Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
PGRI Sleman Dukung Pembelajaran Tatap Muka di Zona Kuning dan Hijau
IDN Times/Khaerul Anwar

Sleman, IDN Times - Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Sleman mendukung rencana dibukanya kembali pembelajaran tatap muka bagi sekolah yang berada di wilayah zona kuning dan hijau.

Kepala PGRI Sleman, Sudiyo menjelaskan pada prinsipnya pihaknya sangat setuju pembelajaran tatap muka bisa segera dibuka. Meski demikian, ada beberapa protokol kesehatan yang harus dijalankan ketika pembelajaran tatap muka dibuka kembali.

1. Dihadapkan pada dua pilihan yang berat

ilustrasi protokol kesehatan (IDN Times/Mardya Shakti)

Sudiyo memaparkan, sebenarnya saat ini pihaknya dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama berat. Di satu sisi pembelajaran yang tidak bisa maksimal dengan cara daring, di sisi lain pihaknya juga menginginkan agar COVID-19 segera berakhir.

Menurut Sudiyo, ketika nanti pembelajaran tatap muka kembali dilakukan, maka jumlah siswa yang masuk bisa secara bergantian. 50 persen belajar di rumah, 50 persen lainnya belajar di sekolah.

"Tatap muka juga tidak full. Di situ terjadi jaga jarak, karena karena hanya separuh yang berangkat, separuh di rumah. Satu minggu kemudian yang di rumah masuk, yang separuh di rumah, dan itu tidak ada istirahat, sehingga tidak terjadi kerumunan. Begitu masuk langsung pulang," ungkapnya pada Rabu (19/8/2020).

2. Tidak semua mata pelajaran bisa diajarkan secara daring

Ilustrasi sekolah tatap muka (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

Menurut Sudiyo, tidak semua mata pelajaran bisa diajarkan secara daring. Ada mata pelajaran yang tidak mungkin dilakukan secara daring. Seperti halnya praktik elektronika, bengkel, bangunan, dan baca tulis.

"Karena ada beberapa mata pelajaran yang tidak mungkin dilakukan secara daring. Misalnya pelajaran praktik. Yang SMA, praktik elektronik, bengkel, ada bangunan. Untuk kelas bawah seperti SD bagaimana guru bisa ngajar baca tulis," terangnya.

3. Interaksi guru dan siswa akan membentuk karakter

Ilustrasi sekolah tatap muka. IDN Times/Khaerul Anwar

Sudiyo menjelaskan, namanya pembelajaran tidak bisa dilakukan terus-menerus secara daring. Walau bagaimanapun interaksi antara guru dengan siswa akan membentuk sebuah karakter. Karakter itulah yang seharusnya itu menjadi tujuan utama.

"Peran guru tidak akan tergantikan dengan media elektronik. (Ketika luring) siswa akan mengidentifikasi dirinya kepada guru tersebut. Jika tidak pernah ketemu, bagaimana membentuk karakter ini," paparnya.

Editorial Team

Related Article