Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Nelayan Bantul Gagal Raup Cuan Ikan Bawal Jelang Imlek

Nelayan Bantul Gagal Raup Cuan Ikan Bawal Jelang Imlek
Ikan bawal tangkapan nelayan Bantul yang harganya melonjak jelang Imlek.(IDN Times/Daruwaskita)
Intinya Sih
  • Nelayan Bantul tidak melaut selama 10 hari karena cuaca buruk yang menyebabkan gelombang tinggi, angin kencang, dan hujan.
  • Harga ikan bawal melonjak tajam menjelang Imlek, namun tangkapan ikan bawal terbilang langka sehingga nelayan beralih menangkap ikan layur.
  • Sebagian nelayan memilih membawa alat tangkap untuk ikan layur yang dianggap lebih menjanjikan karena harga murah dan lebih mudah ditangkap dibandingkan ikan bawal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bantul, IDN Times -  Harapan nelayan Bantul untuk mendapatkan tangkapan ikan bawal dan meraup cuan jelang Imlek pupus sudah. Dalam 10 hari terakhir, mereka gagal melaut akibat cuaca buruk yang tidak bersahabat. Padahal, harga ikan bawal yang sempat melonjak tajam diperkirakan akan kembali normal pada H-7 Imlek karena ikan tersebut biasa diekspor.

1. Sudah 10 hari nelayan tak melaut akibat cuaca tak bersahabat

Gelombang tinggi nelayan Bantul tak melaut.(IDN Times/Daruwaskita)
Gelombang tinggi nelayan Bantul tak melaut.(IDN Times/Daruwaskita)

Salah satu nelayan Pantai Depok, Agus, mengatakan bahwa sejak Senin (13/1/2025) hingga Rabu (22/1/2025), tidak ada nelayan yang melaut. Akibatnya, tidak ada hasil tangkapan, termasuk ikan bawal yang biasanya banyak diburu menjelang Imlek.

"Gelombang tinggi disertai angin kencang dan terkadang hujan menyebabkan nelayan tak bisa melaut," ucapnya, Rabu (22/1/2025).

2. Harga ikan bawal kembali normal pada H-7 Imlek

Ikan bawal tangkapan nelayan Bantul.(IDM Times/Daruwaskita)
Ikan bawal tangkapan nelayan Bantul.(IDM Times/Daruwaskita)

Agus mengakui bahwa menjelang Imlek, harga ikan bawal biasanya melonjak tajam, bahkan bisa naik hingga 100 persen. Pada hari biasa, ikan bawal dengan bobot di atas setengah kilogram dijual seharga Rp200 ribu per kilogram. Namun, menjelang Imlek, harganya bisa mencapai Rp400 ribu per kilogram.

"Harga ikan bawal itu berlaku hingga H-7 Imlek jadi kalau besuk atau pekan depan nelayan bisa turun melaut dan hasil tangkapan ikan bawal maka harga sudah normal yakni Rp200 ribu untuk ikan dengan bobot diatas setengah kilogram," ucapnya.

Meski harga naik, Agus menyebut bahwa sejak akhir Desember hingga pertengahan Januari 2025, tangkapan ikan bawal terbilang langka. Hanya segelintir nelayan yang beruntung bisa mendapatkannya, sementara yang lain justru pulang dengan tangan kosong.

"Nelayan lebih banyak berburu ikan layur yang lebih mudah ditangkap dibandingkan membawa jaring untuk menangkap ikan bawal namun hasilnya nihil," ucapnya. "Imlek tahun ini memang langka ikan bawal, nelayan tak dapat rejeki dari ikan bawal," tambah dia.

3. Musim ikan bawal biasanya di bulan Januari-Februari

Hasil tangkapan ikan dijual kepada wisatawan di Pantai Depok Bantul.(IDN Times/Daruwaskita)
Hasil tangkapan ikan dijual kepada wisatawan di Pantai Depok Bantul.(IDN Times/Daruwaskita)

Sementara, nelayan Pantai Samas yang kini melaut di Pantai Baru, Kapanewon Srandakan, Tri Jarwanto, mengaku bahwa jelang Imlek tahun ini ikan bawal terbilang langka. Karena itu, banyak nelayan yang memilih membawa alat tangkap untuk ikan layur yang dianggap lebih menjanjikan.

"Harga ikan layur terbilang murah hanya Rp27 ribu per kilogram namun lebih mudah ditangkap dibandingkan ikan bawal," ujarnya.

Tri menyebut bahwa Januari dan Februari biasanya menjadi musim ikan bawal dan layur. Namun, tahun ini ikan bawal sulit ditemukan, sehingga hanya nelayan beruntung yang bisa mendapatkannya.

"Biasanya Imlek kan bulan Februari ya, tapi Imlek tahun ini di akhir bulan Januari. Kita Ndak tahu kalau usai Imlek justru ikan bawal 'meledak di laut. Ya tapi harganya sudah turun jauh dibandingkan sebelum Imlek," tuturnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hironymus Daruwaskita
Paulus Risang
Hironymus Daruwaskita
EditorHironymus Daruwaskita
Follow Us

Latest News Jogja

See More