Pameran budaya visual Kotabaru Indis Abad XX. (Dok. Istimewa)
Pameran Budaya Visual Kotabaru Indis abad XX mengusung tema meringkus budaya Indis dan Jawa dalam satu ruang, dengan menampilkan bangunan cagar budaya berarsitektur Indis - Jawa Omah Kotabaru sebagai tempat pameran, foto pemilik awal rumah, benda-benda terkait perkembangan sosial budaya Indis-Jawa seperti kain batik dan baju kebaya, peralatan makan dan minum, lukisan dan buku. Pameran itu terbuka untuk umum dan gratis.
“Ini yang kemudian kita visualisasikan. Apa saja perkembangan sosial budaya dan kesejarahannya, khususnya di Kotabaru yang kita buat pameran ini. Salah satunya justru venue (pameran) tempat ini adalah representasi dari Kotabaru sebagai kawasan Indis yang punya sejarah dan latar belakang budaya dan masih eksis sampai hari ini. Bangunan ini salah satu ciri khas Kotabaru yang punya fasad Indis,” jelas Yetti.
Omah Kotabaru awalnya diduga menjadi hunian para pekerja kelas atas pabrik gula di Yogyakarta. Namun kedatangan Jepang pada tahun 1942 memaksa mereka meninggalkan kediamannya. Jepang kemudian menjual aset rumah itu kepada bumiputera dan para bangsawan Jawa. Raden Ngabehi Prajapangarsa kerabat dari Keraton Surakarta menjadi pemilik beberapa rumah di Kotabaru, salah satunya Omah Kotabaru. Kini rumah itu ditempati oleh cucu atau generasi ketiga dari Raden Ngabehi Prajapangarsa bernama Chandra Lukitasari.