Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Screening di Jogja, GJLS: Berapi-Api Angkat Komedi Petugas Damkar

Kota Yogyakarta
5 min read
Screening di Jogja, GJLS: Berapi-Api Angkat Komedi Petugas Damkar
Special screening GJLS: Berapi-Api di XXI Jogja City Mall, pada Senin (19/10/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Film GJLS: Berapi-Api menampilkan Rigen, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir sebagai petugas damkar, menggabungkan komedi, persahabatan, keluarga, drama, dan romansa.
  • Menjelang rilis 5 November 2026, film ini menggelar special screening di Yogyakarta serta menghadirkan Bus Wahana Damkar GJLS dalam tur promosi.
  • Para pemain menghadapi tantangan syuting, dari kostum berat, latihan api dan selang pemadam, hingga adegan menangkap ular kobra di ruang sempit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sleman, IDN Times – Trio komika GJLS kembali meramaikan layar lebar lewat film komedi aksi terbaru bertajuk GJLS: Berapi-Api. Berbeda dari film sebelumnya yang mengangkat persoalan keluarga, kali ini Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir berhadapan dengan api dan berbagai situasi tak terduga saat memerankan petugas pemadam kebakaran.

Menjelang penayangan resminya pada Kamis (5/11/2026), film persembahan Amadeus Sinemagna dan GJLS Entertainment ini menyapa penonton di Yogyakarta melalui rangkaian special screening di XXI Jogja City Mall, pada Senin (19/10/2026). Selain menonton film lebih awal, penonton juga bisa merasakan pengalaman interaktif melalui Bus Wahana Damkar GJLS yang menjadi bagian dari tur promosi film tersebut.

Film ini menjadi karya layar lebar kedua GJLS setelah Ibuku Ibu-ibu yang dirilis pada 2025. Film pertamanya mencuri perhatian melalui komedi absurd, termasuk penggunaan adegan bloopers sebagai bagian dari sajian cerita. Sementara itu, GJLS: Berapi-Api mencoba menghadirkan komedi yang lebih mudah dinikmati oleh penonton umum tanpa meninggalkan ciri khas humor mereka.

  1. 1. GJLS beralih dari persoalan keluarga ke dunia pemadam kebakaran

    Special screening GJLS: Berapi-Api di XXI Jogja City Mall, pada Senin (19/10/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
    Special screening GJLS: Berapi-Api di XXI Jogja City Mall, pada Senin (19/10/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Dalam film yang kembali disutradarai Monty Tiwa ini, Rigen, Rispo, dan Hifdzi memerankan tiga sahabat yang sejak kecil bercita-cita menjadi petugas pemadam kebakaran. Mimpi tersebut akhirnya terwujud. Namun, setelah menjalani profesi yang mereka impikan, ketiganya justru menemukan bahwa pekerjaan petugas damkar tidak selalu berlangsung heroik seperti yang mereka bayangkan.

    Mereka harus menghadapi berbagai situasi berbahaya dan tidak terduga, termasuk memadamkan api serta melakukan penyelamatan hewan. Situasi itulah yang menjadi sumber komedi sekaligus tantangan bagi ketiganya.

    Co-Produser film GJLS: Berapi-Api, Fiqi Wandiya Septamengatakan, film kedua ini dikembangkan dengan formula komedi yang berbeda dari film pertama. Jika Ibuku Ibu-ibu cenderung absurd dan tidak selalu mudah dipahami oleh semua kalangan, film terbaru ini dirancang agar lebih dekat dengan penonton luas, termasuk keluarga.

    “Untuk GJLS: Berapi-Api ini, kita membuat formula bersama teman-teman dari GJLS sendiri, di mana kita menemukan komedi yang bisa dinikmati oleh orang umum selain GJLSer, dan juga bisa dinikmati oleh keluarga,” ujarnya.

    Selain komedi, film ini juga meramu unsur persahabatan, keluarga, drama, dan romansa. Berbagai elemen tersebut melengkapi kisah tiga sahabat yang harus beradaptasi dengan profesi impian mereka.

  2. 2. Kisah petugas damkar dipilih karena dekat dengan masyarakat

    Special screening GJLS: Berapi-Api di XXI Jogja City Mall, pada Senin (19/10/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
    Special screening GJLS: Berapi-Api di XXI Jogja City Mall, pada Senin (19/10/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Pemilihan profesi pemadam kebakaran bukan tanpa alasan. Menurut produser, petugas damkar memiliki ruang tugas yang luas, bahkan sering kali melampaui urusan memadamkan kebakaran.

    Mulai dari mengevakuasi ular hingga melakukan animal rescue, berbagai kejadian yang ditangani petugas damkar dinilai memiliki sisi unik dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

    “Damkar ini mengisi celah-celah kosong di antara kedinasan lainnya. Banyak kejadian-kejadian lucu. Contohnya penyelamatan ular, animal rescue, dan lain-lainnya. Itu semua warga ingin ke Damkar,” jelas Fiqi.

    Beragam situasi tersebut menjadi landasan bagi tim produksi untuk membangun cerita yang tidak hanya mengandalkan humor, tetapi juga terasa relevan dengan pengalaman masyarakat sehari-hari.

    Respons penonton dalam pemutaran khusus di Yogyakarta pun membuat produser merasa senang. Ia mengaku puas melihat penonton tertawa selama film diputar. Respons tersebut sesuai dengan harapan tim produksi untuk memperluas jangkauan komedi GJLS.

  3. 3. Rigen ungkap tantangan syuting, dari kostum sempit hingga ular kobra

    Special screening GJLS: Berapi-Api di XXI Jogja City Mall, pada Senin (19/10/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
    Special screening GJLS: Berapi-Api di XXI Jogja City Mall, pada Senin (19/10/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Memerankan petugas pemadam kebakaran ternyata menghadirkan tantangan tersendiri bagi para pemain. Rigen Rakelna mengungkapkan, salah satu pengalaman yang paling diingat justru berkaitan dengan kostum.

    Saat proses syuting, ia bersama kedua rekannya kerap menghabiskan waktu istirahat dengan berburu makanan. Jadwal pengambilan gambar yang beberapa kali terganggu hujan membuat mereka memiliki waktu luang untuk jajan.

    Kebiasaan tersebut berdampak pada ukuran kostum yang semula pas di badan, tetapi kemudian mulai terasa sempit. “Karena kita ngumpul bertiga terus dan kerjaannya jajan terus. Waktu itu banyak waktu kosong karena syuting banyak hujan. Hujan, jajan, beli bakso, beli apa segala macam,” kata Rigen.

    Ia bahkan mengaku sempat ditegur kru bagian kostum karena pakaian yang dikenakannya mulai tidak muat. Pengalaman itu menjadi cerita tersendiri selama proses produksi film.

    Tantangan yang lebih serius muncul ketika para pemain harus menjalani adegan penyelamatan hewan, termasuk menangkap ular kobra. Rigen mengaku benar-benar merasa takut saat harus berhadapan langsung dengan ular di ruangan sempit.

    “Kita agak kesulitan direscue binatang, mengenai menangkap ular. Adegan menangkap ular itu takutnya benar-benar takut, karena ularnya benar-benar ada di ruangan kecil itu. Kobra lagi,” tuturnya.

    Para pemain juga menjalani latihan untuk adegan pemadaman api. Rigen menyebut pakaian pelindung yang dikenakannya memiliki berat sekitar 10 kilogram dalam kondisi kering dan bisa menjadi jauh lebih berat ketika basah. Mereka juga harus beradaptasi dengan tekanan air dari selang pemadam serta berlatih menghadapi api sungguhan dengan kobaran yang disebut mencapai sekitar empat hingga lima meter.

    Menurut Rigen, latihan tersebut membuat para pemain memahami bahwa pekerjaan petugas damkar membutuhkan kesiapan fisik dan kemampuan mengendalikan diri dalam situasi berbahaya. Para pemain dilatih agar tidak panik ketika berhadapan dengan api, sedangkan petugas damkar harus mampu bergerak secara terampil saat menjalankan penyelamatan.

    Selain trio GJLS, GJLS: Berapi-Api turut dibintangi Carissa Perusset, Aurra Kharisma, Indira Ayu Maharani (Inayma), Ebel Cobra, Grace Emmanuela, Yono Bakrie, Nigel Siwabessy, Rio Dumatubun, dan Sadha Triyudha.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More