Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. (IDN Times/Daruwaskita)
Kedua, lanjut Haedar adalah merekonstruksi nilai-nilai luhur UUD 45 dan Pancasila yang menjadi fondasi, alam pikiran, dan orientasi tindakan dari bangunan dasar Indonesia Merdeka.
Ia berpesan secara tegas supaya nilai-nilai luhur tersebut dihayati, dipahami dan tidak kalah penting dijalankan. Serta menjadi bingkai dan arah dalam menyelenggarakan kebangsaan dan kenegaraan.
"Jangan sampai kita membawa Indonesia maju secara fisik, tetapi keropos rohani dan jiwanya. Kehilangan makna dari pembukaan, batang tubuh, UUD 45 dan Pancasila dengan lima silanya yang mendasar, dan spirit perjuangan para pendiri bangsa. Kita boleh merekonstruksi itu, di saat boleh jadi saat ini kita mengalami distorsi, penyimpangan dan peluruhan," paparnya Guru Besar Sosiologi itu.
Haedar menegaskan, perayaan simbolis dan seremonial kemerdekaan jangan sampai tak dibarengi dengan pemaknaan kembali nilai-nilai mendasar yang menjadi fondasi, bahkan konstitusi NKRI. Dengan itu diharapkan Indonesia jelas arah pembangunannya dan tidak keluar jalur.
Ketiga, lanjut Haedar, melakukan konsolidasi kebangsaan. Nilai-nilai di dalam Pancasila wajib dikonsolidasikan menjadi nilai yang hidup dalam seluruh proses penyelenggaraan berbangsa dan bernegara. Termasuk, kewajiban konstitusional dari pusat sampai bawah. Dalam artian, bersama-sama melindungi segenap bangsa dan seluruh Tanah Air Indonesia.
"Melindungi bangsa dan seluruh tanah air Indonesia, memajukan kehidupan, mencerdaskan kehidupan bangsa, melaksanakan ketertiban dunia, semuanya harus menjadi kewajiban konstitusional. Jangan sampai ada satu warga bangsa dan tanah air yang kita abaikan hak-haknya," pesan Haedar.