Musyawarah Kretek Nasional 2026, di Akademi Bahagia EA. (Dok. Istimewa)
Sebanyak 15 komunitas mengikuti Musyawarah Kretek Nasional 2026. Mereka berasal dari berbagai daerah, mulai dari Temanggung, Magelang, Kebumen, Semarang, Kudus, Jember, Garut, Bandung, Situbondo, Wonosobo, Rembang, Pamekasan, Yogyakarta, Sumenep, hingga Nganjuk.
Komunitas yang terlibat yakni Universitas Balakarta - Temanggung, Ruka Tiga - Magelang, Gubug Kreatif Jatiteken Kulon - Kebumen, Resonansi Collective - Semarang, PC PMII Kudus, Peduli Bako - Jember, Malire - Garut, Sunda Mentang - Bandung, Tore Maca - Situbondo, Wonosobo Bermeditasi, Kalijati - Rembang, Ampart Institut - Pamekasan, Filosotoy - Jogja, Lesbumi - Sumenep, serta Kabinet Satya Mandala BEM ITM - Nganjuk.
Selama musyawarah, para peserta mendapatkan pembekalan mengenai lanskap industri kretek. Mereka juga mendiskusikan berbagai persoalan yang berkaitan dengan kretek, termasuk sejumlah regulasi yang dinilai dapat memengaruhi keberlangsungan industri hasil tembakau.
Juru Bicara Komunitas Kretek, Khoirul Atfifudin atau Atfi, mengatakan pertemuan tersebut menjadi upaya memperkuat konsolidasi berbagai elemen yang terlibat dalam industri hasil tembakau, dari hulu hingga hilir.
“Tujuan diadakannya Musyawarah Kretek Nasional 2026 ini adalah mengumpulkan berbagai simpul dari berbagai kota demi perjuangan seluruh elemen yang terlibat dalam Industri Hasil Tembakau (IHT) dari hulu hingga hilir,” ujar Atfi, Sabtu (3/10/2026).
Menurut dia, konsolidasi tersebut juga menjadi respons terhadap berbagai intervensi dan kebijakan yang dinilai mengancam eksistensi kretek di Indonesia.