Film Laut Bercerita, Keinginan Merawat Ingatan dan Sejarah

- Film Laut Bercerita mengangkat penghilangan paksa aktivis Orde Baru, trauma keluarga, dan perjuangan mencari keadilan, dengan fokus pada resiliensi serta harapan para korban dan penyintas.
- Yosep Anggi Noen mengadaptasi novel Leila S. Chudori dengan alur linear, riset sejarah, dan adegan tambahan untuk memperkuat konteks sosial-politik 1990-an.
- Pemeran dan Pal 8 Pictures menilai film ini merawat ingatan sejarah, menyuarakan isu HAM, serta menggambarkan semangat anak muda memperjuangkan kebebasan berekspresi dan keadilan.
Yogyakarta, IDN Times – Film Laut Bercerita garapan sutradara Yosep Anggi Noen tidak hanya mengangkat kisah penghilangan paksa aktivis pada masa Orde Baru. Diadaptasi novel best seller karya Leila S. Chudori, film persembahan Pal 8 Pictures ini juga menyoroti trauma keluarga yang ditinggalkan, perjuangan keluarga korban, serta harapan untuk mewujudkan Indonesia lebih baik.
Yosep Anggi Noen mengatakan proses penggarapan film ini tidak hanya bertumpu pada novel. Ia juga membaca berbagai laporan jurnalistik, serta dokumen dan buku yang membahas gerakan politik pada masa tersebut. Namun Anggi tidak ingin menjadikan adegan kekerasan sebagai pusat perhatian dalam filmnya. Ia memilih menyoroti dampak yang dirasakan para korban dan keluarga mereka.
“Yang ingin saya tunjukkan itu sebenarnya adalah efek dari itu. Traumatik momennya pasca kekerasan itu kuat sekali. Plus sebenarnya juga membayangkan keluarga yang membayangkan kekerasan. Itu mengerikan sekali sebagai sebuah keluarga,” ujar Anggi, saat konferensi pers di Yogyakarta, Jumat (23/10/2026).
Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada keluarga korban dan para penyintas. Ia ingin penonton memahami bagaimana mereka bertahan, menjaga harapan, dan terus memperjuangkan keadilan di tengah ketidakpastian. "Jadi menurut saya fokus kita itu jujur ke bagaimana resiliensi orang. Resiliensi keluarga. Keputusan untuk tetap berharap," ucap Anggi.
1. Kisah keluarga yang kehilangan anak pada masa Orde Baru

Sutradara Film Laut Bercerita, Yosep Anggi Noen. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo) Laut Bercerita diangkat berdasarkan novel Leila S. Chudori yang menggambarkan kehidupan anak-anak muda era 1980-an hingga 1990-an. Mereka menyuarakan keresahan terhadap ketidakadilan, korupsi, dan ketidaktransparanan pemerintah.
Upaya untuk berserikat dan menyampaikan kritik politik pada masa Orde Baru membawa konsekuensi serius. Sejumlah aktivis mengalami penghilangan paksa, sementara keluarga harus menghadapi ketidakpastian dan terus mencari keberadaan keluarga yang hilang.
Anggi menegaskan cerita ini merupakan kisah tentang keluarga yang kehilangan anaknya. Karena itu, film tidak semata-mata berbicara tentang peristiwa politik, tetapi juga pengalaman manusia yang harus hidup dengan kehilangan.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga harapan sebagai bagian dari perjuangan. Gerakan untuk memperjuangkan keadaan yang lebih baik tidak bisa berhenti hanya karena perubahan belum terwujud. “Kalau kemudian tidak ada negeri yang lebih baik, kita tetap terus berusaha. Makanya yang disebut melawan itu tidak bisa berhenti,” katanya.
Anggi juga menceritakan proses adaptasi dari novel ke film, Anggi mengatakan novel dan film memiliki karakteristik yang berbeda. Novel Laut Bercerita memiliki alur yang bergerak maju dan mundur, sedangkan film disusun dengan alur linear agar lebih mudah diikuti penonton.
Menurutnya, penyesuaian tersebut diperlukan karena pengalaman membaca novel berbeda dengan menonton film di bioskop. Film harus menyampaikan cerita dalam durasi yang terbatas tanpa memberikan kesempatan kepada penonton untuk menghentikan atau mengulang adegan sesuka hati.
Selain menyederhanakan alur, tim produksi juga menambahkan sejumlah adegan untuk memperkuat konteks sejarah. Salah satunya adalah demonstrasi anak-anak muda pada 1990-an sebagai bentuk protes terhadap putusan pengadilan yang menjatuhkan hukuman delapan tahun penjara kepada seseorang karena membaca buku karya Pramoedya Ananta Toer.
Adegan tersebut tidak terdapat dalam novel, tetapi dihadirkan untuk mempertegas situasi sosial dan politik yang melatarbelakangi cerita. Tantangan produksi juga muncul ketika tim harus membuat adegan demonstrasi di ladang jagung pada malam hari dalam kondisi hujan. Anggi mengatakan tim bahkan menanam jagung selama tiga bulan agar tanaman mencapai ketinggian yang sesuai dengan kebutuhan adegan.
2. Reza Rahadian ajak penonton merawat ingatan sejarah

Konferensi pers Film Laut Bercerita di Yogyakarta, Jumat (23/10/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo) Aktor Reza Rahadian, yang memerankan Biru Laut, menilai Laut Bercerita penting untuk ditonton karena membawa semangat anak muda dalam menyuarakan keresahan dan memperjuangkan keadilan. Dalam film tersebut, Biru Laut dan kelompoknya mewakili anak-anak muda yang berupaya menyampaikan pendapat melalui tulisan, demonstrasi, dan berbagai aksi.
Reza berharap semangat itu dapat menjangkau penonton masa kini. Menurutnya, anak muda sekarang memiliki lebih banyak ruang untuk menyampaikan aspirasi dibandingkan generasi yang hidup pada masa Orde Baru. “Kalau hari ini bisa melalui unggahan, bisa melalui media sosial, dan lain-lain. Nah, spirit-spirit itu mudah-mudahan bisa sampai kepada penonton,” ujar Reza.
Selain menyampaikan semangat aktivisme, ia menekankan pentingnya merawat ingatan tentang sejarah penghilangan paksa agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi. Reza juga mengingatkan bahwa tekanan terhadap kebebasan berekspresi dapat hadir dalam bentuk yang berbeda pada masa kini, termasuk perundungan siber dan pembatasan jangkauan konten di media sosial.
Sementara Dian Sastrowardoyo yang memerankan Kinan, mengaku melakukan riset untuk memahami karakter aktivis perempuan dalam film tersebut. Ia menemukan sosok Kinan terinspirasi dari pengalaman sejumlah aktivis perempuan yang terlibat dalam gerakan mahasiswa pada 1997–1998.
Menurut Dian, karakter Kinan merupakan gabungan dari beberapa sosok nyata yang menjadi sumber inspirasi penulis novel, Leila S. Chudori. Salah satunya adalah aktivis perempuan Lilik HS. Dian mengatakan pertemuannya dengan para aktivis membantunya memahami cara berpikir dan kehidupan mereka, termasuk bagaimana perjuangan menjadi prioritas utama. “Mereka tuh gak sempat mikirin cinta ataupun naksir sama siapa. Karena justru mereka kayaknya hidup matinya udah benar-benar memperjuangkan keadilan,” kata Dian.
Dalam memerankan Kinan, Dian berusaha menyerap pengalaman dan perspektif para aktivis perempuan tersebut. Ia ingin menunjukkan karakter yang serius memperjuangkan kepentingan kelompok, memikirkan strategi, dan menjaga keselamatan rekan-rekannya.
Baginya, Kinan bukan sekadar karakter perempuan dalam gerakan mahasiswa, melainkan sosok yang memiliki peran penting dalam menyusun strategi perjuangan dan memastikan seluruh anggota kelompok dapat saling melindungi.
3. Film sebagai medium menyuarakan isu HAM

Direktur Pal 8 Pictures, Budi Setyarso. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo) Direktur Pal 8 Pictures, Budi Setyarso, mengatakan film menjadi salah satu medium yang efektif untuk menyampaikan nilai dan isu yang ingin diperjuangkan. Melalui Laut Bercerita, pihaknya ingin mengajak masyarakat kembali melihat sejarah sekaligus memikirkan masa depan Indonesia. Budi menyebut Indonesia yang lebih baik sebagai negara yang tidak melanggar hak asasi manusia warga negaranya, tidak menoleransi korupsi, dan menghargai sesama.
Menurutnya, kekuatan film terletak pada bahasa visual dan pengalaman menonton yang memungkinkan penonton memusatkan perhatian pada cerita. “Untuk kami merasakan ini sebuah platform yang penting. Dan ya Alhamdulillah banyak didukung oleh teman-teman yang punya visi yang sama,” ujar Budi.






















