Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rupiah Melemah, Begini Kinerja Ekspor dan Impor di Jogja
Ilustrasi Ekspor (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Ekspor DIY Januari–April 2026 naik 17,54 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan Amerika Serikat menjadi tujuan utama dan sektor pertanian mencatat kenaikan tertinggi.
  • Nilai impor DIY turun 22,60 persen pada periode yang sama, dengan Tiongkok sebagai pemasok terbesar dan kain rajutan menjadi komoditas impor utama.
  • Pelemahan rupiah berdampak beragam bagi pelaku usaha; produsen berbahan baku lokal yang mengekspor produk justru diuntungkan oleh kondisi ini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times – Di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, kinerja ekspor di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami lonjakan pada April 2026 dibanding April 2025. Sementara itu nilai impor mengalami penurunan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, nilai ekspor DIY Januari-April 2026 mencapai US$206,83 juta atau naik 17,54 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Ekspor Januari-April 2026 terbesar adalah ke Amerika Serikat sebesar US$91,05 juta, disusul Australia sebesar US$27,68 juta, dan Jerman hingga US$17,68 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 65,96 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa sebesar US$44,21 juta dan ASEAN senilai US$4,85 juta.

1. Kinerja ekspor di DIY

Ilustrasi ekspor-impor. (IDN Times/Aditya Pratama)

Plt Kepala BPS DIY, Endang Tri Wahyuningsih mengatakan plastik dan barang dari plastik mengalami kenaikan terbesar pada April 2026 dibanding Maret 2026 sebesar US$17,69 juta. Sedangkan kenaikan terkecil adalah barang dari batu, semen, asbes, atau mika sebesar US$0,17 juta.

Menurutnya sektor ekspor hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan pada Januari-April 2026 naik 58,06 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Sedangkan sektor industri pengolahan naik 17,24 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.

“Sektor pertambangan hampir tidak mengalami perubahan atau mendekati nol dibanding periode yang sama tahun 2025,” ujar Endang, Selasa (2/6/2026).

2. Nilai impor mengalami penurunan

ilustrasi impor (IDN Times/Aditya Pratama)

Sementara itu, nilai impor DIY pada Januari-April 2026 mencapai US$50,72 juta, turun 22,60 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Sementara pada April 2026 dibanding tahun 2025, nilai impor turun 27,63 persen. 

Tiga pemasok barang impor terbesar Januari-April 2026 adalah Tiongkok sebesar US$20,37 juta, diikuti Hong Kong US$9,94 juta, dan Amerika Serikat US$5,29 juta. Tiga besar kelompok komoditas impor April 2026 adalah kain rajutan sebesar US$3,34 juta, kereta api, trem senilai US$1,13 juta, dan filamen buatan US$1,10 juta.

3. Kondisi pelaku usaha

Ilustrasi impor (IDN Times/Arief Rahmat)

Terpisah, Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Yogyakarta, Y. Sri Susilo mengatakan dampak pelemahan rupiah terhadap dolar bagi pelaku usaha berbagai macam. Pertama, bagi usaha yang bahan bakunya dari dalam negeri, melemahnya dolar tidak memberi dampak.

“Kemudian kalau bahan baku impor beli dengan dolar, jualnya tidak ke dolar menjadi masalah. Ada juga yang beli bahan baku dengan dolar, dijual nanti produknya dolar, gak masalah,” ungkap Susilo.

Susilo mengungkapkan bagi usaha yang memanfaatkan bahan baku dari dalam negeri dan mengekspor produknya, akan mendapat keuntungan. “Jadi yang paling beruntung kalau rupiah melemah adalah produsen yang bahan bakunya itu di dalam negeri, beli rupiah, tapi produknya semua dijual ke pasar luar negeri,” ungkap Susilo.

Editorial Team

Related Article