Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pentingnya Kesadaran Kontributif Generasi Muda dalam Politik

Pentingnya Kesadaran Kontributif Generasi Muda dalam Politik
Muda Bicara: Suara Muda dan Integrasi Bangsa Menuju Pemilu dan Pilkada 2024. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo).

Yogyakarta, IDN Times - Anak muda perlu menumbuhkan kesadaran kontributif dalam urusan politik. Kesadaran kontributif tersebut dapat dibangun dari suatu hal yang dianggap menjadi masalah oleh anak muda.

Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan (DPP) Universitas Gadjah Mada (UGM), Abdul Gaffar Karim, mengingatkan agar anak muda tidak apatis terkait urusan politik. 

"Penyebab apatis anak muda itu muak politisi begitu-begitu saja, jadi malas. Kata orang politik itu kotor. Namun, sebenarnya pelakunya saja," kata Gaffar dalam acara Muda Bicara: Suara Muda dan Integrasi Bangsa Menuju Pemilu dan Pilkada 2024 yang dilaksanakan Komite Independen Sadar Pemilu (KISP), di Double O Coffee and Resto, Selasa (27/12/2022).

1. Kesadaran kontributif bisa mengubah keadaan

Ilustrasi Pemilu (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi Pemilu (IDN Times/Arief Rahmat)

Gaffar menyebut kata kunci yang penting bagi generasi muda adalah punya kesadaran kontributif. Ia mengibaratkan seseorang yang memegang sampah. Jika orang berpikir buang sampah sembarangan adalah hal biasa, dan terjadi pada 100 orang, hal tersebut menjadi sebuah masalah.

Jika memiliki kesadaran kontributif, dan berpikir harus bersih tidak buang sampah sembarangan, dan dilakukan 100 orang hal itu akan terwujud.

"Jika anak muda berpikir kontributif, juga akan mengubah politik yang awalnya dinilai kotor, menjadi sesuatu yang bersih," kata Gaffar.

2. Melihat apa yang menjadi permasalahan

Ilustrasi Pemilu (IDN Times/Mardya Shakti)
Ilustrasi Pemilu (IDN Times/Mardya Shakti)

Poin kedua yang harus dibangun pada anak muda adalah bisa melihat apa yang menurut mereka menjadi masalah dalam politik atau pemilu nanti khususnya. Setiap orang menurutnya berbeda-beda dalam mengidentifikasi masalah.

"Ada yang melihat masalah itu politik uang, yaitu dilawan. Gak harus semuanya, dimulai yang menurut kita bermasalah," ucap Gaffar.

Dalam kesempatan ini Gaffar juga menekankan secara khusus terkait Pemilu. Pemilu bukan hanya permasalahan dipilih atau memilih. Pengawasan menjadi hal yang paling utama.

"Layer inti adalah mengawasi. Bahwa prinsip demokrasi adalah kedaulatan rakyat, orang-orang dalam Pemilu harus diawasi," ujarnya.

3. Potensi generasi muda yang besar

Ilustrasi Pemilu (IDN Times/Mardya Shakti)
Ilustrasi Pemilu (IDN Times/Mardya Shakti)

Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DIY, Bayu Mardinta Kurniawan, mengungkapkan potensi dalam pemilu untuk generasi muda, seperti generasi Milenial maupun Gen Z sangat besar. Dikatakan Bayu, pihaknya pun mendorong kolaborasi dengan generasi muda, dalam berbagai aspek.

"Kami mengajak kolaborasi generasi muda juga untuk mendorong pengawasan," kata Bayu.

Diharapkan melalui acara Muda Bicara ini menjadi tempat berkumpul generasi muda untuk mendiskusikan perihal Pemilu dan Pilkada 2024. Mendiskusikan peran gerak generasi muda dalam berkontribusi di Pemilu dan Pilkada 2024. Serta, menjadi tempat untuk berjejaring lintas organisasi bertujuan dalam ikut serta menjadi bagian aktif di Pemilu dan Pilkada 2024.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Herlambang Jati Kusumo
EditorHerlambang Jati Kusumo
Follow Us

Latest News Jogja

See More

Pemkab Bantul Tak Akan Tarik Retribusi Wisatawan ke Gunungkidul

08 Apr 2026, 06:19 WIBNews