Lapak Pedagang di Bibir Pantai Depok Bantul Semrawut, Wisatawan Kecewa

- Pantai Depok semrawut karena lapak pedagang tak tertata
- Wisatawan kesal dan merasa terbatas geraknya di pantai
- Ketua Koperasi Wisata Mina Bahari 45 Pantai Depok kesulitan menata pedagang
Bantul, IDN Times - Wisatawan yang berkunjung ke Pantai Depok, Kabupaten Bantul, mengeluhkan kondisi lapak pedagang semi permanen yang semakin semrawut di sepanjang garis pantai. Kehadiran lapak tersebut dinilai mengurangi keindahan dan kenyamanan wisatawan saat menikmati suasana pantai yang dikenal dengan kuliner seafoodnya.
Salah satu wisatawan asal Sleman, Slamet (55), mengaku kaget melihat kondisi Pantai Depok yang kini semakin menjorok ke daratan dan dipenuhi lapak pedagang. “Jarak pantai ke laut cukup dekat, penuh dengan lapak pedagang yang bikin tambah semrawut kondisi pantai,” ungkapnya, Minggu (30/11/2025).
1. Pantai Depok tampak kumuh

Slamet berharap pengelola Pantai Depok menata kembali lapak pedagang yang dinilai memperburuk citra pantai. Menurutnya, kondisi tersebut membuat wisatawan tidak leluasa untuk bersantai atau bermain air karena area pantai dipenuhi bangunan yang tidak tertata.
“Kalau dibiarin seperti ini pantai tampak kumuh, wisatawan juga terbatas geraknya ketika ingin bermain di pantai,” tandasnya.
2. Lapak pedagang tak tertata bikin wisatawan kapok untuk datang lagi

Wisatawan lainnya, Woro (42), juga merasa kurang nyaman dengan lapak pedagang yang berdiri tidak beraturan di sepanjang bibir pantai. Menurutnya, kondisi tersebut membuat kawasan tampak kumuh dan ruang bermain wisatawan menjadi semakin sempit karena garis pantai kini lebih dekat dengan laut.
“Lha kalau tidak ditata para pedagang ini justru bikin kapok wisatawan untuk datang lagi,” ucapnya.
3. Pusing menata pedagang yang susah ditata

Ketua Koperasi Wisata Mina Bahari 45 Pantai Depok, Sutarlan, mengatakan pihaknya sudah berulang kali mengingatkan pedagang agar tidak mendirikan lapak di bibir pantai. Namun imbauan tersebut tetap tidak diindahkan.
“Kita sudah beri teguran tapi tetap ‘ngeyel’. Lapak hancur akibat gelombang pasang ya dibangun lagi,” ucapnya.
“Pusing kalau urusan dengan ‘perut’ itu. Ibarat ada gula ada semut, pinggir pantai paling banyak pengunjungnya sehingga nekat buat lapak untuk dagang,” tambahnya.



















