Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Film Empat Musim Pertiwi Soroti Isu Kekerasan Seksual Perempuan

Kota Yogyakarta
4 min read
Film Empat Musim Pertiwi Soroti Isu Kekerasan Seksual Perempuan
Produser Film Empat Musim Pertiwi, Ifa Isfansyah. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Film Empat Musim Pertiwi mengangkat kekerasan seksual terhadap perempuan, berangkat dari pengembangan cerita sejak 2017 dan dorongan untuk terus mendampingi korban meski regulasi telah disahkan.

  • Karya Kamila Andini memadukan realisme, fiksi, dan metafora untuk menggambarkan pengalaman batin korban serta membuka pembicaraan mengenai isu sensitif tanpa kehilangan kekuatan emosional.

  • Film ini menekankan pentingnya mempercayai korban, melalui perjalanan Pertiwi melawan luka masa lalu dan ketimpangan kuasa yang dapat menyulitkan korban memperjuangkan haknya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Yogyakarta, IDN Times - Film Empat Musim Pertiwi tidak sekadar menghadirkan cerita fiksi, tetapi juga membawa isu kekerasan seksual terhadap perempuan yang masih menjadi persoalan di Indonesia. Melalui film garapan sutradara Kamila Andini ini, produser Ifa Isfansyah ingin menyuarakan pengalaman para korban sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih berani membicarakan isu tersebut.

“Film-film yang saya buat itu sebenarnya film-film yang memang berbasis isu yang pengen disampaikan,” ujar Ifa, di XXI Empire Yogyakarta, Selasa (13/10/2026) malam.

Menurutnya, isu perempuan menjadi salah satu perhatian Kamila dalam karyanya. Proses pengembangan cerita Empat Musim Pertiwi berlangsung sejak 2017, ketika pembahasan Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS) menjadi salah satu konteks yang melatarbelakangi pengembangan gagasan film tersebut.

Meski regulasi terkait kekerasan seksual telah disahkan, Ifa menilai pendampingan terhadap korban dan pembicaraan mengenai persoalan ini masih perlu terus dilakukan. Film menjadi salah satu medium untuk membuka ruang pembicaraan tersebut.

“Ceritanya berkembang terus sampai sekarang disahkan pun sebenarnya kita masih terus harus mendampingi. Itu yang kami rasa memang harus mulai ada film-film yang berani membicarakan isu itu,” katanya.

  1. 1. Penggabungan realitas dan fiksi untuk gambarkan pengalaman korban

    FourSeasonsInJava_Still 02.jpeg
    Empat Musim Pertiwi. (Dok. Istimewa)

    Dalam menyampaikan isu kekerasan seksual, Empat Musim Pertiwi memadukan pendekatan realis dengan unsur fiksi dan metafora. Menurut Ifa, pilihan tersebut menjadi cara untuk menggambarkan perasaan dan pengalaman karakter yang tidak selalu bisa dijelaskan secara gamblang.

    Ia menjelaskan, film merupakan medium audiovisual yang memungkinkan pembuatnya menyampaikan pengalaman batin karakter melalui beragam pendekatan artistik. Terlebih, para tokoh dalam film tersebut memiliki sisi yang kompleks dan tidak selalu mudah dipahami hanya melalui penggambaran realitas secara langsung.

    Karena itu, pendekatan realis kemudian dipadukan dengan fiksi dan metafora agar pengalaman para karakter dapat tersampaikan kepada penonton. “Dua sisi yang rasanya itu memang paling pas digambarkan dengan sesuatu yang realis, kemudian kita tarik ke fiksi, terus kemudian realis kita tarik ke metafor,” ujar Ifa.

    Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya film untuk membicarakan isu sensitif tanpa kehilangan kekuatan emosionalnya. Realitas yang dialami korban tidak hanya ditampilkan melalui peristiwa, tetapi juga melalui suasana, simbol, dan perjalanan karakter.

  2. 2. Mengajak masyarakat untuk percaya kepada korban

    Pesan mengenai pentingnya mempercayai korban menjadi salah satu hal yang ingin disampaikan melalui Empat Musim Pertiwi. Ifa mengatakan, ketika berhadapan dengan sebuah kasus, masyarakat kerap dihadapkan pada pilihan untuk percaya atau tidak percaya terhadap pengalaman yang disampaikan seseorang.

    Menurutnya, pengalaman kekerasan yang dialami korban merupakan realitas yang perlu mendapat perhatian. Karena itu, kepercayaan menjadi langkah awal yang penting sebelum proses penanganan kasus berjalan lebih jauh.

    “Yang paling penting adalah ya kita harus percaya dulu. Selebihnya ya kita bisa mengikuti prosesnya, tapi percayaannya juga penting,” katanya.

    Pesan tersebut berkelindan dengan kisah Pertiwi, tokoh utama yang diperankan Putri Marino. Setelah menjalani hukuman penjara selama 20 tahun, Pertiwi kembali ke kampung halamannya untuk menata hidup. Namun, kepulangannya justru mempertemukannya kembali dengan lingkungan yang menyimpan luka masa lalu.

    Pertiwi tidak mendapat sambutan seperti yang diharapkan. Orangtuanya menentang kepulangannya, sementara sahabatnya, Niken (Hana Malasan), telah menikah dengan mantan kekasihnya, Bisma (Arya Saloka).

    Di tengah situasi tersebut, Pertiwi menemukan seorang gadis tuli yang mengingatkannya pada masa lalu. Pengalaman itu mendorongnya berusaha memutus mata rantai kekerasan dan menghadapi orang-orang yang dahulu bertanggung jawab atas penderitaannya. Dengan bantuan orang-orang yang juga terpinggirkan, Pertiwi berupaya melawan kekuatan yang selama ini membentuk kehidupan di desanya.

  3. 3. Lukman Sardi sebut Empat Musim Pertiwi adalah film penting

    Aktor Lukman Sardi turut mengapresiasi keberanian Empat Musim Pertiwi dalam mengangkat isu kekerasan seksual terhadap perempuan. Menurutnya, film tersebut memperlihatkan bagaimana korban dapat berada dalam posisi yang lemah ketika berhadapan dengan kekuasaan dan ketimpangan hukum.

    Ia menyoroti situasi ketika orang yang memiliki uang dan kuasa dapat memengaruhi keadaan, sementara korban justru kesulitan mendapatkan kekuatan untuk memperjuangkan haknya. Bagi Lukman, salah satu keunggulan film ini terletak pada kemampuannya menyampaikan persoalan tersebut melalui simbol-simbol yang kuat.

    “Buat aku ini film yang penting ya. Film yang penting untuk Indonesia dan juga bagaimana kita bicara tentang isu yang sangat penting di Indonesia,” ujar Lukman.

    Ia menilai, isu kekerasan seksual masih jarang diangkat melalui film dengan pendekatan artistik yang mampu membuat penonton merasakan persoalan yang dialami para karakter.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More