, hingga persoalan lingkungan dan konflik agraria.

Cholil menyinggung sejumlah isu seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, perizinan tambang, hingga dampak eksploitasi lingkungan yang menurutnya belum ditangani secara serius.

“Jadi semuanya menjadi satu kemarahan. Kalau saya bandingkan sama 1998, hal-hal seperti ini mesti dirawat (sikap kritis masyarakat) dan muncul mingguan. Rasanya masih seperti 1998,” ungkapnya.

2. Waspadai krisis ekonomi dan konflik horizontal

Aksi Rakyat Memanggil yang digelar di Pertigaan Gejayan, Kabupaten Sleman, Sabtu (13/6/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Selain persoalan politik dan sosial, Cholil menilai kondisi ekonomi semakin berat yang berpotensi meningkatkan ketidakpuasan publik. Ia menyinggung pelemahan nilai tukar rupiah dan tekanan terhadap keuangan negara yang berdampak pada kehidupan masyarakat.

Menurutnya, situasi tersebut dapat memicu kemarahan publik apabila tidak direspons dengan baik oleh pemerintah. Di sisi lain, Cholil mengingatkan pentingnya menghindari konflik horizontal di tengah meningkatnya polarisasi masyarakat. Ia menilai peran buzzer di ruang digital kerap memperuncing perpecahan antarwarga.

“Semoga konflik horizontal antar masyarakat bisa dihindari. Dengan adanya buzzer itu jadi lebih memungkinkan terjadinya konflik antara masyarakat dengan masyarakat. Itu yang sebenarnya disayangkan,” katanya.

3. Kritik upaya pelemahan gerakan mahasiswa

Aksi Rakyat Memanggil yang digelar di Pertigaan Gejayan, Kabupaten Sleman, Sabtu (13/6/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Cholil juga menanggapi kabar upaya pelemahan aksi mahasiswa yang sebelumnya terjadi di Jakarta. Menurutnya, hal tersebut bukan hal baru dan telah berlangsung dalam berbagai momentum.

“Upaya kayak gitu dilakukan terus-menerus. Bukan hanya saat itu saja, tapi sebelumnya juga sama. Ketua-ketua BEM ada yang dipecah, ada yang berangkat, ada yang enggak, ada yang mendukung pemerintah juga,” ujarnya. Ia berharap masyarakat tetap kritis dan mampu menjaga kepekaan terhadap persoalan yang terjadi di sekitarnya.

Editorial Team

Related Article