Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Usia Bukan Halangan, Guru 48 Tahun Lulus S2 UT dengan IPK Sempurna
Imam Toifur, wisudawan Program Magister Pendidikan Matematika Universitas Terbuka (UT) Yogyakarta. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Guru matematika Imam Toifur, 48 tahun, meraih IPK 4,00 pada Magister Pendidikan Matematika UT Yogyakarta sambil mengajar di SMA Negeri 1 Salaman, Magelang.
  • Imam memilih pembelajaran jarak jauh UT agar dapat menyeimbangkan pekerjaan, kuliah, dan keluarga; ia mengatasi adaptasi akademik setelah dua dekade serta kendala internet dan penulisan tugas akhir.
  • UT Yogyakarta mewisuda 1.635 lulusan dan menegaskan akses pendidikan fleksibel serta inklusif, termasuk bagi lebih dari 650 mahasiswa berkebutuhan khusus pada registrasi 2026.1.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Yogyakarta, IDN Times – Usia bukan penghalang untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensi. Hal itu dibuktikan Imam Toifur, wisudawan Program Magister Pendidikan Matematika Universitas Terbuka (UT) Yogyakarta, yang berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00 pada Wisuda Periode II Tahun 2026.

Di usianya yang kini menginjak 48 tahun, pria asal Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tersebut berhasil menuntaskan pendidikan magister di tengah kesibukannya sebagai guru matematika di SMA Negeri 1 Salaman, Magelang.

Perjalanan akademik Imam bukan tanpa tantangan. Ia memulai pendidikan S2 sekitar empat tahun lalu, saat berusia 44 tahun. Keputusan untuk kembali menempuh pendidikan tinggi diambil demi menambah pengetahuan sekaligus meningkatkan kompetensinya sebagai pendidik.

“Saat itu memang saya ingin menambah ilmu, kemudian meningkatkan kompetensi dalam mengajar. Saya sudah mengajar, karena tugas mengajar itu adalah yang utama, sedangkan kuliah juga merupakan sebuah pilihan. Maka harus mengambil keputusan untuk kuliah yang bisa fleksibel,” ujar Imam, di Alana Yogyakarta, Minggu (18/10/2026).

Pilihan Imam jatuh pada Universitas Terbuka karena sistem pembelajarannya memungkinkan mahasiswa menempuh pendidikan tanpa harus meninggalkan pekerjaan. Meski secara geografis Magelang dekat dengan Yogyakarta, ia menilai perkuliahan reguler berpotensi menyulitkan pembagian waktu karena berlangsung pada hari kerja, saat dirinya harus mengajar.

Melalui sistem pembelajaran jarak jauh yang diterapkan UT, Imam dapat menjalankan tiga tanggung jawab sekaligus, yakni sebagai guru, mahasiswa, dan anggota keluarga. “Karena memang secara model pembelajarannya itu bisa jarak jauh, waktunya fleksibel, kemudian tidak terbatas waktu maupun tempat maupun usia,” tuturnya.

1. Kembali Kuliah Setelah Dua Dekade

Prosesi wisuda Universitas Terbuka Yogyakarta, di Alana Yogyakarta, Minggu (18/10/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Salah satu tantangan yang dihadapi Imam adalah kembali menjalani kehidupan akademik setelah cukup lama menyelesaikan pendidikan sarjana. Ia menamatkan pendidikan S1 pada 2002, sebelum akhirnya melanjutkan studi magister sekitar dua dekade kemudian.

Meski demikian, latar belakang pendidikan matematika yang dimilikinya serta pengalaman mengajar sehari-hari membantu proses adaptasi selama perkuliahan. 

Dalam pelaksanaannya, kegiatan akademik lebih banyak dilakukan secara daring, mulai dari mengerjakan tugas mingguan, berdiskusi, hingga mengikuti pertemuan dengan dosen atau tutor yang dijadwalkan secara berkala. Imam mengaku secara umum tidak mengalami kendala berarti selama mengikuti perkuliahan. 

Hambatan sesekali muncul ketika akses internet kurang stabil. Namun, sistem pengerjaan tugas yang memberikan rentang waktu cukup panjang membuatnya tetap bisa menyelesaikan kewajiban akademik.

Tantangan lain justru muncul ketika harus mengerjakan tugas akhir. Setelah lama tidak menulis karya ilmiah, ia perlu kembali membiasakan diri menyusun tulisan akademik.

“Kendalanya itu ketika akan menulis. Lama tidak menulis, jadi bingung apa yang mau ditulis,” ungkapnya.

Dalam proses pembelajaran, mahasiswa juga dituntut aktif berdiskusi, menyusun presentasi, serta menyampaikan pendapat. Menurut Imam, dosen berperan membantu ketika mahasiswa menghadapi persoalan, sehingga kemandirian menjadi bagian penting dalam menjalani perkuliahan. 

Keberhasilan meraih IPK 4,00 pun tidak terlepas dari dukungan keluarga, terutama sang istri, yang memberikan ruang bagi Imam untuk tetap menjalankan peran sebagai pendidik sekaligus mahasiswa.

Ia berupaya menjaga keseimbangan antara pekerjaan, pendidikan, dan keluarga, dengan memanfaatkan jadwal perkuliahan yang banyak berlangsung pada akhir pekan.

2. Ilmu untuk Meningkatkan Kompetensi Siswa

Prosesi wisuda Universitas Terbuka Yogyakarta, di Alana Yogyakarta, Minggu (18/10/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Setelah menyelesaikan pendidikan magister, Imam berharap ilmu yang diperolehnya dapat memberikan manfaat lebih besar dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Baginya, pendidikan bukan semata-mata tentang memperoleh gelar akademik, melainkan juga tentang bagaimana seseorang menghargai ilmu dan menggunakannya untuk meningkatkan kualitas diri. 

Ia berharap para siswa SMA dapat memiliki semangat serupa untuk terus belajar, baik dengan melanjutkan pendidikan tinggi maupun menempuh pendidikan sambil bekerja. “Harapannya, anak-anak itu bisa benar-benar menghargai ilmu, karena yang namanya ilmu memang menjadi kewajiban kita untuk mencari,” katanya. 

Imam juga melihat bahwa kesempatan melanjutkan pendidikan tidak seharusnya dibatasi oleh usia ataupun kondisi pekerjaan. Ia bahkan mengetahui sejumlah mantan siswanya yang memilih kuliah di UT setelah lulus SMA, baik dengan langsung melanjutkan pendidikan maupun bekerja terlebih dahulu.

Untuk saat ini, Imam belum berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral. Ia masih mempertimbangkan kemungkinan tersebut apabila tersedia program S3 bidang matematika dengan model pembelajaran yang sesuai kebutuhannya.

3. UT Dorong Semangat Belajar Sepanjang Hayat

(ki-ka) Direktur Universitas Terbuka Yogyakarta, Prof. Agus Santoso, Sekretaris Universitas Terbuka, Kurnia Endah Riana, Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Terbuka Yogyakarta, Partogi Dame Pakpahan. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Direktur Universitas Terbuka Yogyakarta, Prof. Agus Santoso, menyampaikan bahwa keberhasilan para wisudawan merupakan hasil dari perjuangan mahasiswa serta dukungan keluarga yang menyertainya. Ia berpesan agar para lulusan tidak berhenti belajar setelah memperoleh gelar akademik. “Ijazah itu hanya bukti bahwa seseorang telah menyelesaikan tahapan pendidikan, bukan tanda berakhirnya proses belajar,” ujar Agus.

Menurutnya, perubahan teknologi dan kompleksitas tantangan masyarakat menuntut setiap lulusan untuk terus meningkatkan kompetensi serta beradaptasi dengan perkembangan zaman. Agus juga menekankan bahwa keberhasilan tidak cukup diukur dari gelar akademik yang diperoleh, tetapi juga dari manfaat ilmu dan keterampilan yang diberikan kepada keluarga, lingkungan kerja, masyarakat, dan bangsa.“Kami berharap para lulusan Universitas Terbuka tetap menjadi pribadi yang berkompetensi, mandiri, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial,” katanya.

Ia menambahkan, UT hadir untuk memberikan akses pendidikan tinggi berkualitas, fleksibel, dan menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Kesempatan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan lebih luas untuk mengembangkan diri, berkontribusi terhadap pembangunan, serta memperbaiki masa depan keluarga.

Komitmen memperluas akses pendidikan tinggi juga ditegaskan Sekretaris Universitas Terbuka, Kurnia Endah Riana. Ia menyebutkan bahwa UT berupaya melayani masyarakat dengan beragam latar belakang dan kebutuhan, termasuk mahasiswa berkebutuhan khusus serta masyarakat yang tinggal di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). “Pada saat ini, di masa registrasi 2026.1 kemarin, Universitas Terbuka melayani lebih dari 650 mahasiswa berkebutuhan khusus,” ungkap Kurnia.

Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa UT berkomitmen membuka kesempatan pendidikan tinggi bagi siapa saja, tanpa dibatasi kondisi maupun lokasi tempat tinggal. Upaya memperluas akses tersebut sekaligus menjadi bagian dari misi UT dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pendidikan tinggi yang inklusif dan berkualitas.

Sementara itu, Ketua Ikatan Keluarga Alumni Universitas Terbuka Yogyakarta, Partogi Dame Pakpahan, menyampaikan kebahagiaannya menyambut para lulusan yang telah menyelesaikan pendidikan dengan dukungan almamater. Ia mengatakan, organisasi alumni berkomitmen memperkuat persatuan serta melanjutkan kontribusi kepada almamater, salah satunya melalui upaya pemberian beasiswa bagi mahasiswa yang membutuhkan. “Kami akan menggalang suatu persatuan dan kesatuan untuk terus memberikan beasiswa kepada adik-adik yang sedang membutuhkannya,” kata Partogi.

Ia menegaskan, sinergi antara alumni dan almamater perlu terus dijaga demi mendukung kemajuan Universitas Terbuka serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Pada periode wisuda kali ini, UT Yogyakarta meluluskan lebih dari 1.000 wisudawan. Total ada 1.635 lulusan yang diwisuda kali ini. Angka itu mencakup 509 wisudawan FEB, 371 wisudawan FHISIP, 548 wisudawan FKIP, 104 wisudawan FST, 14 wisudawan Pascasarjana dan 89 wisudawan Vokasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article