PMK Mewabah Pasar Hewan di Bantul Belum Ditutup, Mengapa?

- 32 sapi di Bantul mati akibat Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)
- 249 ekor lainnya positif PMK, DKPP Bantul belum berencana menutup pasar hewan
- Kondisi pasar hewan relatif sepi, DKPP masih melakukan kajian terkait merebaknya PMK dan penyakit SE
Bantul, IDN Times - Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kabupaten Bantul menyebabkan 32 sapi mati, dan 249 ekor lainnya positif PMK. Hingga saat ini Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) memastikan belum berencana menutup pasar hewan.
1. Alasan pasar hewan tetap dibuka

Kepala DKPP Bantul, Joko Waluyo mengatakan melihat perkembangan PMK, pihaknya belum mengambil keputusan untuk menutup operasional pasar hewan. Hal ini disebabkan perkembangan PMk tidak signifikan.
"Melihat perkembangan PMK yang tidak signifikan, kita belum akan menutup pasar hewan untuk sementara," katanya, Kamis (9/1/2025).
2. Pembatasan lalu lintas ternak kewenangan Pemda DIY

Joko melanjutkan, DKPP Bantul belum melakukan pembatasan lalu lintas ternak mengingat kewenangan tersebut di tingkat Pemda DIY. "Pembatasan lalu lintas ternak itu kewenangan provinsi. Kita juga khawatir ketika pasar hewan ditutup akan berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat," tuturnya.
3. Pasar hewan di Bantul sepi

Joko menjelaskan semenjak PMK merebak, pasar hewan di Kabupaten Bantul relatif sepi. Di Pasar Hewan Imogiri yang biasanya terdapat 800 ekor sapi yang dijual, saat ini turun sampai 20 persen. "Kondisi pasar hewan memang cenderung sepi," tandasnya.
Saat ini DKPP Bantul masih melakukan kajian dan penelitian, sebab terdapat indikasi merebaknya PMK bersamaan dengan penyakit SE (Septicaemia Epizootica), atau penyakit ngorok yang menyerang sapi. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Pasteurella Multocida. "Penyakit SE sering terjadi pada musim hujan dan dapat menyebabkan kematian pada sapi yang daya kekebalan tubuhnya lemah," terangnya.

















