Perguruan Tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah Luncurkan 24 Program Dokter Spesialis

- Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah meluncurkan 24 Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di UMY, dihadiri Mendiktisaintek Brian Yuliarto.
- Brian menegaskan PPDS tidak boleh dikomersialisasi dan harus tetap inklusif, berorientasi pengabdian serta kualitas dokter spesialis.
- PPDS dinilai peluang menekan warga berobat ke luar negeri dan memperkuat kemandirian sistem kesehatan nasional.
Bantul, IDN Times - Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) menggelar peluncuran 24 Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Acara tersebut berlangsung di Ballroom UMY Student Dormitory pada Jumat (13/2/2026) dan dihadiri Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Mendiktisaintek), Prof. Brian Yuliarto.
Dalam sambutannya, Brian menyampaikan apresiasi atas konsistensi Muhammadiyah yang sejak awal berdiri menjadikan pendidikan dan pelayanan kesehatan sebagai bagian dari amal usaha sekaligus pengabdian sosial.
"Pembukaan PPDS di PTMA harus menjadi bagian dari gerakan Islam berkemajuan yang menjawab persoalan umat melalui penguatan ilmu pengetahuan dan kerja kolektif yang terintegrasi," katanya.
1. Pengembangan PPDS jangan terjebak komersialisasi

Brian secara tegas mengingatkan agar pengembangan PPDS tidak terjebak pada orientasi komersialisasi pendidikan. Ia menekankan tujuan utama program tersebut adalah melahirkan dokter spesialis yang kompeten dan berintegritas, bukan semata mengejar keuntungan finansial.
"Jika kualitas dan niat pengabdian dijadikan prioritas, maka keberlanjutan institusi akan mengikuti secara alami. Jangan sampai PPDS hanya bisa dinikmati oleh orang kaya saja," lanjutnya.
2. Orang Indonesia berobat ke luar negeri jadi tantangan sekaligus peluang

Lebih lanjut, Brian juga menyoroti tingginya angka masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri. Ia menyebut sekitar 10 miliar dolar AS atau setara Rp160 triliun setiap tahun mengalir ke luar negeri untuk layanan kesehatan. Kondisi ini, menurutnya, menjadi tantangan sekaligus peluang bagi institusi pendidikan kedokteran dan rumah sakit di dalam negeri untuk meningkatkan standar layanan hingga berkelas internasional.
Brian pun mendorong PTMA membangun rumah sakit Muhammadiyah yang unggul dan mampu bersaing secara global, sehingga dapat menjadi rujukan bagi pasien internasional.
"Dengan demikian, penguatan PPDS tidak hanya berdampak pada kualitas pendidikan, tetapi juga pada kemandirian sistem kesehatan nasional," tuturnya.
Selain peningkatan mutu layanan, Brian menekankan pentingnya menjaga akses pendidikan kedokteran tetap inklusif. PTMA diminta terus membuka ruang bagi mahasiswa dari latar belakang ekonomi menengah ke bawah agar pendidikan dokter spesialis tidak hanya dinikmati kalangan tertentu.
3. Profesi dokter dan pendidik merupakan ladang amal jariyah

Menurut Brian, profesi dokter dan pendidik merupakan ladang amal jariyah karena ilmu dan pelayanan yang diberikan akan terus memberi manfaat bagi masyarakat. Mengakhiri sambutannya, Brian secara resmi meluncurkan 24 Program Studi PPDS PTMA. Ia berharap langkah tersebut menjadi awal lahirnya dokter spesialis yang unggul secara akademik sekaligus memiliki komitmen sosial yang kuat.
“Semoga ini menjadi bagian dari ikhtiar besar menghadirkan Indonesia yang lebih sehat, lebih adil, dan lebih bermanfaat,” tandasnya.

















