Pajangan, Bantul Jadi Wilayah Tanpa Hujan Terlama di Indonesia

BPP Pajangan, Bantul, mencatat hari tanpa hujan terpanjang di Indonesia pada 2026, mencapai 161 hari hingga dasarian I Oktober menurut BMKG Yogyakarta.
Musim hujan di DIY diperkirakan mundur sekitar 30 hari dari normal akibat El Nino sangat kuat yang diproyeksikan bertahan hingga awal 2027, berisiko memperpanjang kemarau.
BMKG mengingatkan potensi hujan lebat, angin kencang, dan petir secara lokal pada 13–19 Oktober, sehingga warga perlu mengantisipasi kekeringan sekaligus perubahan cuaca ekstrem.
Bantul, IDN Times - Wilayah Pajangan di Kabupaten Bantul, menjadi lokasi dengan periode hari tanpa hujan (HTH) terpanjang di Indonesia sepanjang 2026.
Berdasarkan pembaruan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga awal Oktober, HTH di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Pajangan mencapai 161 hari. "Hingga update dasarian I Oktober 2026 mencapai 161 hari," kata Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II BMKG Yogyakarta, Mamenun, saat dihubungi, Jumat (16/10/2026).
1. HTH tahun ini belum lampaui rekor 2015

ilustrasi lahan mengering saat musim kemarau (pexels.com/kevin yung) Mamenun menyebut, periode tanpa hujan pada 2026 masih lebih pendek dibanding rekor yang tercatat pada 2015. Kala itu, Indonesia juga mengalami fenomena El Nino. "Tercatat HTH terpanjang 245 (hari)," katanya.
Lamanya kemarau tahun ini menjadi perhatian BMKG karena awal musim hujan di Jogja, diperkirakan mundur dari jadwal normal. El Nino dengan intensitas sangat kuat turut memengaruhi kondisi tersebut dan berpotensi membuat periode kering bertahan hingga awal 2027.
2. Awal musim hujan diprediksi mundur sekitar 30 hari
BMKG memperkirakan musim hujan tahun ini di Jogja datang lebih lambat sekitar tiga dasarian atau 30 hari dibandingkan rata-rata klimatologis periode 1991–2020.
Menurut Mamenun, salah satu faktor yang memengaruhi pergeseran awal musim hujan adalah El Nino yang diperkirakan masih berlangsung dengan intensitas sangat kuat hingga awal tahun depan.
"El Nino masih di level sangat kuat dan diprediksi masih bertahan hingga awal tahun 2027, ini mundurnya terhadap klimatologisnya," jelas Mamenun.
Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang kemarau di sejumlah wilayah dan berdampak pada ketersediaan air. Mamenun mengimbau masyarakat mengantisipasi kemungkinan kekeringan, terutama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta menunjang aktivitas yang bergantung pada pasokan air.
3. Potensi cuaca ekstrem tetap perlu diwaspadai
Di tengah panjangnya periode kering, BMKG mengingatkan sejumlah wilayah DIY masih berpotensi mengalami cuaca ekstrem. Pada 13-19 Oktober 2026, hujan lebat, angin kencang, dan petir diperkirakan dapat terjadi secara lokal.
Perbedaan kondisi atmosfer memungkinkan hujan turun di wilayah tertentu meskipun daerah lain masih mengalami HTH berkepanjangan. Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap perubahan cuaca dan memantau informasi terbaru dari BMKG.
Langkah antisipasi ini diperlukan untuk menghadapi potensi cuaca ekstrem sekaligus mempersiapkan diri terhadap kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih lama dari kondisi normal.



















