Ilustrasi pajet wisata dengan mobil Jip. (IDN Times/Siti Umaiyah)
Sultan menaruh harap pada revisi cuti bersama yang disepakati melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 menteri dalam meminimalkan pergerakan masyarakat saat momen libur Lebaran nanti.
Pasalnya, Sultan meyakini lamanya waktu libur berpengaruh tinggi rendahnya mobilitas warga atau wisatawan.
"(Lebaran) mereka datang untuk silaturahmi, mungkin 2-3 hari jalan-jalan sepi. Tapi, habis 2-3 hari baru mereka berwisata. Polanya kan seperti itu," tutur Sultan
"Kalau saya, ya, lebih cenderung tidak dilarang tapi jumlah harinya misalnya kemarin itu bisa 5 hari sampai seminggu, ya, sekarang gak usah seperti itu. Silaturahmi 2-3 hari aja sudah selesai. Mengurangi ruang orang untuk termobilisasi yang tidak bisa menerapkan 5M secara baik itu," sambung dia.
Jika memang pariwisata yang memancing kedatangan para warga luar daerah, Sultan juga percaya bahwa dibutuhkan pertimbangan matang untuk menutup destinasi wisata di DIY.
"Menutup bisa saja, tetapi apakah kabupaten setuju? Objeknya juga setuju? Merekanya juga butuh makan. Kan tidak semudah itu. Menutup gampang, tapi pemda mau modali makan mereka gak? Kira-kira sanggup gak?" tandasnya.