Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pameran Art in Focus, Postcard Jadi Medium Seni yang Intim

Pameran Art in Focus, Postcard Jadi Medium Seni yang Intim
Pameran Art in Focus, di Kavach Space pada Senin (13/7/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
Intinya Sih
  • Pameran Art in Focus di Kavach Space menampilkan 120 karya dari 70 seniman lokal dan internasional dengan medium kartu pos, menghadirkan pengalaman seni yang lebih intim dan inklusif.
  • Postcard dipilih karena sifatnya personal dan kembali diminati seiring tren budaya analog, menjadikan karya lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari serta mudah dijangkau publik muda.
  • Salah satu karya menonjol, Need More Sunday oleh Sony Sunday, mengangkat nostalgia masa kecil melalui karakter ikonik dan menunjukkan potensi reproduksi digital sebagai medium seni terjangkau.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Sleman, IDN Times – Ruang pamer tak selalu berada di galeri seni konvensional. Hal itu ditunjukkan Kavach melalui pameran Art in Focus: Sight, Space, & Stories yang berlangsung di Kavach Space, Jalan Kaliurang No.11, Manggung, Caturtunggal, Depok, Sleman, pada Senin (13/7/2026) - Senin (31/8/2026). Mengusung medium kartu pos (postcard), pameran ini menghadirkan sekitar 120 karya dari 70 seniman dari Indonesia maupun luar negeri.

Creative Director Kavach sekaligus Kurator Pameran, Antino Restu, mengatakan pameran ini bagian gerakan yang dibangun Kavach untuk memberi ruang bagi para seniman sekaligus mempertemukan seni dengan gaya hidup.

"Ini sebenarnya proyek dari Kavach. Kami punya movement untuk merepresentasikan teman-teman yang berkarya. Karena itu kami memilih medium postcard agar bisa melibatkan lebih banyak seniman dan menghadirkan pengalaman yang lebih intim di ruang yang menyatu dengan brand kacamata," ujar Antino saat pembukaan pameran, Senin (13/7/2026) malam.

1. Seniman dibebaskan dalam berkarya

Creative Director Kavach sekaligus Kurator Pameran, Antino Restu.
Creative Director Kavach sekaligus Kurator Pameran, Antino Restu. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Menurut Antino, tidak ada tema khusus yang dibatasi dalam pameran. Setiap seniman diberi kebebasan merespons ruang melalui karya masing-masing selama tidak mengandung unsur SARA.

Proses kurasi dilakukan melalui mekanisme open call dan undangan kepada sejumlah seniman yang sebelumnya pernah berkolaborasi dengan berbagai brand di bawah Kavach. Antusiasme peserta pun disebut cukup tinggi hingga pendaftaran ditutup masih banyak seniman yang ingin berpartisipasi.

"Kami tidak membatasi tema. Kami ingin memberi ruang kepada seniman untuk menyuarakan apa pun melalui karya mereka. Yang paling menarik justru antusiasmenya sangat besar karena medianya kecil sehingga lebih mudah diikuti banyak seniman," katanya.

Karya yang dipamerkan pun beragam, mulai lukisan, art print, fotografi hingga kolase. Sebagian karya berasal dari seniman luar daerah bahkan luar negeri yang mengirimkan file digital untuk dicetak sesuai spesifikasi yang diminta kurator.

Selain menjadi ruang apresiasi seni, pameran juga menjadi bagian dari identitas Kavach yang selama ini dekat dengan dunia seni rupa melalui brand Vherkudara. "Di toko ini kami ingin ada ruang yang bukan hanya untuk menjual produk, tetapi juga menjadi movement seni. Ke depan sangat mungkin para seniman yang terlibat akan diajak berkolaborasi dalam proyek produk," tambah Antino.

2. Postcard jadi medium yang kembali diminati

WhatsApp Image 2026-07-13 at 20.21.30-2.jpeg
Pameran Art in Focus, di Kavach Space pada Senin (13/7/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Dosen Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta, kurator sekaligus seniman visual, Arsita Pinandita atau Dito menilai pemilihan postcard menjadi sesuatu yang menarik di tengah tren seni anak muda saat ini.

Menurutnya, postcard merupakan medium yang lebih personal dibanding media seni konvensional seperti kanvas atau patung. Di sisi lain, medium tersebut kembali diminati seiring bangkitnya tren budaya analog.

"Postcard itu medium yang sangat intim. Dulu mungkin mulai ditinggalkan, tetapi sekarang ketika tren analog kembali seperti kaset, vinyl, dan kamera analog, postcard juga mulai diangkat lagi oleh anak muda," ujarnya.

Ia menilai karya yang ditampilkan dalam pameran ini dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga terasa lebih jujur dan mudah dinikmati publik di luar ruang galeri. Dito juga melihat kecenderungan seniman muda kini lebih banyak memproduksi karya dalam bentuk art print atau reproduksi berkualitas tinggi dibanding hanya membuat karya tunggal.

"Sekarang yang dibicarakan bukan hanya visualnya, tetapi mediumnya. Art print memungkinkan karya hadir dalam beberapa seri sehingga lebih dekat dengan lifestyle dan lebih mudah dijangkau masyarakat," jelasnya.

3. Kenangan masa kecil jadi inspirasi

Creative Director Kavach sekaligus Kurator Pameran, Antino Restu.
Pameran Art in Focus, di Kavach Space pada Senin (13/7/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Salah satu peserta pameran, Sony Sunday, menghadirkan karya berjudul Need More Sunday yang mengangkat nostalgia masa kecil. Ia menggambarkan kehidupan orang dewasa yang terasa membutuhkan lebih banyak hari Minggu dibanding ketika masih kecil, saat akhir pekan hanya diisi menonton kartun tanpa beban.

"Aku merasa sekarang butuh lebih banyak hari Minggu. Waktu kecil rasanya satu hari sudah cukup karena yang dipikirkan cuma kartun dan PR sekolah," katanya.

Karya tersebut menampilkan karakter favorit masa kecil seperti Kamen Rider, Speed Racer hingga Voltes V. Awalnya karya dibuat sebagai lukisan minyak berukuran 40 x 60 sentimeter yang telah terjual seharga sekitar Rp12 juta, kemudian direproduksi menjadi postcard melalui digital printing.

Menurut Sony, perkembangan teknologi cetak saat ini membuat reproduksi karya tetap mampu mempertahankan kualitas visual. Ia juga melihat medium seperti art print maupun postcard membuka peluang lebih luas bagi seniman untuk menjangkau publik karena harganya jauh lebih terjangkau dibanding lukisan asli.

"Kalau art print biasanya di kisaran Rp200 ribu sampai Rp500 ribu dan bisa terjual ratusan lembar. Jadi sekarang bukan hanya kolektor besar yang bisa menikmati karya seni," ujarnya.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari

Latest News Jogja

See More