Kepala UPT Kawasan Cagar Budaya Kota Yogyakarta, Ekwanto. (IDN Times/Tunggul Damarjati)
Ekwanto melanjutkan, Jogoboro selalu kewalahan kala akhir pekan tiba, khususnya ketika Malam Minggu. Mereka susah payah memonitor pengunjung di lima zona di kawasan wisata ini.
Memonitor dalam arti mengawasi patuh tidaknya para pengunjung terhadap protokol kesehatan pencegahan penularan corona yang berlaku di area Malioboro dan seputarnya.
"Kewalahan mas. Bertugasnya kewalahan. Karena petugas kami hanya bisa melayani di zona-zona tertentu. Tidak bisa mengurai kerumunan, atau pelanggaran-pelanggaran lainnya karena tidak bisa mobile," paparnya.
Sebut saja, saking penuhnya, Jogoboro bahkan tak bisa membantu menyeberangkan pengunjung cuma demi memastikan aturan satu lajur bagi pejalan kaki diterapkan.
Menurut Ekwanto, pihaknya mengerahkan 36 petugas di tiap akhir pekan. Itu sudah jumlah maksimal dari yang hari biasa cuma kisaran 24 orang saja.
Di satu sisi, UPT Malioboro meminta bantuan dari jajaran Satpol PP serta Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta maupun Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) agar fungsi pengawasan tetap ada. Masing-masing 24 orang.
"Teguran dan sanksi ranah Satpol PP. Kami cuma edukasi saja," tutur dia.