Peluncuran Becak Kayuh Listrik Pariwisata (Bekalista). (Dok. Istimewa)
Menariknya, Bekalista dikembangkan sepenuhnya melalui kolaborasi sumber daya lokal. Mulai dari proses perancangan, perakitan, instalasi kelistrikan, hingga pengembangan teaching factory dilakukan di Yogyakarta.
SMK Negeri 3 Yogyakarta menjadi bengkel induk program tersebut, bekerja sama dengan lima SMK di DIY, PT YPTI Engineering Kalasan, serta berbagai mitra lokal.
Ketua Koperasi Mobilitas Nusantara Istimewa (MNI) sekaligus Direktur Utama PT Langit Biru Istimewa, Ary Tjahyono, mengatakan Bekalista dirancang dengan standar keselamatan dan kenyamanan tinggi.
"Becak listrik ini menggunakan motor BLDC Hub 750 watt dan baterai LiFePO4 48V 30Ah yang mampu menempuh jarak hingga 50 kilometer dalam sekali pengisian daya," ucapnya.
Selain itu, kendaraan memiliki kapasitas angkut hingga 350 kilogram, kecepatan operasional sekitar 15 kilometer per jam, sistem rem ganda, dan kursi yang lebih nyaman bagi wisatawan.
Untuk mendukung operasional, tersedia 12 stasiun pengisian daya, satu bengkel bergerak, delapan baterai cadangan, serta jaringan perawatan terintegrasi. Dengan ekosistem tersebut, pengemudi Bekalista diproyeksikan dapat memperoleh pendapatan bersih minimal Rp3 juta per bulan dengan jam kerja sekitar 6–8 jam per hari.