"Ibu-ibu hari ini kita panen buncis ya. Mumpung banyak yang bisa kita petik, dan harganya pas mahal. Lombok yang dipetik baru rawit ya"
Yogyakarta, IDN Times - Itulah seruan yang disampaikan Ibu Marthin Kusumarahayu, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Rejosari yang terletak di Dusun Kledokan, Caturtunggal Depok, Sleman saat memimpin piket hari ini, Rabu (23/9/2026). Sebagai ketua, ia harus datang setiap jam 16.00 WIB untuk memeriksa panenan sekaligus memberikan arahan harga sayuran.
Tak hanya melihat kebun, tiap hari perempuan berusia 59 tahun ini harus memantau media sosial untuk melihat perkembangan harga sayur. Ia akan menentukan besaran harga untuk dijual ke pedagang pasar sekaligus kepada anggotanya.
"Kalau harga untuk anggota KWT ada diskon banyak dibanding dari harga pasar. Jadi lebih murah banget," terangnya kepada IDN Times.
Bagi anggota yang sedang piket, diperbolehkan untuk memetik dan mengambil sayur gratis. "Jadi anggota kami ada 40 lebih, dibagi enam hari untuk piket. Mereka boleh mengambil gratis, tapi secukupnya saja, karena hasil petikan kan dibagi untuk semua anggota. Ya boleh ambil, tapi gak boleh banyak," tuturnya.
