Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tingkatkan Hidup Lansia, Pemkot Yogyakarta Jalankan 11 Sekolah Lansia
Pemkot Yogyakarta tahun ini mengelola total 11 Sekolah Lansia yang dibiayai melalui APBD Pemkot Yogyakarta. (Dokumentasi Pemkot Yogyakarta)
  • Pemkot Yogyakarta mengelola 11 Sekolah Lansia untuk meningkatkan kualitas hidup lansia agar tetap sehat, mandiri, aktif, dan produktif melalui pendanaan APBD tahun 2026.

  • Program ini menargetkan setiap sekolah memiliki sekitar 70 peserta dengan antusiasme tinggi dari lansia di berbagai wilayah.

  • Kurikulum Sekolah Lansia menggabungkan teori dan praktik interaktif mencakup kesehatan, kewirausahaan, serta aktivitas fisik agar lansia tetap tangguh dan merasa berdaya.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times - Pemerintah Kota Yogyakarta berupaya meningkatkan kualitas hidup lansia agar tetap sehat, mandiri, aktif, dan produktif. Salah satu cara yang dilaksanakan adalah menjalankan sembilan sekolah Lansia yang sudah dikukuhkan sejak Februari lalu.

Kepala Bidang Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga DP3AP2KB Kota Yogyakarta, Herristanti, menjelaskan tahun ini pihaknya mengelola total 11 Sekolah Lansia yang dibiayai melalui APBD Pemkot Yogyakarta.

“Yang kami danai ada 11, terdiri dari 9 Sekolah Lansia Standar 1 yang baru di 2026, kemudian masing-masing satu untuk Standar 2 dan Standar 3,” katanya dikutip laman resmi Pemkot, Senin (6/4/2026).

1. Angka harapan hidup tinggi

Menurut Herristanti, program Sekolah Lansia merupakan respons atas kondisi demografi di Kota Yogyakarta yang memiliki angka harapan hidup tinggi, yakni sekitar 75,4 tahun, sekaligus jumlah lansia yang cukup besar di wilayah perkotaan.

“Ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Harapannya lansia tidak hanya panjang umur, tapi juga berkualitas. Tetap sehat, mandiri, aktif, dan merasa berdaya,” jelasnya.

Ia menambahkan ke depan Pemkot Yogyakarta menargetkan seluruh 45 kelurahan memiliki Sekolah Lansia di masing-masing wilayah. Namun, keterbatasan anggaran membuat pengembangan program perlu dilakukan melalui skema kolaborasi.

“Kita terbuka untuk kerja sama dengan perguruan tinggi, swasta, maupun masyarakat. Skemanya bisa gotong royong, tapi tetap harus mengikuti standar dan kurikulum yang ada, minimal berjalan tiga tahun,” tegasnya.

Herristanti mengingatkan agar pihak-pihak yang ingin mengembangkan program serupa harus berkomitmen dan tidak hanya menggunakan nama Sekolah Lansia tanpa mengikuti standar yang telah ditetapkan.

“Jangan hanya branding, tapi substansinya berbeda. Ini sudah ada kurikulum dan tahapan yang jelas,” katanya.

2. Sempat libur saat puasa

Sementara itu, Penelaah Teknis Kebijakan Bidang KB dan Pembangunan Keluarga DP3AP2KB Kota Yogya, Sri Hartati, menjelaskan sembilan Sekolah Lansia baru tersebut telah diluncurkan pada 10 Februari 2026, sekaligus dengan pembelajaran perdana dan pengukuhan pengurus.

“Setelah sempat jeda karena libur puasa, sekarang mulai berjalan lagi. Yang paling dekat di Sorosutan tanggal 4 April, dan lainnya menyusul sepanjang April,” katanya.

Ia membeberkan bahwa setiap Sekolah Lansia menargetkan 70 peserta, terdiri dari 50 lansia dan 20 pengurus yang umumnya berasal dari kelompok pra-lansia. Secara umum, target tersebut tercapai di sembilan lokasi, meski terdapat variasi jumlah peserta di beberapa wilayah.

“Ada wilayah yang pesertanya membeludak sampai harus seleksi, seperti di Kotagede. Tapi ada juga yang awalnya kurang, kemudian kita arahkan untuk disosialisasikan lagi akhirnya memenuhi kuota,” jelasnya.

3. Antusiasme lansia tinggi

Sri Hartati menambahkan antusiasme lansia terhadap program ini sangat tinggi. Pada Sekolah Lansia percontohan tahun 2025 di Suryodiningratan, tingkat kehadiran bahkan mendekati 100 persen.

“Kalau tidak hadir biasanya karena sakit atau ada keperluan mendesak, dan mereka selalu konfirmasi. Artinya keterikatannya kuat,” katanya.

Dari sisi pembelajaran, Sekolah Lansia mengadopsi kurikulum dari BKKBN dengan pendekatan yang lebih interaktif dan partisipatif. Materi yang diberikan mencakup proses menua, kesehatan lansia, sindrom geriatri, hingga tujuh dimensi lansia tangguh. Namun, metode pembelajaran tidak didominasi teori.

“Komposisinya sekitar 40 persen teori dan 60 persen praktik. Jadi lebih banyak aktivitas seperti senam, yel-yel, permainan, diskusi, sampai outing class agar lansia tidak bosan,” kata Sri Hartati.

Selain itu, terdapat pula materi kewirausahaan yang bertujuan mendorong lansia tetap produktif. Namun, produktivitas tidak selalu diartikan sebagai menghasilkan pendapatan. “Yang penting lansia merasa berdaya dan tidak menjadi beban. Itu yang kita dorong,” jelasnya.

Editorial Team