Pasangan Harda-Danang Copoti APK yang Dinilai Diskriminasikan Gender

- Spanduk kampanye pasangan calon bupati-wakil bupati Sleman nomor urut 2 viral di media sosial karena dianggap seksis dan mendiskriminasi gender serta agama.
- Danang Maharsa membantah ada instruksi dari timnya untuk memasang spanduk dengan tulisan tersebut, dan mengaku belum mengetahui siapa yang memasangnya.
- Pihak Danang telah memerintahkan tim untuk mencopot seluruh spanduk yang dianggap seksis, serta mengambil pelajaran agar kelompok relawan berkoordinasi dengan timnya untuk kegiatan selanjutnya.
Sleman, IDN Times - Alat peraga kampanye (APK) milik pasangan calon bupati-wakil bupati Sleman 2024 nomor urut 2, Harda Kiswaya-Danang Maharsa viral di media sosial.
Spanduk tersebut viral dan banyak menuai kecaman lantaran dianggap seksis atau mendiskriminasi gender hingga kapitalisasi agama.
1. Milih imam kok wedok, kudune lanang

Dalam foto yang diunggah di media sosial, spanduk itu dianggap seksis karena bertuliskan 'Milih Imam (Pemimpin) Kok Wedok, Jangan Ya Dik Ya! - Imam (Pemimpin) Kudu Lanang'.
Tulisan itu diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berbunyi, "Memilih Imam (Pemimpin) Kok Perempuan, Jangan Ya Dik Ya! - Imam (Pemimpin) Harus Laki-laki'.
2. Harda-Danang membantah, klaim hormati perempuan

Calon wakil bupati nomor urut 2, Danang Maharsa membantah ada instruksi dari timnya untuk memasang spanduk kampanye dengan tulisan itu.
"Nggak adalah, pemikiran sedikitpun terkait dengan perkataan itu. Kita sangat menghormati perempuan, saya saja punya anak dua perempuan, kok malah melecehkan kan gitu. Kan nggak mungkin," kata Danang saat dihubungi, Kamis (17/10/2024).
"Kita sbenarnya selama ini dengan data-data kegiatan kita yang ada, kita selalu aktif dan selalu dekat dengan pemilih kaum perempuan, bisa dicek dengan media kita. Selama ini juga melakukan pendekatan dengan perempuan," ujarnya.
Danang pun mengaku belum mengetahui siapa yang memasang spanduk tersebut. Ia menyatakan kelompok relawannya cukup banyak, sehingga sulit mengontrol satu per satu.
"Akhir-akhir ini kan banyak sekali relawan yang mau mendukung dan merapat ke kita. Lah saking banyaknya itu kita kadang nggak menelaah satu-satu relawan itu darimana, koordinatornya siapa. Ini kan kita baru cari, karena selama ini kita tidak pernah memerintahkan melakukan pembuatan (spanduk) seperti itu," tegasnya.
Danang tak menutup kemungkinan atau indikasi bahwa pemasangan ini merupakan salah satu cara untuk menjatuhkan citra Harda-Danang. "Kita juga kaget. Artinya, kita mencari ini siapa, entah relawan kita atau ada pihak-pihak atau indikasi-indikasi yang mau menjatuhkan," ungkapnya.
3. Sudah dicopot, minta relawan koordinasi

Danang memastikan pihaknya telah memerintahkan tim untuk mencopot seluruh spanduk-spanduk seksis tersebut.
"Sudah, sudah. Kalau terkait itu dari kemarin kita sudah bersihkan, sudah kita perintahkan untuk membersihkan semuanya, di mana pun itu dipasang," ujar Danang.
Danang mengatakan kejadian ini bisa dijadikan pelajaran agar ke depan kelompok relawannya berkoordinasi dengan timnya untuk setiap kegiatan yang dilakukan.
"Jadi pembelajaran semua relawan, saya sebenarnya matur nuwun lah saking banyaknya relawan yang membantu kita, kita apresiasi, kita hormati. Tapi ini nanti selanjutnya harap untuk bisa komunikasi dengan timses kami, khususnya yang bertanggungjawab terhadap relawan untuk mengomunikasikan semua kegiatan dan akan melakukan pemasangan apapun," jelasnya.
















